Rektor IPB University Dr Arif Satria

Di Inggris, Rektor IPB University Promosikan Inovasi Sosial dan Hilirisasi Riset

BOGOR-KITA.com – Usai menandatangani naskah kerjasama dengan Rektor University of Nottingham Inggris, Shearer West, Rektor IPB University, Dr. Arif Satria sampaikan strategi IPB University dalam kerjasama hilirisasi riset di Indonesian Scholar International Convention (ISIC) ke 19 di Kampus University of Nottingham (22-23/6/2019). Acara ini dihadiri Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia (RI) untuk Inggris Raya Dr. Rizal Sukma dan Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Prof. dr. Ali Ghufron Mukti. Acara ini diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia di Inggris bekerjasama dengan University of Nottingham dan Ikatan ilmuwan Indonesia International (1-4).

IPB University dikenal sebagai kampus inovasi karena selalu memberikan kontribusi terbesar dalam inovasi yang paling prospektif versi Business Innovation Center (BIC). Dalam kurun waktu 2008-2018, IPB University memberikan kontribusi hampir 40% inovasi nasional, sehingga wajar bila dua tahun berturut-turut 2017-2018 IPB University mendapat penghargaan Widyapadhi peringkat 1 dari Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Bahkan kini IPB University telah memiliki 15 cabang toko Serambi Botani di 15 mal besar yang menjual hasil inovasi IPB University dan alumninya.

Dalam seminar tersebut, Dr. Arif Satria menyampaikan bahwa Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 memerlukan kecakapan baru. Setiap negara mengidentifikasi kebutuhan kecakapan yang berbeda-beda. Dr. Arif mencontohkan Jepang memilih kolaborasi dan komunikasi sebagai hal yang penting. Sementara Singapura dan Australia menempatkan kemampuan adaptasi dan berpikir kritis masuk dalam daftar kecakapan baru yang diperlukan. Namun, di era penuh dengan ketidakpastian ini, Dr. Arif menekankan pentingnya kolaborasi. Ide Triple atau Multi Helix yakni kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri dan masyarakat adalah untuk menjawab tantangan baru disrupsi ini.

IPB University memiliki sejumlah pengalaman dalam kerjasama hilirisasi riset. Dr. Arif lalu mencontohkan inovasi sosial pendampingan petani hortikultura di desa lingkar kampus yang menghasilkan produk-produk unggul yang sekaligus dipasarkan ke 31 super market. Begitu pula inovasi lapangan lainnya yakni varietas Padi IPB 3S, yang produktivitasnya bisa mencapai 11.2 ton per hektar. Jauh di atas rata-rata nasional yang 7 ton/ha dan kini telah diterapkan di 26 provinsi.

“Tentu ini adalah hasil kerjasama antara IPB University, pemerintah, industri benih, serta petani. Begitu pula pengembangan Kawasan Estate Padi yang mencoba mengkonsolidasi lahan para petani agar bisa dikelola secara lebih efisien. Sementara itu varietas Pepaya Callina kini telah diproduksi secara komersial dan terdistribusi di 126 kabupaten atau kota dan di 11 negara seperti Malaysia, Pakistan, Tanzania, Jepang, India, Thailand, Philippine, Vietnam, Singapura , Brunei dan Timor Leste. Ada juga pengembangan nanas dengan varietas PK-1 kerjasama IPB University dengan petani Kediri dan telah ekspor ke Singapura,” ujarnya.

Sementara itu, lanjutnya, inovasi sosial di kelautan ditunjukkan dengan praktek Sea Farming 4.0 di Pulau Seribu bekerjasama dengan Pemerintah DKI, PT. Aquatech dan masyarakat lokal. Sea farming adalah sebuah sistem pemanfaatan ekosistem laut dangkal berbasis marikultur. Tujuan akhirnya adalah pada peningkatan stok sumberdaya ikan dan menjadi pendukung bagi kegiatan pemanfaatan sumberdaya perairan lainnya seperti penangkapan ikan dan wisata bahari serta peningkatan kesejahteraan nelayan.

Dalam perkembangannya, Sea Farming Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University ini masuk ke dalam era Industri 4.0 dimana akan dilakukan berbagai upaya integrasi sistem teknologi 4.0. Contohnya upaya automatisasi pakan ikan yang terintegrasi dengan daya dukung perairan, sistem deteksi automatis kualitas udang, automatisasi penghitung benih udang, pengembangan sistem automatisasi dan aplikasi deteksi penyakit udang dan ikan budidaya, dan pengembangan Artificial Intelligence (AI) yang mengintegrasikan signal budidaya dengan signal kualitas air. Semua sistem ini akan dikembangkan di sistem Sea Farming.

“Riset akan segera dimulai bersama dengan University of Wageningen Belanda. Dengan aplikasi Sea Farming 4.0 ini, berbagai proses di dalam Sea Farming akan menjadi lebih cepat, akurat dan presisi serta memberikan hasil yang lebih baik,” tambahnya.

Di bidang peternakan, IPB University telah mengembangkan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang merupakan Sinergi IPB University, pemerintah kabupaten dan komunitas peternak kecil untuk dapat mewujudkan bisnis kolektif berjamaah melalui kerjasama dengan investor. Pembelajaran bersinergi tersebut dari IPB University ke komunitas peternak dilakukan dengan proporsi 45% perubahan pola pikir, 35% pemahaman bisnis kolektif berjamaah dan 20% penguatan Ipteks.

“Ini diberikan maksimum empat tahun. Sekitar 32 SPR terbentuk sejak tahun 2013 dan enam SPR dinyatakan lulus. Tahun ini akan diluluskan lagi enam SPR. Bahkan di Bojonegoro, SPR sudah mengadopsi teknologi 4.0 dengan teknologi satelit,” ujarnya.

Rektor IPB University, yang juga sebagai Ketua Forum Rektor Indonesia terpilih 2020-2021, juga berbagi pengalaman dalam pengembangan bisnis hasil inovasi tanaman obat-obatan. Pengembangan temulawak organik unggulan antara Pusat Studi Biofarmaka Tropika (PSBT) LPPM IPB University, Soho Global Health dan pemerintah Sukabumi telah menghasilkan produk curcuma yang telah dikomersialkan.

Ketika ditanyakan kunci keberhasilan triple helix, Dr. Arif menjawab bahwa kunci paling pokok adalah trust atau kepercayaan. Kalau kepercayaan sudah terbangun akan mudah berkolaborasi.

Paparan Rektor IPB University tersebut sekaligus menunjukkan bahwa konsep IPB Agro-Maritim 4.0 bukan merupakan wacana, tetapi sudah mulai diterapkan di lapangan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Dimulai dari program Precision Village dan PreciPalm yang menggandeng dua BUMN yakni PKT dan PTPN, kini agro-maritim 4.0 makin meluas ke berbagai aspek. [] Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *