Laporan Utama

Guru Besar IPB Beri Masukan Terkait Ecovillage FGD G20, W20 Indonesia Presidency

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Prof Euis Sunarti, Guru Besar IPB University bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga berikan masukan dalam Focus Group Discussion (FGD) The Group of Twenty (G20), W20 Indonesia Presidency, Kamis (11/11/2021).

Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia ini membahas program Ecovillage sebagai solusi dari beragam masalah sosial, budaya, ekonomi, kependudukan dan lingkungan.

Prof Euis dalam presentasinya mengusung tema Pemberdayaan Perempuan dalam Perspektif Ecovillage, Sustainable Development Goals (SDGs) dan Society 5,0.

Menurutnya, Ecovillage atau kampung ramah lingkungan bisa menjadi pilihan solusi dari ragam masalah sosial, budaya, ekonomi, kependudukan dan lingkungan. “Ecovillage sendiri adalah pembangunan perdesaan (berbasis pertanian dalam arti luas dan nilai tambahnya) sebagai solusi ketimpangan pembangunan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),” ujarnya.

Baca juga  Guru Besar IPB: Indonesia Harus Siap Menghadapi Virus-virus Baru

Dalam FGD tersebut, Prof Euis mengangkat pembelajaran efektivitas pemberdayaan perempuan. Salah satu contohnya adalah pemberdayaan perempuan perdesaan yang telah dilakukan di empat kabupaten (Bandung, Cianjur, Ciamis, Tasikmalaya). Pemberdayaan ini berhasil meningkatkan pengetahuan, perbaikan manajemen dan teknik produksi. Khususnya cara produksi pangan yang baik serta indikator keberhasilan usaha lainnya.

“Beberapa contoh keberhasilan pemberdayaan tersebut diantaranya adalah peningkatan produktivitas usaha rata-rata sebesar 52 persen. Jumlah ibu rumah tangga peserta yang memiliki company profile, struktur organisasi, dan prosedur kerja. Terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja sebesar 10 persen dan peningkatan pengetahuan dan kesadaran pentingnya izin usaha. Mereka juga memiliki ijin usaha dan perluasan usaha melalui website,” jelasnya.

Ia menambahkan contoh lainnya yaitu program pemberdayaan Care-Pengasuhan Ibu, Kader dan Remaja untuk Peningkatan Tumbuh Kembang Balita dan pencegahan stunting. Program ini mengukur pengaruh pemberdayaan terhadap perbaikan lingkungan, pengasuhan anak dan juga memonitor pengaruh pemberdayaan terhadap pengetahuan dan keterampilan pengasuhan. Semuanya berdampak signifikan.

Baca juga  10 Kecamatan Paling Banyak Terpapar Covid-19 di Kabupaten Bogor

“Melalui sedikit sentuhan (pemberdayaan), ternyata dapat memberikan dampak dan keberhasilan perubahan yang signifikan dan tidak perlu waktu lama. Asal kita melakukannya dengan all out,” ucapnya.

Selain itu, menurutnya, yang perlu dilakukan adalah adanya sinergi dari berbagai pihak seluruh pemangku kepentingan.

Ia melihat banyak program pemberdayaan yang dilakukan berbagai pihak  namun seringkali dilakukan sendiri dengan intensitas terbatas dan kurang tuntas. Hal ini menjadi penyebab kurang efektifnya pencapaian tujuan pemberdayaan.

Selain Prof Euis, ada narasumber lain yang turut memberikan materi terkait Pemberdayaan Perempuan Perdesaan dan Pemberdayaan Perempuan Penyandang Disabilitas dalam menyongsong G20, W20 Indonesia Presidency.

Mereka adalah Uli Silallahi, Chair G20, W20 Indonesia Presidency, Dr Raden Edi Prio Pambudi, Co SHERPA G20 Indonesia dari Kementerian Koordinator bidang Perekonomian,  Dirjen Pembangunan Desa dan Perdesaan, Sugito, Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender Bidang Ekonomi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Eni Widiyanti, SE, MPP, MSE.

Baca juga  Menteri Teten: UMKM Siap Ramaikan Ajang MotoGP Mandalika 2022

Dari Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi ada Ir Herlina Sulistyorini, MSi. Dari Universitas Cendrawasih ada Dr Melyana Ratana fugu, SIP, MSi, Sekretaris Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia, Revita Alvi dan Dini Widiarsih, MSi, Phd, dari Fisip Universitas Indonesia. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top