Kab. Bogor

Literasi Finansial: 4 Tipe Manusia Seputar Uang

TBM Lentera Pustaka, Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari

Oleh: Syarifudin Yunus,

(Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Bogor)

BOGOR-KITA.com, SUKALUYU – Ini soal uang. Benda mati yang banyak dicari orang hidup.

Karena uang pula, belakangan ini banyak anak yang “menggugat” orang tua kandungnya sendiri. Karena uang, saudara sekandung bisa bermusuhan. Uang pula jadi sebab orang masuk penjara akibat korupsi. Demi uang, berapa banyak perempuan rela terlibat prostitusi online. Maka jangan salah memperlakukan uang.

Punya banyak uang, boleh jadi mimpi banyak orang. Uang itu serba salah. Tidak punya uang berdampak negatif dalam hidup. Punya uang banyak pun bisa jadi mudharat. Bahkan kata Voltaire, “giliran bicara soal uang, maka semua orang agamanya sama”. Sungguh, uang bukan segalanya. Maka lagi-lagi, jangan salah memperlakukan uang.

Uang, sejatinya hanya simbol. Sekaligus alat untuk mencapai ridho-Nya. Harusnya, uang bukan tujuan. Tapi berkah dan manfaat dari uang itu sendiri, seperti apa? Uang pun tidak akan dibawa mati. Tapi yang lain bilang, tanpa uang bisa mati. Apa iya? Maka jangan salah memperlakukan uang.

Baca juga  Dampak Pelebaran Jalan Raya Puncak, Puskesmas Cibulan Bakal Kehilangan Setengah Bangunan

Zaman now, boleh jadi banyak orang salah memperlakukan uang. Manusia itu benda hidup. Sementara uang hanya benda mati. Tapi faktanya, makin banyak “benda hidup” salah bersikap tentang “benda mati”. Orang hidup yang diperbudak benda mati. Uang itu bukan banyaknya. Tapi berkahnya.

“Uang, uang gue, apa urusannya sama elo?” begitu katanya.

Kalimat itu jadi bukti. Banyak orang salah memperlakukan uang. Cara pandang tentang uang yang tidak benar. Membelanjakan uang karena ingin, bukan karena butuh. Terbuai gaya hidup, berperilaku konsumtif, hingga bertindak hedonis. Maka, uang adalah hamba yang baik tetapi tuan yang buruk.

Maka sekitar uang, hanya ada 4 tipe orang:

  1. Ada orang tidak ber-uang tapi ingin kelihatan ber-uang. Gaya hidupnya melampaui batas. Lebih besar pasak daripada tiang. Orang-orang yang jago ilmu seni menyiksa diri. Hidupnya jadi menderita. Bahkan jadi tertawaan orang lain.
  2. Ada orang tidak ber-uang tapi hidup sederhana. Gaya hidupnya sederhana dan seperlunya. Apa adanya saja, tidak banyak keinginan. Hidupnya biasa saja dan tidak tersiksa karena uang. Tidak peduli apa kata orang lain. Dan tidak mau meminta-minta. Tapi tetap punya harga diri.
  3. Ada orang ber-uang tapi ingin kelihatan ber-uang. Gaya hidupnya konsumtif dan hedonis. Kaya tapi sombong lalu merendahkan orang lain. Bahkan kikir dan tidak mau sedekah. Punya uang agar dibilang keren.
  4. Ada orang ber-uang tapi hidup sederhana. Gaya hidupnya sederhana. Sekalipun mampu tapi membelanjakan uang karena butuh bukan karena ingin. Uang dianggap titipan Allah SWT dan mampu menahan diri. Biaya hidup tidak tinggi. Bahkan senang bersedekah, mau membantu orang lain. Uang sebagai ladang amal. Orang yang pribadinya lebih kaya daripada uang. Isi lebih hebat daripada bungkus.
Baca juga  Ayam Asap Bogor, Kuliner Baru di Kota Bogor

Bila orang itu isi, uang sebagai bungkus. Maka “bungkus tidak lebih penting daripada isi”. Tergantung, cara kita memperlakukan uang. Agar tidak melulu mengejar uang. Katanya uang hanya alat. Maka, kenapa sikap dan perilaku manusia menjadi lebih buruk karena uang?

Sungguh, orang kaya itu bukan yang punya banyak uang. Tapi kaya adalah orang yang paling banyak memberi. Salam literasi. []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top