KUA Cisarua Klaim Tidak Ada Kawin Kontrak di Puncak

Ilustrasi

BOGOR-KITA.com –  Kawin kotrak sudah bukan rahasia umum di kawasan Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor. Berita tentang kawin kontrak antara turis asal Timur Tengah dengan wanita setempat, sudah menjalar ke mana-mana, dan menjadi salah satu kegiatan negative yang mencoreng nama baik Puncak. Puncak tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah tujuan wisata alam yang indah, tetapi juga dituding sebagi daerah tujuan wisata seksual.

Namun, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Cisarua  enggan memberikan penjelasan kepada wartawan. Kepala KUA Cisarua bahkan menolak bertemu wartawan dengan dalih sibuk. “Kepala KUA Cisarua, Irin Tohirin sedang sibuk. Kita pun lagi banyak kerjaan. Masalah informasi kawin kontrak, di Cisarua tidak ada. Maaf saya harus mengisi laporan akhir tahun," cetus salah seorang pegawai KUA Cisarua ketika ditemui PAKAR, di kantornya, Senin (24/11).ALI

Menurut pengakuan warga setempat yang minta namanya tidak disebut, kawin kontrak adalah fakta. Jumlah lumayan banyak. Karena itu pula warga setempat itu jadi tahu banyak hal tentang kawin kontrak. Sebelum dinikahi, katanya, si wanita harus terlebih dulu meminta izin kepada suami. “Kalau suami tidak setuju ya tidak bias. Kalau suaminya setuju, tanda tangan di atas meterai,” katanya kepada PAKAR, Senin (24/11).
Namun begitu, Rudi, sesebut saja demikian nama warga setempat itu,  menyanggah jika kawin kontrak ini dilakukan oleh wanita warga Cisarua. “Saya tahu karena di sejumlah vila di sekitar rumah saya banyak ditinggali orang yang kawin kontrak,” katanya. Dikatakan, kebanyakan wanita pelaku kawin kontrak ini berasal dari Cirebon dan Cianjur. Mereka ditampung di vila-vila yang banyak bertebaran di kawasan wisata Puncak.
“Kawin kontrak rata-rata berlangsung selama 3 buan,” katanya. Soal anak, menurut Rudi, ada yang memiliki anak dan ada yang tidak. Anak itu sendiri ada yang diterlantarkan tapi ada juga yang tidak.

Asal negara pria yang melakukan kawin kontrak dengan wanita setempat itu, menurut Rudi kebanyakan dari Afghanistan dan Pakistan. Tarif yang ditawarkan mereka bisa sampai puluhan juta per bulan. [] Harian PAKAR/Admin

 



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *