Kab. Bogor

Kiat Sukses Bisnis Kuliner Masakan Sunda dengan Pendekatan Analisis SWOT, IFE, dan EFE

Ilustrasi masakan Sunda/ rukita.co

Ditulis Oleh: Ahmad Nagib , Rayvaldo Prabu Arya, Sultan Fernando, Sabilatussilmi Fairuzi, Kartika Novira |Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah pilar utama perekonomian Indonesia yang berperan signifikan dalam penciptaan lapangan kerja dan investasi. Dengan jumlah mencapai 64,2 juta unit, UMKM menyumbang 61,07% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 97% tenaga kerja nasional (Kementerian Koperasi dan UKM, data semester I tahun 2021). Perkembangan UMKM yang pesat menunjukkan potensinya dalam berbagai sektor, termasuk sektor kuliner.

Salah satu potensi sektor kuliner yang menjanjikan adalah daya pikat cita rasa menu masakan lokal. Keunikan masakan Sunda terletak pada penggunaan bahan-bahan alami dan rempah-rempah yang segar, serta proses memasak yang menggabungkan seni dan kearifan lokal. Selain itu, keterkaitan erat antara masakan Sunda dengan identitas kultural setempat membuatnya memiliki nilai tambah sebagai produk kuliner yang tidak hanya lezat, tetapi juga kaya akan makna budaya.

Melihat potensi besar yang ditawarkan masakan Sunda, peluang bisnis yang ditawarkan juga sangat menjanjikan. Kuliner Sunda dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, serta masyarakat lokal yang selalu mencari variasi dalam menu makanan sehari-hari.

Dengan strategi yang tepat, usaha kuliner berbasis masakan Sunda dapat berkembang pesat dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah dan nasional.

Analisis SWOT

Telah dilakukan analisis terhadap salah satu rumah makan Sunda yang berada di Bogor, restoran yang telah berdiri selama lebih dari 50 tahun, dikenal dengan kekuatan utamanya: resep yang teruji, variasi menu yang beragam, dan konsep makan prasmanan yang unik. Franchise yang telah dikenal luas di seluruh Indonesia juga memperkuat posisinya di pasar.

Namun, beberapa kelemahan yang dihadapi termasuk lokasi restoran yang kurang terurus, peralatan masak yang usang, serta struktur organisasi yang tumpang tindih. Tantangan lainnya adalah penyesuaian tenaga kerja akibat PHK besar-besaran dan kapasitas produksi yang terbatas, yang semuanya mempengaruhi kemampuan menjaga kualitas dan layanan.

Baca juga  Corona Kabupaten Bogor: Positif Naik, 47, Sembuh Turun, 20

Di sisi lain, UMKM ini memiliki peluang besar untuk terus berkembang, terutama dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan Sunda dan frozen food. Promosi melalui media sosial yang berpotensi viral juga dapat dimanfaatkan untuk menarik lebih banyak pelanggan.

Meski demikian, ancaman dari lokasi yang berdekatan dengan pesaing, dampak pandemi Covid-19, dan pembangunan jalan tol yang mempersulit akses ke beberapa cabang harus diatasi. Dengan strategi yang tepat, memanfaatkan kekuatan yang ada dan menangkap peluang yang muncul, UMKM ini dapat terus menjadi pilihan utama bagi pecinta makanan Sunda di Indonesia.

Analisis Evaluasi Faktor Internal (IFE) dan Evaluasi Faktor Eksternal (EFE)

Selanjutnya, rumah makan Sunda tersebut juga dapat dianalisis dari segi faktor internal dan eksternal dengan menggunakan metode IFE dan EFE. Metode ini dapat membantu manajemen membuat strategi internal yang efektif untuk meningkatkan kinerja UMKM. Selain itu, metode ini juga membantu UMKM membuat keputusan strategis dengan mempertimbangkan dinamika lingkungan eksternal.

Pada metode IFE dan EFE yang digunakan untuk menganalisis rumah makan Sunda tersebut, terdapat 16 faktor yang akan dihitung. Faktor-faktor tersebut terdiri dari empat faktor dari “kekuatan,” enam faktor dari “kelemahan,” tiga faktor dari “peluang,” dan tiga faktor dari “ancaman.”

Berdasarkan hasil analisis, skor IFE yang didapat oleh rumah makan Sunda tersebut ialah 3,05. Hal ini berarti kondisi internal yang ada pada rumah makan tersebut dari segi bisnis sedikit lebih baik daripada rata-rata. Terlepas dari fakta bahwa terdapat beberapa kekuatan yang dapat digunakan, masih ada ruang untuk perbaikan di beberapa aspek. Beberapa aspek yang perlu diperbaiki yaitu peralatan masak, struktur organisasi, serta pelayanan dan kualitas.

