Jadi Guru Besar, Rektor IPB dan Dua Dosen Lakukan Orasi Ilmiah

BOGOR-KITA.com, DRAMAGA – Rektor IPB University yang juga dosen di Fakultas Ekologi Manusia, Prof Dr Arif Satria bersama dengan Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), Prof Dr R Nunung Nuryartono dan Guru Besar Departemen Biologi, Prof Dr Sri Budiarti melakukan Orasi Ilmiah Guru Besar pada Sabtu (11/1/2020) bertempat di Auditorium FEM, Kampus IPB Dramaga, Bogor.

Dalam Orasinya, Prof Arif Satria memaparkan, Indonesia berpotensi mengalami krisis air bersih dan diramalkan pada tahun 2025 hampir dua per tiga penduduk dunia akan tinggal di daerah-daerah yang mengalami kekurangan air. Pada 2030, perubahan iklim akan menambah jumlah orang miskin hingga seratus juta jiwa. Harga pangan melambung hingga 12 persen, padahal 60 persen pengeluaran orang miskin untuk pangan.

“Krisis lingkungan dan sumberdaya alam yang dihadapi saat ini bukanlah masalah teknis tetapi krisis tata kelola (governance). Artinya ada kegagalan mengatur tindakan para aktor/pihak (negara, swasta dan masyarakat) yang berkepentingan terhadap sumberdaya. Di antara para aktor tersebut, masyarakat (rakyat miskin) yang posisinya paling lemah. Mereka juga yang paling dirugikan jika terjadi krisis lingkungan. Misal jika terjadi banjir, orang kaya bisa mengungsi ke hotel. Padahal yang paling banyak merusak lingkungan bukan mereka,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Prof Arif mengutip hasil riset yang disampaikan oleh Forsyth. Menurut Forsyth, orang miskin bukan penyebab kerusakan lingkungan melainkan orang kaya yang menggunakan sumberdaya lebih banyak. Orang miskin sangat sadar terhadap dampak negatif dari lingkungannya karena mereka sangat tergantung pada alam untuk hidup. Orang miskin dapat mengelola lingkungan lebih baik jika insentif dan informasi tersedia. Sayangnya pengetahuan tradisional mereka masih diabaikan.

“Bicara tata kelola itu bicara antara interaksi negara, swasta dan masyarakat. Dalam mengelola sumberdaya alam, masyarakat belum diperankan secara optimal. Masyarakat harus diajak dalam kolaborasi. Berdasarkan hasil risetnya, masyarakat pesisir ternyata mampu mengelola sumberdaya alam. Di Lombok Barat, ada sistem sawen. Yakni aturan kapan orang boleh menebang pohon di hutan, menanam padi serta menangkap ikan. Ada otoritas lokal yang bernama mangku alas (hutan), mangku bumi (sawah) dan mangku laut. Masing-masing mangku ini membangun koordinasi dan kolaborasi dalam pengelolaan masing-masing ekosistem. Mereka yakin sawen ini bisa menjaga kelestarian sumberdaya alam. Oleh karena itu, untuk tata kelola baru, kita harus menekankan kolaborasi antara pemerintah, swasta dan masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Prof Nunung Nuryartono dalam Orasi Ilmiahnya mengusulkan ekonomi inklusi keuangan untuk pembangunan Indonesia. “Problem negara berkembang masih di tiga isu yakni kemiskinan, kesenjangan dan pengangguran. Dalam paparannya, Prof Nunung menunjukkan hasil risetnya yang menunjukkan bahwa masih ada gap yang cukup signifikan antara ekspansi nilai indeks ekonomi dan nilai indeks sosial di Indonesia. Ini berarti tidak semua kelompok masyarakat mendapatkan manfaat pertumbuhan ekonomi. Banyak masyarakat yang tidak bisa akses lembaga keuangan dan akses pendidikan, “ jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa strateginya adalah melalui inklusi keuangan. “Untuk memulainya, kita harus membuka akses jasa keuangan terhadap kelompok masyarakat yang termarjinalkan seperti petani, pelaku usaha mikro dan kecil dan ibu rumah tangga. Hasil riset kami menunjukkan bahwa akses terhadap kredit sangat berpengaruh terhadap adopsi teknologi yang digunakan petani. Besaran kredit yang diterima petani mampu dialokasikan secara baik dan digunakan untuk membiayai teknologi tertentu. Pada pelaku usaha, setelah mendapatkan Kredit Usaha rakyat (KUR), mereka mampu menaikkan omset usahanya. Begitu pula pada ibu rumah tangga, ternyata mereka mampu mengatur aspek keuangan menjadi lebih baik,” ujarnya.

