Kab. Bogor

Literasi Idul Adha, 3 Panggilan Seumur Hidup Manusia

syarifudin yunus
Syarifudin Yunus/Dok Pribadi

Oleh: Syarifudin Yunus,

(Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Bogor)

BOGOR-KITA.com, TAMANSARI – Banyak orang punya handphone. Tapi tidak sedikit dari mereka yang “menolak panggilan” saat handphone-nya berdering. Panggilan telepon, panggilan WA sering ditolak. Jangankan teman atau saudara. Bahkan panggilan telepon orang tua pun sering tidak diangkat. Menolak panggilan, membiarkan panggilan. Entah kenapa?

Menolak panggilan, masih saja ada dan terjadi.

Segudang alasan ada di dalamnya. Entah, sibuk atau karena malas. Entah dianggap tidak penting atau tidak suka. Semua alasan bisa dibikin. Tapi intinya, begitulah manusia. Atas nama ego terlalu mudah “menolak panggilan”. Sementara di saat lain, sibuk dianggap panggilan jiwa. Pangkat, harta, dan jabatan dengan mudahnya dianggap panggilan nurani. Semua panggilan dunia, tidak pernah ditolak. Kok bisa?

Panggilan jiwa itu, ketika siapapun mau introspeksi. Panggilan untuk memperbaiki diri dan berbuat lebih baik lagi. Panggilan nurani itu saat ada kebaikan yang harus dilakukan. Maka, kenapa harus menolak panggilan?

Manusia sering lupa. Panggilan dari manusia memang bisa ditolak. Tapi Allah SWT tidak mungkin bisa ditolak. Maka, berlatihlah untuk tidak menolak panggilan.

Baca juga  Hardiknas, Jangan Jejali Siswa Pelajaran Tapi Perkuat Karakter

Sejatinya, Allah SWT pada akhirnya hanya memanggil manusia 3 kali saja seumur hidupnya. Dan saat panggilan Allah SWT tiba, semuanya harus dilaksanakan, wajib dikerjakan tanpa kecuali. Karena panggilan Allah SWT pasti dan tidak akan bisa ditolak. Hanya 3 kali seumur hidup manusia, panggilan Allah SWT dikumandangkan:

1. Panggilan AZAN. Sebuah panggilan ibadah bagi umat Islam untuk menunaikan salat fardu, panggilan untuk sholat. Maka sholat adalah jawaban atas panggilan Allah ini. Tapi hebatnya Allah SWT masih fleksibel. Dia tidak marah bila manusia telat mengerjakannya. Bahkan bagi yang tidak sholat pun, Allah SWT tidak marah seketika. Masih diberi sehat, masih dilimpahkan rezeki. Lalu, kenapa masih berani lalai dari panggilan azan? Mumpung masih ada waktu untuk memperbaiki, kerjakanlah panggilan azan tiba.

2. Panggilan HAJI. Sebuah panggilan untuk menunaikan rukun Islam ke-5 untuk melakukan ibadah pada waktu yang ditentukan. Caranya pun tertib dan hanya terjadi di Baitullah di Mekkah. Siapa pun yang berkunjung ke sana, berarti sedang menjawab panggilan Allah SWT. Panggilan ini hanya bisa dirasakan oleh hati dan iman dan hanya Allah SWT yang tahu.

Baca juga  Netizen Bukan Maha Benar Tapi Maha Sok Tahu

3. Panggilan KEMATIAN. Sebuah panggilan sebagai batas akhir kehidupan manusia di muka bumi. Kematian adalah ajal manusia saat nyawa terlepas dari raganya. Panggilan kematian harus dijawab dengan amal sholeh. Saat panggilan kematian tiba, maka tidak satu pun manusia dapat menolaknya. Tidak bisa dipercepat, tidak pula bisa diperlambat. Seperti pandemi Covid-19, berapa banyak saudara dan sahabat yang dipanggil oleh kematian.

Lalu, apa artinya ketiga panggilan itu?

Sederhana. Saat panggilan AZAN tiba, kerjakanlah sholat lima waktu. Saat dering panggilan HAJI tiba, maka tunaikanlah. Dan saat panggilan KEMATIAN menghampiri, bersiaplah dengan amal sholeh. Karena “qullu nafsin zaiqotul maut”, setiap manusia pasti akan merasakan mati.

Hidup dan mati manusia hanya di tangan Allah SWT. Banyak kasus, Allah SWT tidak memberikan tanda-tanda secara langsung akan datangnya kematian. Ada yang mati muda, ada yang mati tua. Ada yang mati karena sakit, ada yang mati tanpa sakit. Sungguh, KEMATIAN rahasia Allah sebagai bukti panggilan Allah. KEMATIAN, tidak akan mampu dijawab dengan lisan atau gerakan. Tapi hanya AMAL SHOLEH yang bisa menjawabnya.

Baca juga  Kaum Matik, Diberi Medsos untuk Berkata Buruk

Ketahuilah sahabat, hidup di dunia ini hanya sementara. Tapi akhirat kekal abadi selamanya. Bersiaplah untuk menuju-Nya, penuhilah panggilan Allah. Silakan tolak panggilan manusia. Tapi jangan pernah menolak panggilan Allah SWT.

Maka di dunia, tidak perlu menghisab-hisab orang lain. Seolah-olah kita bertindak seperti Tuhan. Sungguh, siapapun kita. Hanyalah hamba-hamba Allah SWT. Hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa. Maka mintalah ampun dan perlindungan kepada Allah SWT seraya tetap istiqomah memenuhi panggilan-Nya.

Sungguh, kebahagiaan itu ada di tangan Allah SWT. Bukan kata dan anggapan manusia. Tidak aka nada bahagia tanpa taat kepada Allah SWT. Maka jangan terbiasa menolak panggilan. Jawablah panggilan Allah SWT dengan perbuatan baik. Dengan hati dan sikap yang khusnul khotimah.

SELAMAT IDUL ADHA. Semoga kita semakin ikhlas menjadi hamba-Nya. Mohon Maaf Lahir Batin. Salam literasi. []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top