Kab. Bogor

Pembangunan Jalan Tambang Bogor Harus Terealisasi Usai Pandemi

BOGOR-KITA.com, RUMPIN – Rencana pembangunan jalan khusus tambang di kawasan eksplorasi tambang galian C serta jalur lintasannya yang meliputi wilayah Kecamatan Rumpin, Cigudeg, Parungpanjang dan Gunungsindur, otomatis tertunda karena adanya pandemi corona.

Namun pasca-terjadinya kecelakaan lalu lintas antara truk tronton angkutan tambang dan sepeda motor di Jalan Raya Cicangkal, Desa Tamansari, Kecamatan Rumpin, kembali mengundang reaksi akan pentingnya keberlanjutan rencana pembangunan jalan tambang tersebut. Akibat peristiwa ini, seorang siswi SMK Permatasari mengalami luka berat.

“Peristiwa kecelakaan tersebut mengundang dan mengulang rasa sedih dan keprihatinan warga terutama korban terdampak galian tambang. Jadi pembangunan jalur khusus tambang, harus segera direalisasikan,” cetus Junaedi Adi Putra, Ketua Aliansi Gerakan Jalur Tambang, kepada media ini, Sabtu (22/8/2020).

Adi menambahkan, semrawutnya tata kelola usaha pertambangan di wilayah Kecamatan Rumpin dan Cigudeg serta kesemrawutan tata kelola perhubungan di jalur lintasan Kecamatan Parungpanjang dan Kecamatan Gunungsindur, harus segera diatasi. Menurutnya, jika hal ini terus dibiarkan maka warga masyarakat yang bakal terus menerus jadi korban.

“Kemacetan lalu lintas, kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan, polusi udara, kerusakan lingkungan hingga keselamatan nyawa warga, adalah rentetan dampak akibat buruknya sistem tata kelola usaha tambang dan angkutan tambang,” tegas alumni Universitas Pamulang ini.

Baca juga  Warga Rumpin Kembalikan Raskin Bau

Dirinya meminta kepada Pemkab Bogor, Pemprov Jawa Barat dan pemerintah pusat baik Kementerian ESDM maupun Kementerian Perhubungan melalui BPTJ segera memprioritaskan adanya penertiban usaha tambang dan penertiban jalur tambang. “Mereka semua harus fokus dan secepatnya menangani dan memberi solusi permasalahan dampak usaha pertambangan. Salah satunya mempercepat realisasi pembangunan jalur khusus angkutan tambang,” tandasnya.

Terpisah, Ketua LSM Masyarakat Pejuang Bogor Atik Yuli Setyowati mengatakan, dari informasi yang diterimanya, beberapa faktor penyebab semrawutnya tata kelola transportasi tambang adalah banyaknya kendaraan angkutan tambang yang parkir secara sembarangan (liar), banyaknya sopir tembak dan tidak teraturnya antrean pengisian BBM di SPBU. “Jadi pembangunan jalan khusus kendaraan angkutan tambang memang harus bisa direalisasikan. Nanti pasca pandemi corona, hal itu harus jadi prioritas,” ucapnya. [] Fahry

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 1

Terpopuler

To Top