Selain itu, literasi keuangan masyarakat menjadi prasyarat pokok untuk dapat meningkatkan inklusi keuangan. Masyarakat akan semakin mudah mengakses lembaga keuangan jika tingkat literasi keuangannya tinggi. Perkembangan financial literacy atau literasi keuangan akan sangat dimudahkan di era digital seperti saat ini.

“Keberadaan teknologi finansial atau financial technology (fintech) sudah dan akan sangat mendorong inklusi keuangan di Indonesia. Kapasitas perbankan saat ini masih berkisar di angka 660 triliun rupiah, namu kebutuhan pembiayaan nasional adalah 1.649 triliun rupiah. Gap inilah yang diisi oleh fintech. Banyak pelaku fintech yang menyasar masyarakat perdesaan yang sebagian besar dianggap belum layak mendapatkan pembiayaan (unbankable). Namun, karena minimnya literasi keuangan, banyak masyarakat yang menjadi korban financial crime. Oleh karena itu, IPB University harus berkontribusi dalam pengembangan literasi keuangan. Salah satunya adalah ke depan, financial crime menjadi cabang keilmuan yang akan dikembangkan di IPB University,” tandasnya.

Adapun Prof Dr Sri Budiarti mengurai fakta tentang bakteri entheropathogenic E.coli (EPEC) yang ditemukan pada 55 persen feses anak penderita diare. Sebanyak 50 persen dari bakteri EPEC ini resisten terhadap antibiotik berspektrum luas. Selain EPEC, bakteri pathogen (Proteus mirabilis, penyebab Infeksi Saluran Kemih/ISK) juga resisten terhadap antibiotik.

“Banyaknya temuan bakteri yang resisten terhadap antibiotik membuat pakar-pakar kesehatan mencari solusi untuk mencegah terjadinya peningkatan resistensi antibiotik yang telah ada. Dalam riset yang kami lakukan, kami berhasil menemukan virus yang mampu membunuh bakteri patogen yang resisten antibiotik. Virus pembunuh bakteri itu disebut bakteriofag litik. Temuan ini telah mendapatkan paten pada tahun 2018 terkait inovasi proses produksi dan formula,” ujarnya.

Ada beberapa bakteriofag litik yang berhasil ditemukan Prof Sri Budiarti dan tim. Seperti fag litik untuk bakteri penyebab diare, fag litik untuk penyebab ISK, fag litik untuk bakteri penyebab infeksi kulit, fag litik untuk anti luka bakar dan beberapa fag litik lainnya.

Contohnya fag litik FB4 dan FBD3, yang diisolasi dari limbah air dan limbah sampah rumah tangga, dapat melisis sel EPEC penyebab diare. Fag litik FU3 untuk urapatogenik E.coli (UPEC), penyebab ISK, berhasil diisolasi dari Sungai Cisadane, Jawa Barat. Fag litik Bacillus pumilus (memiliki efek toksik pada sel epitel manusia) telah berhasil diisolasi dari Sungai Ciapus di Bogor.

“Ada 15 kasus di dunia yang telah menggunakan bakteriofag sebagai terapi alternatif. Namun belum ada yang menggunakannya di Indonesia. Minimnya penggunaan teknologi ini karena mekanisme aksi kontrol bakteriofag adalah spesifik inang, oleh karena itu identifikasi bakteri patogen penyebab penyakit perlu dilakukan. Selain itu, pengembangan terapi ini juga membutuhkan sumberdaya manusia profesional yang mampu melakukan isolasi dan produksi bakteriofag. Sehingga kita perlu memperbanyak ahli mikrobiologi dan bioteknologi dengan memperkuat pendidikan biologi,” terangnya.

Menurutnya, pemberian antibiotik bersamaan dengan pemberian fag litik memiliki potensi efek penyembuhan yang lebih baik. Selain itu untuk mencegah infeksi bakteri resisten antibiotik, harus ada peningkatan sanitasi, kecukupan air bersih dan penyediaan pangan seimbang gizi agar pertahanan tubuh dapat terjaga.

“Temuan ini berhasil menunjukkan bahwa IPB University mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang bermanfaat untuk masyarakat. Pada kesempatan ini saya juga menyarankan agar pendidikan biologi ini dapat diterapkan sejak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Dengan adanya pengetahuan biologi sejak dini ini diharapkan masyarakat Indonesia mampu menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungannya,” tandasnya. [] Admin / IPB 



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *