Jalan Bahagia: Ikhtiar Jalan Berfilsafat Islam yang Membahagiakan

Oleh: Ocid Quro

(Penulis lepas dan pendiri Quro Ruang Baca)

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Bagaimana mungkin filsafat yang dianggap sesat oleh sekelompok orang beragama dan rumit oleh sejumlah mahasiswa, bisa mengantarkan kita kepada kebenaran dan kebahagiaan? Menanggapi hal itu, Dr. Saiful Falah hadir menawarkan jalan dengan karya terbarunya, Jalan Bahagia, Berkenalan dengan Filsafat Islam. Tak banyak buku ilmiah populer bertemakan filsafat yang dibahas dengan ringan namun tetap tidak menanggalkan substansinya. Jalan Bahagia hemat saya merupakan sikap dialogis bagi penulis terhadap pertanyaan tadi di tengah kita umat Islam pada masa sekarang.

Berlatar pendidikan pesantren di Ummul Quro Al-Islami, mulai dari nyantri, mengabdi sampai menjadi menantu Kyai, Dr. Saiful Falah melanjutkan studi sampai selesai di tingkat doktor dan saat ini menjadi seorang rektor Insitut Ummul Quro Al-Islami Bogor. Bukan soal, latarbelakang tersebut yang hemat saya turut andil memberikan warna tersendiri dalam sajian kepenulisan buku ini. Sebagaimana gaya khas santri bercerita, santai tapi bermakna, buku ini juga tetap mempertahankan sejumlah kajian yang bersumber dari referensi ilmiah. Penulis memetakan isi perjalanan filsafat dalam buku ini menjadi tiga ruas jalan besar, yaitu definisi dan kemunculan filsafat, jembatan penghubung filsafat dengan Islam, dan para filsuf Islam dengan pemikirannya.

Di awal separuh jalan, definisi filsafat dikupas demikian menarik menjadi empat model pertanyaan beragam; pertanyaan normal, formal, ujian pemahaman dan pertanyaan santai. Jawaban yang diberikan juga tidak bermuatan seragam namun menyesuaikan dengan model pertanyaannya. Pun berlatarbelakang akademisi, pengarang tidak terjebak pada teoretis sebagaimana karya ilmiah pada umumnya. “Filsafat itu mikir-mikir!” tulis rektor muda itu.

Filsafat pada kemunculannya sebagai counter terhadap mitologi Yunani dituturkan penulis seperti halnya berdongeng. Ia mengurai kedudukan nasab klan dewa Yunani dan bagaimana penangkalan terhadap mitos penciptaan alam semesta yang dilakukan oleh para bapak filsafat, Socrates, Plato dan Aristoteles. Tak hanya itu sanad keilmuan filsafat, baik tokoh filsuf dengan pemikiran dan perannya terhadap perkembangan awal ilmu pengetahuan juga dituturkan dengan gamblang.

Baca juga  GMNI Soroti Pelayanan Informasi Kabupaten Bogor

Membaca buku Jalan Bahagia seakan menempatkan kita sebagai penumpang dengan Dr. Saiful Falah sebagai juru kemudinya. Ia tidak hanya mengajak kita mengenal ruas jalan filsafat umum melainkan juga menyetir cara pandang perjalanan filsafat kita, mengantarnya pada sebuah jembatan bernama Hellenisme. Dan inilah titik temu sejarah bagaimana awal mula penyebaran tradisi keilmuan Yunani Kuno (Eropa) ke Alexandria, Mesir (Afrika). Sebuah proses akulturasi yang terjadi berangkat dari pertalian hubungan guru-murid Aristoteles dengan Alexander The Great atau Dzulkarnain. Yang kelak pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, pasukan yang dipimpin Amr bin Ash berhasil menaklukan Mesir. Dari sinilah Hellenisme terbawa ke dunia Islam. Di lain halaman Dr. Saiful Falah juga menyampaikan bahwa filsafat kemudian masuk dunia Islam pada Dinasti Abbasiyah pertama di bawah kekhalifahan Harun Ar-Rasyid dan diteruskan putranya Al-Makmun dengan mendirikan Baitul Hikmah, perpustakaan terbesar di Baghdad.

Tidak hanya dua ruas jalur itu, filsafat akhirnya bisa demikian diterima oleh umat Islam ketika Al-Kindi atau Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq terlibat dalam proyek penerjemahan naskah-naskah Yunani ke dalam bahasa Arab di kota Baghdad. Kecerdasan Al-Kindi disebut T.J. De Boer dalam History Philoshopy sebagai seorang polyhistor, ilmuan yang mampu menyerap seluruh pelajaran dan budaya pada zamannya. Menurut Ibnu Nadhim, ada 242 buah karya yang meliputi bidang logika, metafisika, aritmatika, falak, musik, astrologi, geometri, kedokteran, politik dan lain-lain. Tak mengherankan jika kemudian Al-Kindi dianggap sebagai filsuf pertama di dunia Islam.

