Kota Bogor

SEAMEO BIOTROP Gelar Lokakarya dan Diskusi Terpumpun Data Keanekaragaman Hayati

BOGOR-KITA.com, BOGOR – SEAMEO BIOTROP menyelenggarakan Lokakarya dan Diskusi Terpumpun tentang Pengembangan Kerangka Pangkalan Data Keanekaragaman Hayati (Workshop and Focus Group Discussion on Development of Biodiversity Database Framework) secara luring dan daring, Rabu (6/7/2022).

Acara ini yang dihadiri oleh 139 peserta yang berasal dari berbagai universitas dan lembaga penelitian. Selain itu juga menghadirkan berbagai narasumber yang merupakan pakar keanekaragaman hayati dari berbagai negara, yaitu Dr. Pieter Pelser dari University of Canterbury, New Zealand, Dr. Iman Hidayat dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Supriyanto, S.Si, M.Kom dari IPB University dan Mr. Vongvilay Vongkhamsao sebagai Direktur Jenderal Pusat Penelitian Hutan, Kementerian Pertanian dan Kehutanan dari Lao PDR.

Direktur SEAMEO BIOTROP, Dr. Zulhamsyah mengatakan, tujuan lokakarya dan diskusi terpumpun tersebut adalah mengumpulkan data dan informasi keanekaragaman hayati yang diperlukan dari tingkat nasional, regional dan internasional.

Baca juga  Libur Panjang, Bima Pantau Lalu Lintas Kota Bogor

Kedua, sambung Zulhamsyah kegiatan ini juga mengumpulkan data dan informasi terbaru tentang keanekaragaman hayati bagi pengembangan pangkalan data keanekaragaman hayati SEAMEO BIOTROP.

“Ketiga menganalisis fungsi, fitur dan isi pangkalan data yang akan dibangun. Kemudian membangun kerangka pengembangan pangakalan data keanekaragaman hayati SEAMEO BIOTROP yang relevan dengan kepentingan serta keperluan tingkat nasional, regional dan internasional,” ungkapnya.

Zulhamsyah mengungkapkan, bahwa pihaknya memiliki dan memelihara berbagai koleksi herbarium tanaman gulma, tanaman invasif, koleksi kapang serta serangga hama gudang yang berguna untuk penelitian dan pengujian. Koleksi yang ada di SEAMEO BIOTROP seluruhnya memiliki nilai historis karena telah dikoleksi dari sejak berdirinya SEAMEO BIOTROP pada tanggal 6 Februari 1968.

“Koleksi herbarium SEAMEO BIOTROP telah disimpan dalam bentuk pangkalan data herbarium sehingga dapat diakses oleh para peneliti dari seluruh dunia. Bahwa luaran dari kegiatan ini sesuai dengan slogan SEAMEO BIOTROP ‘Save Biodiversity’. Lokakarya dan diskusi terpumpun ini merupakan sarana pembelajaran dan berbagi informasi untuk pengembangan manajemen data keanekaragaman hayati di tingkat internasional,” ungkapnya.

Baca juga  Jokowi Sebut Vetiver Cegah Longsor, IPB: Ini Tanaman Pendamping  

Menurutnya, biodiversitas atau yang lebih dikenal sebagai keanekaragaman hayati adalah suatu aspek lingkungan yang perlu dijaga semua manusia selaku makhluk hidup yang tinggal di bumi. Biodiversitas meliputi semua kehidupan di atas bumi, termasuk tumbuhan, hewan, mikroorganisme, berbagai materi genetik yang dikandungnya serta ekosistem tempat hidupnya.

“Keanekaragaman hayati dapat digolongkan menjadi tiga tingkatan, yaitu keanekaragaman spesies, keanekaragaman genetika dan keanekaragaman ekosistem. Keanekaragaman hayati menjadi indikator penting dalam sistem ekologi serta berfungsi sebagai sarana untuk mengetahui apakah terjadi perubahan signifikan dalam sistem ekologi tersebut,” paparnya.

Ia menerangkan, berbagai kegiatan yang dilakukan di muka bumi ini mengakibatkan berbagai kerusakan ekosistem, seperti kerusakan dan alih fungsi hutan, kebakaran hutan, pencemaran air, tanah dan udara serta perubahan iklim.

Baca juga  Tiga Langkah Ini Jadi Upaya Pemkot Bogor Tekan SILPA

Kerusakan ekosistem mengakibatkan perubahan keanekaragaman hayati di dalam suatu ekosistem. Untuk memantau perubahan keanekaragaman hayati tersebut, diperlukan database (pangkalan data) yang berkualitas tinggi, yang khusus dibangun untuk memuat berbagai data juga informasi tentang keanekaragaman hayati sesuai ekosistem dan waktu. Sehingga memuat data yang selalu terbarukan serta dapat dipertanggungjawabkan.

“Pangkalan data tersebut selanjutnya berkembang sesuai dengan perubahan yang terjadi. Kedepannya, pangkalan data keanekaragaman hayati merupakan hal yang mutlak diperlukan dalam melaksanakan identifikasi perubahan ekosistem serta upaya konservasi keanekaragaman hayati,” pungkasnya. [] Ricky

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top