Kab. Bogor

Ridwan Kamil Soal Cegah Corona: Warga Bogor Satukan Irama dengan Jakarta

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta warga Bogor, Depok, Bekasi (Bodebek) untuk sinkron dengan kebijakan yang diterapkan DKI menyangkut koordinasi libur kerja. Hal ini untuk mengurangi dan mencegah penyebaran virus corona.

Emil mengungkapkan hal ini saat kunjungan ke Kota Bogor, Minggu (22/3/2020), dalam kaitan persiapan tes massal virus corona di daerah Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, Bekasi, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang.

Saat ditanya berapa warga Jabar yang terpapar virus corona, Ridwan Kamil menjelaskan, sampai Sabtu (21/3/2020) malam, 55 warga positif dari jumlah itu 41 warga ada di zona Bekasi, Kabupaten Bekasi, Depok, Bogor dan Kabupaten Bogor.

“Sisanya ada di luar BoDeBek, ini menandakan bahwa memang episentrumnya ada di Jakarta. Oleh karena itu warga di daerah Depok, Bogor, Bekasi harap lebih waspada dan mengurangi pergerakan yang tidak perlu,” tegas Emil.

Baca juga  Ridwan Kamil Tawarkan Proaktif Tes di Laboratorium Kesehatan Jabar

Soal persiapan rapid diagnostic test (tes darah) dengan skala massal, Emil menjelaskan, saat ini sudah disiapkan dengan sejumlah pertemuan dengan jajaran pemerintahan daerah, terutama di Bekasi, Kabupaten Bogor dan Kota Bogor,

“Kami tengah merapatkan persiapan tes massal, dengan kriteria dilaksanakan harus sesuai dengan situasi dan kondisi di daerah masing-masing,” jelas Emil. 

“Kalau Jakarta pakai cara door to door, karena memang jaraknya kecil-kecil dan lebih mudah terjangkau. Jawa Barat kan sangat heterogen, luas, untuk menjangkau wilayah-wilayah bisa, tapi menjadi tidak cepat di dapat kesimpulan-kesimpulannya,” terang Emil.

“Sehingga salah satu opsinya adalah mencari lahan yang luas kemudian mereka datang dengan appoinment, terjadwal, tidak turun dari kendaraannya jadi tidak ada persentuhan fisik, dengan rapid tes sekitar 10 menit akan ketahuan hasilnya,” tambah Emil.

Baca juga  Teten Masduki Dorong Pesantren Tingkatkan Produksi Pangan

Emil melanjutkan, kalau saat dites hasilnya negatif akan dibolehkan pulang. “Kalau positif akan ditreatment oleh tahap selanjutnya,” kata Emil.

Pada tahap awal tes massal ini, akan diberikan kepada orang dalam pemantauan (ODP) radius 50 orang yang positif, seperti kepada petugas kesehatan dan kepada mereka yang profesinya banyak berinteraksi secara sosial dengan masyarakat.

“Jika alat rapid tes semakin banyak, maka jangkauan tes semakin meluas kepada masyarakat. Tapi apapun itu tidak bisa seluruhnya, karena ini ada metode ilmiahnya. Korea Selatan saja yang paling baik di mata WHO, dari 45 juta yang dites sampling massal sekitar 200 ribuan dengan 15 ribu sampel warga per harinya,” jelas Emil.

Baca juga  Bukalapak Komit Dukung Ekonomi Jabar

“Kalau ada yang nanya, Pak saya harus di tes, itu harus ada rekomendasi dari petugas yang sudah diberi kewenangan,” tambah Emil.[] Anto

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top
error: Content is protected !!