Pendidikan

Pemanfaatan Media Sosial Oleh Generasi Z dalam Komunikasi dan Interaksi Sosial

Ilustrasi/Istimewa

Sejarah media sebagai alat komunikasi

Sejak tahun 2004 silam, sebagian besar rakyat Indonesia telah berkenalan dengan media informasi yang akan menjadi media informasi yang sangat berpengaruh di dunia saat ini, yaitu internet, yang saat itu biaya untuk menikmati layanan internet sudah tergolong murah, bahkan anak-anak sekolah pun bisa menikmatinya dengan mengandalkan uang saku yang diberikan oleh orang tuanya.

Tahun 2004 juga menjadi era booming terhadap layanan internet seperti chatting, sosial media (dikenal sebagai media pertemanan saat itu), sharing video, dan juga layanan jual- beli online yang sempat disalah gunakan.

Dikarenakan oleh mudah dan murahnya akses internet saat itu, para remaja bangsa Indonesia paling tidak seminggu sekali mengunjungi warung internet untuk sekedar chatting melalui aplikasi relay chat yang dikenal dengan nama MiRC dan juga browsing menggunakan internet explorer untuk mengakses situs pertemanan favoritnya yaitu Friendster dan Myspace, disinilah dimulainya sosialisasi lewat internet oleh para remaja bangsa ini.

Waktu berselang 3 tahun, Friendster dan Myspace masih merajai riwayat-riwayat web browser tiap-tiap warung internet yang tersebar di seluruh penjuru kota Yogyakarta. Tetapi tahun ini juga mengawali era berselancar internet menggunakan telepon seluler, dikarenakan handphone saat itu harganya sudah sangat terjangkau bagi para pelajar kota Yogyakarta.

Mulai dari mengunduh permainan, mencari gambar latar, juga melakukan chatting dengan aplikasi java nimbuzz, mXit, ataupun ebuddy. Saat itu juga diselingi populernya Yahoo! Messenger di kalangan generasi muda maupun tua, dan juga dibarengi menipisnya pengguna MiRC.

Dampak media social dalam interaksi generasi

Etika berasal dari kata latinethicus yang berarti kebiasaan. Dengan demikian menurut pengertian yang asli itu adalah kebisaan. Etika adalah suatu disiplin yang diawali dengan mengidentifikasi, menganalisis dan memutuskan perilaku manusia dengan menerapkan prinsip- prinsip untuk mengedeterminasi perilaku yang baik terhadap suatu situasi yang dihadapi. Menurut saya, Etika adalah sebuah kebiasaan yang sudah ada pada kita, dan yang sudah melekat pada diri kita.

Baca juga  Universitas Pelita Harapan Harapkan Setiap Kota Miliki Human Orieted Desain

Pada dasarnya etika disini adalah sesuatu yang dianggap etis atau baik, yang mana kebiasaan ini dapat kita pelajari sehingga semua orang dapat mempelajari etika atau dapat merubah etikanya agar semakin baik. Etika dapat kita kategorikan atau dapat kita kelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu:

Pertama; adalah etika Deskriptif merupakan usaha menilai tindakan atau perilaku berdasarkan pada ketentuan atau norma baik-buruk yang tumbuh dalam kehidupan bersama, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.

Kedua, Etika Normatif, berusaha menelaah dan memberikan penilaian etis dan tindakan dengan cara yang berbeda yaitu dengan menggunakan norma yang dibuat oleh otoritas tertentu. Dalam kategori diatas dapat kita ambil bahwa Etika disini cara bagaimana kita berusaha menilai sekaligus memberikan penilaian terhadap sebuah tindakan yang sudah diambil baik tindakan tersebut sudah setara atau sudah cocok bagi diri kita akan tetapi tidak cocok bagi yang lain. Atau sebaliknya tindakan tersebut sudah cocok bagi yang lain tetapi tidak untuk kita. Sedangkan generasi milenial adalah Kelompok yang sangat mudah di indentifikasi dari pemampilan mereka dan itu sebabnya mereka memiliki kemungkinan besar untuk menjadi sasaran stereotip.

Dampak positif dan negatif media sosial dalam komunikasi generasi z

Media sisal tentunya memiliki plus dan minus nya Salah satu pengaruh negatif media sosial di kalangan dewasa muda lainnya adalah remaja kehilangan kemampuan berkomunikasi secara langsung. remaja umumnya sudah memiliki gadget untuk membantu kehidupan sehari-hari mereka. Mereka cenderung mengandalkan media sosial untuk berbicara daripada berbicara secara langsung. karena mereka mudah berbicara melalui media sosial, biasanya mereka cenderung jarang berbicara langsung dengan orang-orang terdekat mereka. Hal ini menyebabkan pergaulan para remaja pasti semakin bebas dan tidak terkendali dan para remaja akan merasa tidak percaya diri. sebab di media sosial, mereka tak berinteraksi secara langsung, umumnya mereka menjadi lebih percaya diri dan terbiasa dengan hubungan secara tidak langsung, sehingga bila suatu waktu mereka harus dihadapkan dimana mereka harus berkomunikasi secara eksklusif, mereka sebagai cenderung tidak nyaman dan sulit berbaur serta menyesuaikan diri.

Baca juga  Game dan Media Sosial Jadi Alat Sosialisasi Anti Korupsi

Terlpeas dari itu media sosial juga memiliki sisi positive untuk generari bangsa. Adapun dampak positivnya sebagai berikut :

  1. Multitasting Multitasting Ketika orang tua kita sibuk menekan nomor ponsel, kita bias menelfon sambil mengerjakan tugas. Waktu adalah prioritas, selama ada waktu senggang tiada detik tanpa haus informasi.
  2. Kontribusi Adanya kontribusi yang anti-manstrim atau Kadang kita melihat seseorang hanya diam ditempat, tetapi kita tidak tau pikiranya bias menambahsesuatu. Bisa jadi diamnya generasi milenial adalah mencari solusi.
  3. Kritis Generasi milenial saat mendapat informasi tak sekedar menelan Karena mereka haus akan informasi, setiap informasi apapun yang ia dapatkan tak segan mereka tanyakan. Begitu pula jika ada suatu informasi baru yang tidak masuk akal, mereka akan menanyakan kepada atasan, guru atau dosen.
  4. Kreatifitas Bagi generasi milenial, lebih menghargai kreatifitas semua kalangan, karena bagi mereka generasi apapun sama jika satu Generasi ini pantang diatur, keinginannya berjalan sesuai kemauan.

Keadaan moral generasi z akibat media sosial

Menurut Alwi, internet adalah jaringan yang sangat besar, terdiri dari jutaan perangkat komputer yang tehubung sebagai perukaran informasi diantara pengguna komputer. Sebaliknya komputer adalah suatu media elektronik yang mempunyai program internet dan dapat dioperasikan. Hampir semua orang didunia ini menggunakan internet dengan komputer dan juga hand phone.

Internet yang merupakan salah satu ruang publik untuk berkomunikasi, menarik minat masyarakat untuk menggunakannya, banyak masyarakat dari berbagai negara yang menggunakan internet sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan orang lain ini merupakan dampak yang positif dari perkembangan tekhnologi, karena dengan begitu internet dapat meyambungkan tali silaturrahmi dengan sahabat yang jauh.Generasi milenial juga memiliki potensi untuk mengembangkan sosial media, karena ia bisa dibilang mahir dalam menggunakan tekhnologi. Akan tetapi perlu adanya dukungan agar ia dapat mengasah dan mengembangkan keahliannya dalm dunia tekhnologi. Disisi lain generasi milenial kemungkinan menjadi sasaran stereotip. Harapan informal bisa menimbulkan ancaman stereotip bagi individu dan kelompok individu. Perilaku, kepercayaan, dan nilai-nilai dari suatu generasi akan memainkan peran dalam keseluruhan konstruksi sosial11.

Baca juga  Pengembangan Geopark, Bupati Sukabumi Fokus Pemetaan SDM

Keuntungan yang “melek” akan teknologi terkait dengan politik membawa dampak positif dan dampak negative bagi bangsa ini. Dampak positif yang ada adalah media social menjadi sebuah wadah generasi milenial untuk berkumpul, menuangkan ide, memberikan opini terkait dengan dunia politik, dan lain-lain. Disisi lain media social bisa menjadi malapetaka bagi generasi milenial. Apalagi jika dikaitkan dengan politik. Media social dapat digunakan sebagai ajang kampanye negative dan adu domba antar pendukung partai. Kemunculan generasi milenial kedalam dunia politik merupakan sesuatu yang harus disambut baik. Akan tetapi, pada era sekarang ini yang telah diisi dengan generasi milenial, pandangan yang terjadi dapat disikapi dengan ide-ide kreatif dankekinian, tidak lagi secara teoritis.

Untuk hal itu perlu adanya kebijakan dari orang tua, masyarakat, dan juga pemerintah untuk memberi didikan khusus terhadap anak-anak, supaya kelak mereka siap menerima besarnya pengaruh tekhnologi dalam kehidupan sosial, dan dapat menggunakannya dengan bijak. Keluarga juga harus melek dengan adanya tekhnologi, anak-anak harus dikenalkan dengan media internet yang ramah anak, agar suatu saat media internet tidak merusak moralnya dan dapat menjadi wahana perdamaian bagi anak-anak.

Penulis : Amalia Febriyani

Daftar Pustaka

Ariwidodo, Eko. (2014). Relevansi Pengetahuan Masyarakat Tentang Lingkungan dan Etika Lingkungan Dengan Partisipasinya Dalam Plestarian Lingkungan. Jurnal Nuansa, 11, 7. Retrieved from http://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/nuansa/article/view/179/170

Aw, Suranto. 2010. Komonikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: GRAHA ILMU. Espinoza, Chip dan Joel Schwarzbart. 2018. Millenials Who Manage. Jakarta: PT Gramedia

Fahrizal, Yuhdi. (2018). Netiquette: Etika Jejaring Sosial Generasi Milenial Dalam Media Sosial. Jurnal penelitian Pers dan Komunikasi Pembangunan, 22, 63.

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top