Kab. Bogor

Publik Harus Tahu, 7 Kendala Prinsip Taman Bacaan di Indonesia

Oleh: Syarifudin Yunus,

Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Bogor

BOGOR-KITA.com, TAMANSARI – Publik harus tahu. Semua pihak perlu paham. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) pasti miliki peran penting. Apalagi di tengah gempuran era digital dan media sosial yang kian masif. Gerakan giat membaca dan budaya literasi anak-anak dan masyarakat ada di taman bacaan. Karena taman bacaan, sejatinya menyatu dengan masyarakat-nya. Boleh, taman bacaan masyarakat disebut “ukilung tombak” dalam peningkatan giat baca dan keaksaraan dalam mewujudkan masyarakat yang literat.

Tapi sayang, faktanya eksistensi TBM boleh dibilang terpinggirkan. Kurang mendapat perhatian dari berbagai kalangan, baik pemerintah daerah, korporasi, dan masyarakat sendiri. Bahkan tidak sedikit TBM yang masih terkendala dengan permasalahan internal. Sehingga sulit mengemban misi meningkatkan kegemaran membaca anak-anak dan masyarakat. Banyak TBM yang berjuang untuk bertahan hidup. Alih-alih tetap eksis, bisa jadi aktivitas TBM malah kian “sunyi”. Bila tidak mau disebut “mati suri’.

Karena itu, TBM di manapun harus menyadari beberapa problematika yang dihadapi. Agar visi dan misi TBM tetap bisa berjalan. Atas alasan apapun, TBM harus tetap eksis dan punya aktivitas. Untuk itu, kendala atau problematika TBM yang harus dicermati dan solusinya antara lain sebagai berikut:

1. Kendala Biaya Operasional. Banyak TBM tidak memiliki biaya operasional. Misalnya untuk membeli buku, membuat rak, membayar listrik, dan memasang wifi atau lainnya. Apalagi TBM biasanya diinisiasi secara informal dan sosial. Maka solusinya, TBM perlu menggandeng mitra untuk ikut membiayai operasional TBM.

2. Kendala Perizinan TBM. Mungkin, 80% TBM yang ada di dekat kita belum memiliki izin. Karena sifatnya sosial dan tempatnya pun milik sendiri atau di fasilitas umum. Sehingga soal perizinan agak diabaikan. Maka solusinya, TBM mau tidak mau harus mengurus izin operasional. Tentu di setiap daerah berbeda-beda. Bisa ke Dinas Pendidikan Kab/Kota atau Dinas Perizinan Kab/Kota, atau dari pihak pemerintah setempat setingkat Camat. Intinya, ada izin untuk operasional.

Baca juga  Mengukir Prestasi di Taman Bacaan, Kenapa Tidak?

3. Kendala Koleksi Buku. Banyak TBM memiliki buku yang terbatas koleksinya. Sehingga anak-anak jenuh karena buku di TBM itu-itu saja. Maka solusinya, TBM perlu berjuang keras untuk mencari donatur buku atau kerjasama dengan pihak luar untuk menambah koleksi buku yang ada. Kendala ini harus diatasi karena buku adalah “nyawa” TBM.

4. Kendala Pembaca/Anak. Tidak sedikit TBM yang hanya melayani kurang dari 30 anak. Karena itu, jumlah anak pembaca harus terus ditingkatkan. Bukan hanya warga sekitar tapi mencakup “tetangga” kampung. Semakin banyak anak di YBM maka semakin eksis dan jadi alat promosi. Maka solusinya, TBM harus fokus m nambah jumlah anak yang membaca. Memang tidak muda. Tapi kreativitas harus dicari untuk bisa menambah anak pembaca. Seperti buku, anak-anak pun “nyawa” TBM.

5. Kendala Kurikulum atau Program. Bila mau jujur, banyak TBM hanya sebatas jadi tempat baca. Tanpa kurikulum tanpa program. Maka solusinya, TBM harus membuat kurikulum dan progarm yang sesuai dengan aset anak dan wilayah. Hal ini penting untuk menunjukka TBM tidak dikelola sembarangan. Ada kurikulumnya ada progrnya. Minimal TBM yang berbasis membentuk karakter baik anak.

6. Kendala Relawan. Apapun yang terjadi, TBM harus mampu merekrut relawan. Orang-orang baik yang peduli membantu program TBM. Minimal seminggu sekali, para r lawan datang dan membantu kegiatan di TBM. Inilah kendala klasik di TBM yang harus diatasi. Maklum, TBM adalah jalan sunyi sehingga sedikit orang yang peduli.

Baca juga  Mahasiswa IPB Bikin Sistem Database Buku untuk TBM Lentera Pustaka

7. Kendala Masyarakat. Faktanya, masih banyak masyarakat sekitar TBM yang apatis atau cuek. Sehingga keberadaan TBM dianggap tidak penting dan semu. Maka TBM harus terus mendekati tokoh masyarakat untuk “menjual” dan eksistensi TBM bagi lingkungan. Tanpa pengakuan masyarakat agak sulit TBM berkembang.

Kendala-kendala TBM di atas bukan tanpa alasan. Karena TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor sudah membuktikan dan melewatinya. Kini TBM Lentera Pustaka bukan hanya fokus meningkatkan giat membaca anak-anak kampung yang terancam putus sekolah akibat kemiskinan. Bahkan tingkat pendidikan masyarakat-nya 81% SD. Kini TBM Lentera Pustaka bertekad menjadi pusat peradaban dan pemberdayaan masyarakat.

Sejak berdiri tahun 2017, TBM Lentera Pustaka hanya punya 14 anak dengan 600 buku. Hingga akhir tahun 2020 pun bertambah jadi 60 anak pembaca aktif. Dan kini di Spetember 2021, TBM Lentera Pustaka memiliki lebih dari 16o anak pembaca aktif yang membaca buku seminggu 3 kali dan berasal dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya). baukan kini, TBM Lentera Pustaka pun menjalankan program lainnya seperti: 1) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 9 warga belajar buta huruf, 2) KEPRA (Kelas PRAsekolah) yang diikuti 25 anak usia PAUD, 3) YABI (YAtim BInaan) dengan 16 anak yatim, 4) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo, 5) TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel, 6) KOPERASI LENTERA dengan 26 ibu-ibu sebagai koperasi simpan pinjam untuk mengatasi soal rentenir dan utang berbunga tingg, 7) DonBuk (Donasi Buku) untuk menerima dan menyalurkan buku bacaan, 8) RABU (RAjin menaBUng) semua anak punya celengan, 9) LITDIG (LITerasi DIGital) seminggu sekali setiap anak, dan 10) LITFIN (LITerasi FINansial) setiap bulan sekali dari mitra CSR korporasi. Itulah yang sudah dijalani TBM Lentera Pustaka yang sejak awal berdiri sudah memiliki izin resmi bahkan satu-satunya TBM resmi di Kec. Tamansari Kab. Bogor. Bahkan sejak dipilih Direktorat PMPK Kemdikbud RI dan Forum TBM sebagai penyelenggara program “Kampung Literasi Sukaluyu” tahun 2021, TBM Lentera Pustaka pun resmi di bawah Yayasan Lentera Pustaka Indonesia yang memiliki No. Rekening dan NPWP atas nama Lentera Pustaka.

Baca juga  Jonggol Not For Sale

Bagaimana dengan “musuh” TBM?
Ya tentu ada. Karena TBM itu sarana kebaikan. Maka orang yang “tidak baik” sama sekali tidak suka bila TBM itu maju dan bermanfaat buat anak-anak dan masyarakat. Itu lazim terjadi. Tidak terkecuali TBM Lentera Pustaka, ada saja yang membenci, memusuhi bahkan menzolimi. Tapi prinsip TBM adalah “the show must go on”. TBM harus terus bergerak, terus berproses. Biar waktu yang akan membutuhkan segalanya.

Maka hanya sabar dan ikhlas dalam menjalani kebaikan di TBM itulah obatnya. Jangan kotori hati dan jiwa kita untuk balas dendam atau menyimpan kebencian, amarah dan sakit hati kepada mereka yang benci atau menzolimi aktivitas di TBM. Anggap saja itu sebagai ujian untuk “naik kelas”.

Secara moral, TBM harus berpegang kepada Allah SWT. Jadikan Allah SWT satu-satunya penolong dan pelindung. Tetaplah ikhtiar dan doa yang baik untuk TBM agar mampu menebar manfaat. Itu sudah cukup.

Khoirunnaass anfa’uhum linnaass. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Itulah spirit yang harus ada di TBM. Agar tetap bertahan dan eksis. Di samping terus berjuang mengatasi kendala yang ada.

Karena hidup di TBM itu mudah. Bahwa semua dan siapapun, pasti akan diganjar sesuai dengan perbuatannya. Salam Literasi. []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top