Prof. Dr. Muhammad Syukur

Dosen IPB: Pertanian 4.0 Tidak Bisa Gantikan Peran Pemulia

BOGOR-KITA.com – Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) mendukung adanya revolusi pertanian 4.0. Pemuliaan tanaman adalah salah satu bidang yang mengacu kepada roadmap agromaritim 4.0. Dalam revolusi pertanian 4.0 juga terkait dengan bidang-bidang di luar ilmu pertanian yang bertujuan dalam mendukung lingkungan tumbuh, seperti pemupukan, pengaturan kelembaban dan memprograman lingkungan serta penyesuaian kebutuhan pupuk agar sesuai dengan tanaman yang dibudidayakan.

Prof. Dr. Muhammad Syukur, dosen IPB yang memiliki kepakaran khusus pada bidang pemuliaan tanaman dalam siaran pers yang diterima BOGOR-KITA.com Rabu (6/3/2019) mengatakan, yang memiliki kepakaran khusus pada bidang pemuliaan tanaman mengemukakan, varietas harusnya didesain untuk mengikuti lingkungan tersebut. Misalnya menanam tanaman tanpa tanah di green house. Ke depan pertanian 4.0 tentu akan bermanfaat apabila digunakan untuk pertanian skala luas, terlebih dalam membantu penyuplaian hara.

Di sisi lain, selain mendapatkan dukungan, revolusi pertanian 4.0 juga menuai kontroversi. Pasalnya, dampak dari dilaksanakannya agenda ini akan semakin mengikis peran manusia dalam kehidupan, sehingga akan menambah angka pengangguran. Hal ini tentu akan menimbulkan pertanyaan, apakah revolusi industri 4.0 akan menghilangkan peran pemulia yang telah bertahun-tahun menghasilkan varietas unggul untuk petani?

Pertanyaan ini kemudian dijawab oleh Prof Muhammad Syukur bahwa revolusi pertanian 4.0 tidak akan pernah bisa menggantikan seorang pemulia karena revolusi apapun dalam pertanian selalu dimulai dari pemuliaan.

“Selalu melihat dan terpusat di hulu. Apalagi kita mengingat kembali pada sisi sejarah, yang muncul pertama kali dalam meningkatkan produksi adalah varietas, sehingga paket teknologi tidak bisa lepas dari adanya varietas unggul,” ungkap Prof. Muhammad Syukur.

Dalam pertanian 4.0 tertulis mengenai rekayasa genetika. Perlu dipahami bahwa rekayasa genetika yang dimaksud bukan GMO (Genetic Modified Organism), tapi rekayasa genetika yang darinya dapat dihasilkan banyak varietas-varietas unggul yang tahan hama dan penyakit, toleran terhadap kekeringan, dan menghasilkan produktivitas tinggi. “Tentunya ini hanya bisa dihasilkan oleh pemulia,” tutupnya. [] Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *