Ilustrasi

5 Problem Penanganan Covid-19 di Kota Bogor

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Lima problem penanganan kasus covid-19 di Kota Bogor yang saat ini masuk zona oranye.

Demikian dapat disimpulkan dari Survei Persepsi Risiko Covid19 Kota Bogor yang dikerjakan oleh  Lapor Covid-19 dan Social Resilience Lab, Nanyang Technological University.

Pekerjaan responden

Survei itu sendiri menyasar sebanyak 21,803 responden, di mana 21,544 di antaranya dinyatakan valid.

Pengumpulan data dilakukan mulai 15 Agustus sampai dengan 1 September 2020, dengan metode pengumpulan data adalah quota sampling dengan variable penduduk per kelurahan.

Survei dilakukan secara online melalui platform Qualtrics yang disebar melalui aplikasi pesan instan (WhatsApp) kepada warga Kota Bogor.

Penyebaran kusioner dilakukan oleh Pemkot Bogor. Metode Analisis Menggunakan formula Spearman rho untuk mengukur korelasi antar variabel dan faktor demografi.

Usia Responden

Hasil survey yang diperoleh BOGOR-KITA.com, menyimpulkan  5 hal sebagai masalah, yakni.

1.Secara umum, warga Kota Bogor mengaku menjaga protokol kesehatan secara baik walaupun lebih rendah dibanding Jakarta dan Surabaya.

2.Tingkat pengetahuan dan informasi mengenai kondisi pandemi masih rendah dan harus terus ditingkatkan dengan memanfaatkan sumber informasi yang dipercaya publik.

Baca juga  Usmar Hariman Buka Bogor Expo 2015

3.Kondisi sosial dan ekonomi cukup memprihatinkan dan memiliki dampak signifikan terhadap rendahnya persepsi resiko secara umum.

4.Sikap warga kota Bogor terhadap test Covid19 juga cenderung rendah kecuali untuk aspek contact tracing yang sudah mencapai nilai ideal.

5.Secara keseluruhan kota Bogor mencapai nilai RPI (indeks persepsi risiko) yang rendah sebesar 3.21. Nilai ini paling rendah dibandingkan Jakarta dan Surabaya, Artinya, secara kolektif warga kota Bogor cenderung menganggap remeh risiko penularanCovid-19.

Ditelusuri pada paparan data yang disajikan dalam laporan, tampak bahwa masih ada warga yang Kota Bogor yang tidak disiplin melaksanakan protokol kesehatan.

Terkait cuci tangan misalnya, masih ada 8,10 persen yang mengatakan kadang-kadang.  Yang mengatakan selalu cuci tangan hanya 30,33 persen.

Dalam hal penggunaan masker, juga masih ada yang mengakatan kadang-kadang. Yang menyatakan selalu pakai masker hanya 59,40 persen. Selebihnya, mengatakan sering, kadang-kadang, dan jarang.

Terkait menjaga jarak ketika ke luar rumah, hanya 37,69 persen yang mengatakan selalu. Selebihnya mengatakan, sering, kadang-kadang, jarang dan tindak pernah. [] Admin/Hari



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *