Kab. Bogor

Gengsi Bukan Harga Diri

Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Bogor

Oleh: Syarifudin Yunus

(Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Bogor)

BOGOR-KITA.com, BOGOR – GENGSI, kata banyak orang, lagi sering dicari. Karena gengsi dianggap identik dengan kehormatan, dengan martabat seseorang.

Bermodalkan gengsi, seseorang dianggap keren banget. Tanpa gengsi, katanya tidak punya eksistensi. Maka wajar, gengsi diuber banyak orang. Gengsi bikin orang cetar membahana.

Pertanyaannya, apa iya orang yang punya gengsi lalu terhormat?

Tentu jawabnya, tidak. Gengsi itu bukan harga diri. Beda dong, Gengsi itu basisnya gila kehormatan atau mabuk popularitas. Sementara harga diri itu basisnya kesadaran, selalu bersahaat dengan realitas.

Jadi, ketika harga diri seseorang kokoh maka gengsi akan melekat dengan sendirinya. Tapi jangan dibalik, menjual harga diri demi gengsi. Apalagi sampai berani mengorbankan harga diri hanya ingin dianggap punya gengsi. Celaka itu, hanya buat gengsi korbankan harga diri.

Baca juga  Seruput Kopi Pagi, Di Mana Akal Sehat?

Untuk apa gengsi? Bila umur sudah tua kok masih bilang muda. Bila tidak punya uang berlagak seperti banyak uang. Tidak pernah amal tapi teriak rajin amal. Bahkan tidak pernah membaca buku pun mengaku suka baca buku. Itu semua karena gengsi. Biar dibilang keren, biar dibilang terhormat.

Ketahuilah, uang sekecil apa pun pasti cukup bila digunakan untuk hidup. Tapi uang sebanyak apa pun tidak akan pernah cukup, bila dipaksa untuk memenuhi gaya hidup.

Gengsi itu justru identik dengan gaya hidup. Gaya hidup selangit akhirnya butuh gengsi. Lalu memaksa diri, di luar kemampuannya. Maka terpuruklah, hidup orang-orang yang mengejar gengsi. Seperti Ibu Anu, yang tidak bekerja.

Baca juga  UU Cipta Kerja, Pentingnya Pendanaan Pesangon Pekerja

Tapi memaksa diri beli HP yang mahal pakai kartu kredit. Akhirnya, tidak mampu bayar. Uang sekolah anaknya pun belum dibayar sudah 4 bulan. Padahal gaji suaminya tidak seberapa. Tapi cukup untuk makan sebulan. Nah si Ibu Anu itulah contoh orang yang mengejar gengsi. Biar dibilang keren padahal sebaliknya.

Banyak orang lupa. Gengsi itu tidak enak dimakan. Lagi pula menyeramkan.

Tapi sayang, masih saja ada orang yang mati-matian memburu gengsi. Berani melakukan apa saja, demi gengsi. Akhirnya, banyak orang bertikai karena soal beda gengsi. Korupsi akibat gaya hidup untuk membiayai gengsi. Gengsi memang gila.

Gengsi itu aneh. Berjuang agar dianggap keren oleh manusia. Bekerja keras untuk dihargai manusia. Sangat aneh. Justru bila mau dianggap keren, berbuatkan yang baik dan mintalah kepada Allah SWT. Bekerja keraslah atas nama Allah SWT. Itu namanya, gengsi karena Allah SWT.

Baca juga  Kepsek SMPN 1 Cibungbulang Borong Dua Penghargaan Literasi Jabar

Maka berhati-hatilah dengan gengsi. Karena gengsi itu penyakit moral. Terlalu gede gengsi itu membahayakan pemiliknya. Hiduplah apa adanya, tidak usah banyak gengsi. Tidak perlu bergaya dalam hidup. Ingat, siapa pun selagi masih manusia, Mereka tidka hdup dar gengsi. Tapi hidup dari Allah SWT.

Jangan kejar gengsi. Gengsi itu bukan harga diri.

Dan ketahuilah, hidup itu MURAH. tapi merek yang bikin MAHAL. Hidup itu SEDERHANA tapi gengsi yang bikin RUMIT. Salam literasi. []

 

 

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top
error: Content is protected !!