Pada bagian lain, kita dibentangkan atlas dunia Filsafat Islam. Dalam satu bab, penulis menyusun tiga belas filsuf Islam lengkap dengan biografi, corak pemikiran, dan karya-karyanya. Yang tak kalah menarik, pada bagian ini penulis juga mengurai kerumitan pemikiran filsafat yang para filsuf Islam itu usung dengan analogi sebuah cerita dalam kehidupan kita sehari-hari. Nama ketigabelas filsuf Islam itu menjadi judul dengan tagline yang dibuat penulis dari simpulan pemikiran para filsuf Islam tersebut. Seperti Ar-Razi, Bahagia Kembali kepada Alam. Al-Farabi, Negara Sejahtera Rakyat Bahagia. Al-Ghazali, Tasawuf sebagai jalan kebahagiaan. Ibnu Khaldun, Menyibak Bahagia dari Bilik Sejarah. Dan filsuf Islam lainnya.

Baca juga  Berikut Cara Pendaftaran Pindah Pemilihan Bagi Mahasiswa Pascasarjana IPB

Terlepas dari semua itu, ada bagian penting yang menurut saya jadi babak sejarah antara filsafat dan Islam tidak dilewatkan oleh penulis. Bahwa agama, dalam hal ini Islam, acapkali dibenturkan dengan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist. Dan itu berlangsung tidak hanya di masa sekarang, melainkan juga terjadi di masa sepeninggalan Nabi SAW. Di sinilah letak kejelian penulis dalam mengenalkan jalan bagaimana filsafat bergerak berdasarkan alur rentetan peristiwa sejarah. Rasulullah SAW sebagai seorang nabi yang menyampaikan wahyu dalam memberikan solusi umat telah Allah cukupkan batas hidup usianya. Realitas umat seketika berbeda, permasalahan mulai bermunculan di tubuh umat Islam sendiri yang tak instan diselesaikan. Permasalahan melingkupi kekhalifahan atau pemimpin umat, sistem kepemimpinan dan arah nasib umat Islam. Karena faktor perbedaan sikap politik dalam pemilihan kepemimpinan maka umat Islam terbelah, menjadi golongan-golongan dalam Islam yang mengusung berbagai perbedaan pemikiran di bidang teologis, perkara takdir, mazhab fikih dan lain-lain.

Demikianlah, memang sudah semestinya kita mempelajari Islam tidak terjebak literalis hanya pada sumber ajaran agama melainkan juga secara historis. Tapi juga tidak demikian bahwa cabang ilmu pengetahuan lain termasuk filsafat menggeser kedudukan syariat. Karena faktanya memang filsafat Islam itu berbeda dengan filsafat umum, dan itu ditegaskan oleh penulis dengan disematkannya tulisan Dr. Zaprulkhan yang mengutip pernyataan Musa Asy’arie. “Filsafat Islam sebagai filsafat yang bercorak islami. Karena Islam sebagai agama tidak perlu dibedah oleh pisau filsafat. Islam bukan objek tapi subjek yang menggerakan filsafat. Filsafat Islam memiliki metode rasional-transendental, berbasis kepada Al-Qur’an dan sunah. Oleh karena itu Filsafat Islam berkarakter menyelamatkan dan mendamaikan hati. Tujuannya untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat.”

Baca juga  Berbagi Kasih: Umat Katolik Semplak sebar 1000 Takjil

Dalam buku ini Dr. Saiful Falah tidak sedang menunjuk dimana lokasi jalan bahagia berada atau memberikan resep jitu bagaimana kebahagiaan itu bisa terwujud. Buku Jalan Bahagia adalah tentang kita, umat Islam yang terdiri dari berbagai golongan dengan ragam pemikiran berbeda, diajak menyadari bahwa ternyata ada banyak ruas jalan menuju bahagia, tentu kebahagiaan sebagai seorang hamba Allah dalam meraih ridho Tuhan-Nya, Allah SWT di dunia dan di akhirat. Apakah kita berada pada jalan bahagia (yang kita pilih) dan bahagia beribadah pada jalan menuju ridhoNya? Ataukah kita berjalan dan berpikir bahagia dengan sibuk teriak-tunjuk bahwa jalan saudara seiman kita yang lain sebagai jalan kesesatan dan bertentangan dengan ajaran Islam? Seperti tokoh cerita yang dihadirkan penulis dalam prolog buku ini, anak kecil yang bertanya-tanya dimanakah pistol mainannya yang hilang, sebagaimana curhatan Dr. Saiful Falah juga yang mempertanyakan seorang filsuf Jerman, Nietzche mengatakan bahwa tuhan telah mati.

Semua pertanyaan berikut jawabannya saya serahkan kepada pembaca masing-masing. Namun bukankah berkat penasaran, usaha pencarian pun tentu saja dilakukan. Berpikir sebagai suatu ikhtiar terus saja kita lakukan hingga kemudian semua itu terjawab atau terselesaikan, kita akan berbahagia menikmatinya. Demikianlah buku Jalan Bahagia ini hadir sebagai sebuah perayaan berbahagia yang kelahirannya merupakan jawaban Dr. Saiful Falah dari sejumlah pertanyaan tadi. Bagaimana dengan kita?

Akhirnya melalui buku Jalan Bahagia, hemat saya bisa menjadi salah satu jalan kita berfilsafat Islam guna meraih jawaban yang membahagiakan atas segala pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan sepanjang kita hidup.

Wallahu a’am bishowaab. []



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


One thought on “Jalan Bahagia: Ikhtiar Jalan Berfilsafat Islam yang Membahagiakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *