Yusfitriadi

Mengapa Anggaran untuk Covid-19 Lebih Kecil dari Anggaran Pemulihan Ekonomi?

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Anggaran untuk penanganan corona atau Covid-19 jauh lebih kecil ketimbang anggaran untuk pemulihan ekonomi. Mengapa? “Karena kesehatan akibat corona, adalah subyeknya atau koor bisnisnya, sementara sosial ekonomi adalah dampaknya,” kata pengamat sosial politik Bogor, Yusfitriadi kepada BOGOR-KITA.com, Kamis (2/4/2020).

Seperti diketahui, total tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 yang disiapkan pemerintah untuk penanganan dampak Covid-19 sebesar Rp405,1 triliun

Keseluruhan anggaran tersebut dialokasikan pada empat hal.

Pertama, untuk intervensi penganggulangan Covid-19 dari segi kesehatan sebanyak Rp75 triliun, termasuk dalam hal ini insentif tenaga medis dan belanja penanganan kesehatan

Kedua, untuk jaring pengaman sosial atau social safety nett yang diperluas sebanyak Rp110 triliun.

Ketiga, dukungan industri sebesar Rp 70,1 triliun meliputi pajak dan bea masuk dan stimulus KUR.

Keempat, dukungan pembiayaan anggaran untuk penanganan covid-19 sebesar Rp150 triliun, yakni pembiayaan dalam rangka mendukung program pemulihan ekonomi nasional sebesar Rp150 triliun.

Dari alokasi ini tampak dana untuk menangani covid-19 dari segi kesehatan sebesar Rp75 triliun. Bandingkan dengan  dana untuk pemulihan ekonomi yang mencapai Rp150 triliun, hampir dua kali lipat dibanding dana untuk menangani covid-19 dari segi kesehatan termasuk menyembuhkan penderitanya.

Mengapa pemerintah mengalokasikan anggaran untuk kesehatan terkait covid-19 jauh lebih kecil ketimbang dana untuk pemulihan ekonomi?

Yusfitriadi mengatakan, wabah covid-19, berimplikasi pada semua tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Berdampak pada semua sektor kehidupan di masyarakat, baik masyarakat kelas elit, menengah maupun masyarakat bawah. Segmen yang paling terasa dampaknya adalah sektor ekonomi. Kalau kesehatan, itu subyeknya atau koor bisnisnya. Namun sosial ekonomi adalah dampaknya.  Makanya dalam skema di atas, bidang kesehatan langsung penanganan kontennya atau koor bisnisnya.

Namun ketika berbicara ekonomi berbicara pemulihannya. Setiap sektor yang terdampak oleh bencana, termasuk bencana covid-19 ini, yang paling berat pemulihannya adalah sektor ekonomi. Sehingga sangat wajar ketika sektor ekonomi mendapat porsi paling besar dari penambahan anggaran negara sebagai implikasi dari wabah covid-19 ini.

Pemulihan ekonomi akan sangat membutuhkan waktu yang cukup panjang, namun penanganan sektor kesehatan karena adanya covid-19 akan selesai seiring dengan berhentinya penyebaran covid-19 tersebut.

Sebagai contoh, ketika adanya pembatasan orang luar masuk ke Indonesia, atau sebaliknya, maka pelaku usaha ekspor/impor, pelaku investasi dan pelaku usaha lainya yang dilakukan lintas negara, otomatis berhenti sampai wabah corona dinyatakan clear dari republik ini. Maka kerugian yang diakibatkan oleh berhentinya usaha-usaha tersebut harus dipulihkan.

Maskapai yang juga banyak yang tidak beroperasi, atau moda transportasi masal lainnya seperti kereta api dan bus, berapa kerugian selama tidak beroperasi, itu juga hrus dipulihkan.

Belum lagi sektor pariwisata yang selama ini menjadi sektor bisnis pada bidang pariwisata, berhenti beroperasi. Inipun harus dipulihkan. Belum lagi sektor usaha tempat-tempat produksi seperti pabrik-pabrik yang berhenti sementara selama wabah covid-19 harus juga harus dipulihkan. “Sehingga dampak covid-19 pada sektor ekonomi sangat luar biasa besar, dan pemulihannya membutuhkan biaya yang juga cukup besar dan waktu yang tidak sebentar,” tutup Yusfitriadi. [] Hari

 



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *