Sesjen Wantannas Letjen TNI Doni Monardo dalam pertemuan membahas Naturalisasi Ciliwung di Sekretariat Yayasan Rekam Nusantara, Sempur, Kota Bogor, Senin (5/11/2018).

Sesjen Wantannas: Naturalisasi Ciliwung Harus Melibatkan Pentahelix

BOGOR-KITA.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tidak bisa sendirian dalam menaturalisasi Sungai Ciliwung. Apalagi Ciliwung ini sangat kompleks. Harus berkolaborasi dengan Pentahelix. Panta helix adalah 5 unsur subjek atau stakeholder meliputi kalangan akademisi, kalangan pengusaha, komunitas, pemerintah  dan Media.

Hal ini dikemukakan Sesjen Wantannas Letjen TNI Doni Monardo setelah mendengar langsung laporan Ketua Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Kota Bogor  Een Irawan, dalam pertemuan di Sekretariat Yayasan Rekam Nusantara, Sempur, Kota Bogor, Senin (5/11/2018).

Dalam laporannya Een Irawan mengatakan, dari pemetaan yang dilakukan bersama timnya belum lama ini tercatat ada sekitar 5.652 KK atau rumah yang masih membuang sampah langsung ke Ciliwung dan tidak memiliki septic tank.

“Di Kecamatan Bogor Timur ada sekitar 1.977 bangunan, terbanyak di Kelurahan Sukasari ada sekitar 663. Di Kecamatan Bogor Tengah ada sekitar 1.491, terbanyak di kelurahan Sempur sekitar 828. Lalu di Kecamatan Bogor Utara 1.878 bangunan, terbanyak di Cibuluh 918 dan terakhir di Tanah Sareal sekitar 306, terbanyak di Kedung Badak sekitar 188,” ungkap Een.

Baca juga  Bima Arya: Pastikan Bantuan Sosial Tepat Sasaran

“Pemkot Bogor tidak bisa sendirian, apalagi ini Ciliwung ini sangat kompleks. Harus menggunakan sistem Pentahelix, yang mengolaborasikan antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas dan media,” ungkap Doni.

Namun demikian, Sesjen Wantannas Letjen TNI Doni Monardo mengapresiasi langkah-langkah strategis yang sudah dilakukan oleh Pemkot Bogor. Menurutnya, percepatan penataan kembali DAS Ciliwung guna meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dalam rangka ketahanan nasional.

Apa yang dilakukan oleh Kota Bogor, kata Doni, seluruhnya sudah terpetakan dengan baik.

“Tinggal kita mau menggunakan manajemen seperti apa? Harus ada langkah strategis, harus ada organisasi yang mengelola ini. Kalau tidak ada organisasi, kerja sekeras apapun akan sulit. Harus jelas siapa yang menjadi komandan, siapa yang terlibat dan sebagainya,” pesan Doni sembari menceritakan pengalamannya di Maluku dengan program ‘Emas Biru dan Emas Hijau’ serta di Jawa Barat dalam program ‘Citarum Harum’.

Kedatangan Doni Monardo ke Kota Bogor selain bersilaturahmi juga untuk melihat progres naturalisasi Sungai Ciliwung yang digagas Walikota Bogor dan didukung penuh oleh  Sesjen Wantannas sebagaimana dibahas dalam  rapat di Gedung Sekretariat Jenderal Dewan Pertahanan Nasional (Setjen Wantannas), Jakarta Pusat, Selasa (18/9/2018) lalu.

Baca juga  Posyandu Dapat Alat Permainan Edukatif dari RS Hermina

Dalam rapat di Setjen Wantannas itu, Bima Arya mengemukakan gagasan mengelola Ciliwung menjadi objek wisata seperti Sungai Cheonggye di Korea.

Gagasan itu langsung disambut oleh Doni Monardo. “Ini sejalan dengan keinginan Bapak Presiden yang ingin menata sungai seperti saat kunjungannya ke Korea. Kami akan dukung ini. Saya juga menugaskan Danrem 061/Suryakancana untuk berkoordinasi dengan Pemkot Bogor. Semoga dalam dua bulan ini bisa cepat terealisasi,” ujar Doni. [] Admin/Humpro Kota Bogor



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *