Kab. Bogor

Hikmah Idul Fitri, Maaf Lahir Batin Jangan Hanya di Linimasa

Oleh: Syarifudin Yunus,

(Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Bogor)

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Ketika maaf lahir seusai shalat id, seorang anak bertanya kepada ayahnya, “apa sih hikmah Idul Fitri?”

Agak susah menjawabnya. Apalagi di tengah pandemi Covid-19. Idul Fitri 1442 H kali ini jelas berbeda. Mudik dilarang, sholat Id pun disuruh di rumah.

Halalbihal dan silaturahmi pun diimbau tidak dilakukan. Karena berpotensi menimbulkan kerumunan. Khawatir terpapar Covid-19. Idul Fitri hanya #DiRumahAja, jadi apa hikmahnya?

Bisa jadi, hikmah terbesar Idul Fitri kali ini adalah ujian terhadap keikhlasan dan kesabaran sesorang. Di tengah kekhawatiran penularan Covid-19, berbagai tradisi lebaran terpaksa ditiadakan. Setelah sebulan berpuasa, kemenangan nan fitrah pun penuh keterbatasan. Maka sejatinya, hikmah Idul Fitri 1442 H terpenting tidak lain soal 1) keikhlasan dan 2) kesabaran. Agar ucapan mohon maaf lahir batin, bukan hanya di linimasa dan di bibir saja.

Ikhlas berarti bersih hati atau tulus hati. Melakukan sesuatu tanpa mengharapkan sesuatu, selain untuk menggapai ridho Allah SWT. Sabar berarti mampu menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum agama. Sabar dalam keadaan lapang maupun sempit, sekaligus mampu menahan diri dari hawa nafsu yang menggoyahkan iman seseorang. Ikhlas dan sabar itulah kata kunci dalam beramal dan beribadah, termasuk dalam menghadapi ujian pandemi Covid-19.

Baca juga  Rujuklah Kembali di Hari yang Fitri

Kemarin-kemarin, berpuasa sebulan penuh. Tadarusan bahkan tarawih setuap malam. Berbagi takjil dan santunan kepada kaum dhuafa. Hingga hari ini pun menebar ucapan “Selamat Idul Fitri” dan permohonan maaf lahir batin. Di berbagai linimasa media sosial, di berbagai grup WA. Pertanyaannya, apakah itu semua sudah dilakukan dengan ikhlas dan sabar? Perbuatan yang dikerjakan bukan karena ingin dipuji orang. Bukan pula karena gengsi atau hanya kebiasaan semata. Hanya sifat ikhlas dan sabar yang bisa menjawabnya.

Ikhlas dan sabar memang tidak mudah. Mohon maaf lahir batin yang dari hari hati. Buka yang di linimasa atau di bibir saja. Apalagi harus menyembunyikan segala perbuatan baik dan ibadah hanya karena Allah SWT. Bukan karena ingin dipuji orang lain. Bukan karena biar dibilang begini-begitu oleh orang lain. Sungguh, ikhlas dan sabar memang tepat menjadi tingkatan maqamat setiap insan yang beriman.

Baca juga  Momen Sumpah Pemuda, IKA BINDO Imbau Politisi Berbahasa Santun

Ikhlas dan sabar. Adalah tonggak dan hikmah terpenting Idul Fitri kali ini. Kedua sifat itulah yang menjadikan “kawah candradimuka” untuk menjadi manusia yang tulus dalam melakukan perbuatan baik apapun. Modal penting untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan dan ujian. Bahkan ikhlas dan sabar, bisa jadi sumber kekuatan yang tidak tertandingi bila melekat pada diri seseorang.

Ikhlas dan sabar pula, sejatinya dapat mendorong siapapun untuk bergerak melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati. Tanpa mengharapkan imbalan apapun. Tanpa terpengaruh pandangan dan perkataan orang lain. Bagaikan beningnya air di dalam sebuah gelas, tanpa campuran apapun dan rela untuk diteguk oleh siapapun. Itulah ikhlas dan sabar yang hakiki.

Maka ujung dari hikmah Idul Fitri yang dijalankan dengan ikhlas dan sabar. Siapapun berhak meraih “fitrah”, kesucian jiwa dan raga. Hidup yang Kembali ke “titik nol”, seperti bayi yang dilahirkan. Dibebaskan (bukan terbebas) dari dosa dan salah, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.

Kembali ke titik nol. Agar kita sadar di hari esok. Mau diisi dengan sikap dan perilaku yang positif (+) atau negatif (-). Untuk menjadi manusia yang lebih baik, sebagai insan yang bertakwa, lebih baik, dan lebih optimis jadilah plus (+). Tapi sebaliknya, bila puasa dan Idul Fitri sebatas ritual semata, lalu tidak “berbekas” dalam kehidupan. Tidak menjadi lebih takwa, tidak lebih baik bahkan malah pesimis. maka jadilah minus (-).

Baca juga  Bupati Bogor: Sholat Idul Fitri Dibatasi di RT dan RW, Tidak Boleh Mendatangkan Warga Lain

Lalu, siapa orangnya yang bisa meraih predikat fitrah?
Tentu, mereka yang setelah Idul Fitri ini lebih baik, lebih bertakwa. Orang-orang yang kain ikhlas dan sabar dalam kesehariannya. Siapa saja yang mampu menahan diri dari “dosa” dan “keinginan”. Karena dosa sifatnya terus bertambah. Karena keinginan sifatnya mengundang hawa nafsu. Dosa dan keinginan yang harus bisa dikendalikan, dalam keadaan apapun.

Jadi bukan puasanya, bukan pula ucapan Idul Fitri-nya. Tapi perkara yang paling sulit dalam hidup ini adalah “menjaga hati”, untuk selalu ikhlas dan sabar dalam segala keadaan. Mau meminta maaf dan mau memaafkan. Wallahu a’lam bishowab. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Salam literasi. []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top