Dinas Damkar Kabupaten Bogor.

Kemarau, Dinas Damkar Khawatir Kebakaran Bertambah

BOGOR-KITA.com –  Dinas Pemadam kebakaran (Damkar) Kabupaten Bogor mengkhawatirkan bencana kebakaran akan bertambah menyusul kemarau berkepanjangan.

“Pada semester pertama tahun 2019, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bogor mencatat sebanyak 117 kebakaran terjadi. Itu data kita dari bulan Januari sampai Juli 2019. Ada 117 kebakaran, 4 di antaranya terjadi di bulan Juli ini,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Damkar Kabupaten Bogor, Zaharry di Cibinong, Rabu (24/7/2019).

Berdasarkan pengalaman tahun lalu, Zaharry mengatakan, ada lima kecamatan yang rawan terjadi kebakaran di Kabupaten Bogor. Yakni Kecamatan Cibinong, Cileungsi, Gunungputri, Citereup dan Kecamatan Kemang. 

“Saat itu sebanyak 67 bencana kebakaran terjadi di lima kecamatan tersebut. Kebakaran melanda rumah, toko, pabrik dan lain sebagainya. Kita imbau masyarakat untuk tetap waspada, apalagi saat ini Kabupaten Bogor memasuki musim kemarau yang sangat berpotensi terjadinya kebakaran,” tegasnya.

Menurut Zaharry, kebakaran di musim kemarau seperti saat ini sangat mudah terjadi. “Rumput yang kena puntung rokok saja api bisa langsung besar. Ini adalah dampak kekeringan. Masyarakat harus terus waspada,” tegas dia.

Baca juga  Corona di Bogor Kota dan Kabupaten Kian Menakutkan

Akibat musim kemarau di Kabupaten Bogor, saat ini tujuh kecamatan mengalami kekeringan parah. Bahkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menetapkan status tanggap darurat hingga Oktober 2019 nanti.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Dede Armansyah menjelaskan, status itu dikeluarkan merujuk status awas potensi kekeringan yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Status tanggap darurat berlaku mulai 1 Agustus sampai 30 Oktober 2019. Berdasarkan data BMKG Stasiun Dramaga juga tingkat kekeringan terparah ada di Jonggol,” kata Dede.

Selain Jonggol, enam kecamatan lain yang mengalami kekeringan parah berdasarkan pantauan BPBD adalah Tanjungsari, Cariu, Tenjo, Gunungsindur, Parungpanjang dan Rumpin dengan tingkat kekeringannya berbeda.

“Perlu ada peningkatan status supaya kita bisa kerahkan seluruh potensi yang ada. Bahkan bekerja sama dengan pihak swasta,” ungkapnya.

Menurut Dede, dampak yang ditimbulkan kekeringan selain kekurangan air bersih juga kebakaran. Dia pun mengingatkan masyarakat untuk waspada dan menghindari potensi kebakaran.

Sebelumnya, BMKG memprediksi musim kemarau akan cukup lama yakni hingga November 2019.

Bukan hanya kebakaran, kemarau juga memicu munculnya penyakit. Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P2PKL) Dinkes Kabupaten Bogor, Agus Fauzi menyebut, ada beberapa penyakit yang biasa muncul ketika kurangnya pasokan air bersih.

Baca juga  Jabar Bergerak Tak Disokong APBD

Seperti diare, infeksi kulit, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), Hepatitis, Demam Berdarah Deungeu (DBD) dan Chikungunya.

Agus mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Terutama pola makan yang dianjurkan mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan agar sistem kekebalan tubuh (immune) tetap terjaga walau sedang menghadapi cuaca ekstrim. 

Selain itu, sambung Agus, kebersihan lingkungan juga harus menjadi prioritas, perlu melakukan kerja bakti agar tidak ada tumpukkan sampah yang merupakan sumber bakteri penyebab penyakit.

Namun begitu, Agus mengaku Dinkes belum memiliki data yang valid terkait jumlah penduduk yang sudah terpapar penyakit yang disebabkan oleh kemarau.

Tetapi, dia memastikan siap membantu kapan saja jika ada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) bahkan masyarakat yang membutuhkan bantuan pencegahan penyakit musim kemarau ini. “Kami siap kapan saja untuk memberikan bantuan,” tandasnya.[] Admin/Pkr

 



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *