Presiden RI Jokowi

Ini Pidato Jokowi 18 Juni yang Heboh

BOGOR-KITA.com, JAKARTA  – Pidato Presiden Jokowi yang memicu munculnya isu resuffle kabinet, sempat disimpan atau tidak dipublikasi beberapa lama. Tetapi pidato yang disebut keras karena Jokowi marah itu, akhirnya dipublikasi juga. Dalam pidato tersebut Jokowi sempat meyebut kata jengkel. Seperti apa persisnya pidato tersebut? Berikut selengkapnya. (Redaksi)

Bismillahirahmannirohim

Assalamualaikum wr wb

Selamat pagi salam sejahtera bagi kita semua, om swastiasti namo budaya salam kebajikan

Yang saya hormati, Bapak Wakil Presiden, para Menko, para Menteri, yang saya hormati seluruh ketua dan pimpinan lembaga-lembaga yang hadir, yang tidak bisa saya sebut satu persatu.

Bapak ibu sekalian yang saya hormati suasana dalam tiga bulan kebelakang ini dan ke depan mestinya yang ada adalah suasana krisis. Kita juga mestinya juga semuanya yang ada di sini sebagai pimpinan, sebagai penanggung  jawab, kita yang berada di sini bertanggung jawab kepada 260 juta penduduk indonesia, tolong garis bawahi dan perasaan itu tolong sama, kita sama. Ada sense of crisis yang sama.

Hati hati, OECD (Organisation for Economic C-operation and Development/ Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) terakhir sehari dua hari lalu menyampaikan bahwa growth pertumbuhan ekonomi dunia terkontraksi 6, bisa sampai ke 7,6 persen, 6 sampai 7,6 persen minusnya. Bank dunia menyampaikan bisa minus sampai 5 persen.

Perasaan ini harus sama, kita harus ngerti ini, jangan biasa-biasa saja, jangan linier, jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali kita.

Saya melihat masih banyak kita yang menganggap ini normal. Lha kalau saya lihat bapak ibu dan saudara-saudara masih ada yang lihat ini, melihat ini sebagai sebuah masih normal, berbahaya sekali. kerja masih biasa-biasa saja. Ini kerjanya memang harus ekstra luar biasa. extraordinary.

Perasaan ini tolong sama, kita harus sama perasaannya, kalau ada yang berbeda satu saja sudah, berbahaya.

Jadi tindakan-tindakan kita, keputusan-keputusan kita, kebijakan-kebijakan kita, suasana adalah harus suasana krisis, jangan kebijakan yang biasa-biasa saja, menganggap ini sebuah kenormalan.

Apa-apaan ini, mestinya suasana itu ada semuanya, jangan memakai hal-hal standar pada suasana krisis. Manajemen krisis sudah berbeda semuanya.

Kalau perlu kebijakan Perpu ya Perpu saya keluarkan, kalau perlu Perpres, Perpres saya keluarkan, kalau saudara-saudara punya Peraturan Menteri, keluarkan untuk menangani negara, tanggung jawab kita kepada 267juta rakyat kita.

Saya lihat masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ, ini apa enggak punya perasaan suasana ini krisis.

Yang kedua saya peringatkan belanja-belanja di kementerian. Saya lihat laporan masih biasa-biasa saja.

Segera keluarkan belanja itu secepat-cepatnya, karena uang beredar akan semakin banyak, konsumsi masyarakat nanti akan naik, jadi belanja-belanja kementerian tolong dipercepat.

Sekali lagi, jangan menganggap ini biasa-biasa saja. Percepat, kalau ada hambatan keluarkan Peraturan Menterinya biar cepat. Kalau perlu, Perpres saya keluarkan Perpresnya.

Untuk pemulihan ekonomi nasional, misalnya saya beri contoh bidang kesehatan, dianggarkan 75 triliun, baru keluar 1,53 persen, coba, uang beredar di masyarakat ke-rem kesitu semua. Segera itu dikeluarkan dengan penggunaan-penggunaan yang tepat sasaran sehingga men-trigger ekonomi. Pembayaran tunjangan untuk dokter, untuk dokter spesialis, untuk tenaga medis, segera keluarkan. Belanja-belanja untuk peralatan segera keluarkan, ini sudah disediakan Rp. 70 an triliun seperti ini .

Bansos (bantuan sosial) yang ditunggu masyarakat segera keluarkan, kalau ada masalah lakukan tindakan-tindakan lapangan. Meskipun sudah lumayan tapi baru lumayan, ini extraordinary harusnya 100 persen.

Di bidang ekonomi juga sama, segera stimulus ekonomi bisa masuk ke  usaha kecil, usaha mikro. Mereka nunggu semuanya, jangan biarkan mereka mati dulu baru kita bantu, gak ada artinya.

Berbahaya sekali kalau perasaan kita seperti gak ada apa-apa, berbahaya sekali. usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, usaha gede, perbankan, semuanya yang berkaitan dengan ekonomi manufaktur, industri terutama yang padat karya, beri prioritas kepada mereka supaya gak ada PHK (pemutusan hubungan kerja). Jangan sudah PHK gede-gedean, duit se-rupiah pun belum masuk ke stimulus ekonomi kita. Hanya gara-gara urusan peraturan, urusan peraturan, ini extraordinary.

Saya harus ngomong apa adanya gak ada progess, yang signifikan, enggak ada. Kalau mau minta Perpu lagi, saya buatin Perpu kalau yang sudah ada belum cukup. Asal untuk rakyat, asal untuk negara, saya pertaruhkan reputasi politik saya.

Sekali lagi tolong ini betul-betul dirasakan kita di semuanya, jangan sampai ada hal yang justru mengganggu. Sekali lagi langkah-langkah extraordinary ini betul-betul harus kita lakukan dan saya membuka yang namanya langkah, entah langkah politik, entah langkah-langkah kepemerintahan, akan saya buka. Langkah apapun yang extraordinary akan saya lakukan untuk 267 juta rakyat kita untuk negara. Bisa saja  membubarkan lembaga, bisa saja reshuffle. Sudah kepikiran kemana-mana saya. Entah buat Perpu yang lebih penting lagi kalau memang di perlukan karena memang  suasana ini harus ada, kalau suasana ini tidak, bapak ibu tidak merasakan itu, sudah artinya tindakan-tindakan yang extraordinary keras akan saya lakukan.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya betul-betul minta Bapak-bapak, Ibu dan Saudara-saudara sekalian mau mengerti, memahami apa yang tadi saya sampaikan. Kerja keras dalam suasana seperti ini sangat diperlukan. Kecepatan dalam suasana seperti ini sangat diperlukan. Tindakan-tindakan diluar standar saat ini sangat diperlukan dalam managemen krisis. Sekali lagi kalau payung hukum masih diperlukan saya akan siapkan. Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan. Terima kasih.

Wasslamualaikum wr wb. [] Admin

Video lengkapnya, klik di sini. 



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *