Pendidikan

Soal Literasi dan Taman Bacaan, Tidak Bisa Hanya di Belakang Meja

TBM Lentera Pustaka

Oleh: Syarifudin Yunus,

Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

BOGOR-KITA.com, TAMANSARI – Mungkin semua pihak sepakat. Bahwa persoalan literasi dan taman bacaan di Indonesia tidak dapat diselesaikan di belakang meja. Atau melalui ruang-ruang seminar dan diskusi. Karena sejatinya, literasi dan taman bacaan adalah aksi nyata. Sebuah perbuatan untuk menciptakan masyarakat yang literat.

Literasi adalah perbuatan. Taman bacaan pun perilaku. Maka diskursus literasi dan taman bacaan, di mana pun, tidak boleh melupakan apa yang terjadi di lapangan. Jangan meninggalkan realitas dan akar rumput literasi itu sendiri. Sungguh, persoalan literasi dan taman bacaan sulit dipecahkan bila basisnya teoretik. Tanpa mau terjun langsung dan berhadapan dengan realitas yang ada di masyarakat.

Literasi tidak bisa dituntaskan di belakang meja. Sikap ini penting. Apalagi di tengah maraknya seminar dan diskusi tentang literasi dan taman bacaan. Karena hari ini, hampir semua pihak bicara tentang literasi. Tanpa bisa disortir lagi. Hingga banyak orang bingung, mana yang praktik mana yang teori. Mana yang pelajaran, mana yang perbuatan?

Sejatinya, literasi dan taman bacaan harus mampu “ditempatkan sesuai dengan porsinya”. Apapun harus sesuai tempatnya. Jangan sampai makmun dipersilakan menjadi imam. Jangan pula murid bertindak sebagai guru. Pasti terkecoh dan membingungkan. Hingga literasi dan taman bacaan justru menjauh dari tujuannya. Gagal mengurai ‘benang kusut” dunia literasi dan taman bacaan itu sendiri.

Baca juga  Covid-19 Kota Bogor: Selama Desember Belum Ada Kasus Meninggal

Ketahuilah, tidak ada konsep atau teori jitu tanpa dipraktikkan. Begitu pula tidak ada seminar dan diskusi hebat tanpa menyentuh persoalan di lapangan. Ilmu dan pengetahuan itu gagal total. Karena tidak mampu “mendekatkan” das sollen (harapan) dan das sein (kenyataan). Harapan dan kenyataan tidak sama. Itulah masalah ilmu pengetahuan yang hingga masih menghantui manusia.

Sebagai contoh, apa yang dilakukan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Sebelum ada taman bacaan, angka putus sekolah tinggi – 81% SD dan 9% SMP. Angka pernikahan dini pun marak. Dan nyata, itu semua jadi sumber kemiskinan. Karena itu, saya mengubah garasi rumah jadi taman bacaan di tahun 2017. Awalnya hanya punya 600 buku bacaan dan 14 anak yang mau membaca. Tapi kini, TBM Lentera Pustaka melayani lebih dari 160 anak pembaca aktif usia sekolah dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya) dengan koleksi lebih dari 6.000 buku bacaan. Setiap hari Minggu, saya pun selalu datang dari Jakarta ke Bogor untuk membimbing dan memotivasi anak-anak di taman bacaan. Maka jelas, taman bacaan harus berproses dan ditopang aksi nyata.

Baca juga  Kepada Sekda Kota Palembang, Sekda Sebut Pemkot Bogor Sudah Bangun Jaringan Fiber Optic

Apa yang terjadi di TBM Lentera Pustaka pasca taman bacaan berdiri? Tidak pernah ada yang menduga. Kini TBM Lentera Pustaka pun menjalankan program lainnya seperti: 1) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) pada 2018 yang diikuti 9 warga belajar buta huruf, 2) KEPRA (Kelas PRAsekolah) pada 2021 yang diikuti 26 anak usia PAUD, 3) YABI (YAtim BInaan) pada 2017 dengan 14 anak yatim, 4) JOMBI (JOMpo BInaan) pada 2021 dengan 8 jompo, 5) TBM Ramah Difabel pada 2021 dengan 3 anak difabel, 6) KOPERASI LENTERA pada 2021 dengan 28 ibu-ibu sebagai koperasi simpan pinjam untuk mengatasi soal rentenir dan utang berbunga tingg, 7) DonBuk (Donasi Buku) pada 2020 untuk menerima dan menyalurkan buku bacaan, 8) RABU (RAjin menaBUng) pada 2018 semua anak punya celengan, 9) LITDIG (LITerasi DIGital) pada 2020 seminggu sekali setiap anak, 10) LITFIN (LITerasi FINansial) pada 2018, dan 10) TBM Ramah Difabel pada 2021 dengan 3 anak difabel. Semua proses itu pula, akhirnya TBM Lentera Pustaka pun terpilih 1 dari 30 TBM di Indonesia yang menggelar program “Kampung Literasi 2021” dari Direktorat PMPK Kemdikbud RI dan Forum TBM. Selain meraih “31 Wonderful People tahun 2021” dari Guardian Indonesia (sebagai pihask swasta pertama di Indonesia yang mau memberi apresiasi kepada pegiat literasi dan taman bacaan) untuk kategori pegiat literasi dan pendiri taman bacaan.

Baca juga  Bima Arya Buka Festival Tendangan Penalti dan Juggling, Test Case Aktivasi Olahraga

Jadi, apa yang saya mau katakan dengan tulisan ini?
Sungguh, soal literasi dan taman bacaan tidak bisa hanya di belakang meja. Persoalan literasi tidak akan pernah tuntas bila sebatas seminar dan diskusi. Karena literasi dan taman bacaan adalah perbuatan, bukan pelajaran. Dan harus dijalankan dengan sepenuh hati dengan komitmen dan konsistensi.

Literasi memang untuk semua. Tapi literasi bukan hanya dibicarakan oleh semua. Karena literasi dan taman bacaan ujungnya “ubah niat baik jadi aksi nyata” Dan biarkan literasi dan taman bacaan “menemukan jalannya sendiri-sendiri”. Tidak ada teori dan pelajaran yang paling benar di literasi dan taman bacaan. Salam literasi. []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top