Selanjutnya, rumah makan Sunda tersebut mendapatkan skor 3,08 pada penilaian EFE. Hal tersebut mengindikasikan bahwa rumah makan Sunda tersebut berada dalam posisi yang cukup baik dalam hal respons terhadap faktor-faktor eksternal.

Baca juga  Ridwan Kamil Pasarkan Teh Jabar di Inggris

Nilai ini menunjukkan bahwa mereka mampu mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang di lingkungan eksternal dengan cukup efektif, serta mampu mengelola ancaman dari lingkungan eksternal dengan baik.

Namun, nilai ini sedikit di atas rata-rata. Dengan kata lain, rumah makan Sunda tersebut telah menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dengan variabel yang datang dari luar, seperti kebijakan pemerintah, perubahan pasar, dan situasi ekonomi.

Rumah makan Sunda berada di kuadran V matriks IFE dan EFE karena mendapatkan nilai 3,05 dalam penilaian IFE dan 3,08 dalam penilaian EFE. Strategi yang cocok digunakan oleh manajer rumah makan Sunda tersebut ialah hold and maintain.

Dengan menggunakan strategi hold and maintain, perusahaan dapat mempertahankan posisinya yang kompetitif dan stabil di pasar sambil melakukan perbaikan dan pengoptimalan yang diperlukan. Ketika perusahaan berada dalam kondisi yang cukup baik tetapi tidak unggul, strategi ini berfokus pada mempertahankan kekuatan yang ada, mengatasi kelemahan internal, dan menghadapi tantangan eksternal.

Beberapa contoh strategi yang dapat diaplikasikan oleh manajer rumah makan tersebut ialah:

Pengembangan Program Loyalitas Pelanggan
Kolaborasi dengan Bisnis Lokal Lainnya
Peningkatan Keberlanjutan (Sustainability)
Digitalisasi Proses Bisnis
Event Marketing
Peningkatan Kebersihan dan Keamanan

Kesimpulan

UMKM merupakan salah satu pilar penggerak perekonomian Indonesia yang berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja dan investasi. Perkembangan UMKM yang pesat menunjukkan potensinya dalam berbagai sektor, termasuk sektor kuliner. Salah satu sektor UMKM yang sedang berkembang pesat adalah UMKM sektor kuliner. Sebagai salah satu pelaku sektor kuliner, UMKM Rumah Makan Sunda yang kami amati menjanjikan daya pikat cita rasa menu masakan lokal, seperti masakan Sunda, yang kaya akan makna budaya dan menawarkan peluang bisnis yang signifikan.

Analisis SWOT terhadap UMKM ini menunjukkan bahwa UMKM Rumah Makan Sunda memiliki kekuatan berupa resep yang telah teruji selama puluhan tahun, variasi menu yang lengkap, dan konsep prasmanan yang unik. Namun, UMKM ini juga memiliki kelemahan berupa lokasi yang kurang terurus, peralatan yang sudah usang, serta struktur organisasi yang tumpang tindih. Tentunya hal ini harus segera diatasi agar tidak menjadi masalah yang lebih besar ke depannya.

Baca juga  Polisi Rekayasa Lalu Lintas di Cibinong saat Perayaan HJB ke-542 Besok

UMKM Rumah Makan Sunda ini juga dapat memanfaatkan peluang yang dimilikinya seperti meningkatnya minat terhadap makanan Sunda dan frozen food serta promosi melalui media sosial. Meski demikian, ancaman dari pesaing, dampak pandemi, dan pembangunan jalan tol yang mempersulit akses harus diatasi. Dengan strategi yang tepat, rumah makan ini dapat terus menjadi pilihan utama bagi pecinta kuliner Sunda di Indonesia.

Selanjutnya, berdasarkan hasil analisis Evaluasi Faktor Internal (IFE) dan Evaluasi Faktor Eksternal (EFE), ditemukan bahwa UMKM Rumah Makan Sunda memiliki skor IFE sebesar 3,05 dan skor EFE sebesar 3,08. Hal ini menunjukkan bahwa UMKM Rumah Makan Sunda berada di posisi “hold and maintain”. Artinya, UMKM Rumah Makan Sunda harus berfokus untuk mempertahankan kekuatan yang ada dan memperbaiki kelemahan internal, memanfaatkan peluang, dan menghadapi tantangan eksternal.

Beberapa strategi yang dapat diaplikasikan meliputi pengembangan program loyalitas pelanggan, kolaborasi dengan bisnis lokal lainnya, peningkatan keberlanjutan, digitalisasi proses bisnis, event marketing, serta peningkatan kebersihan dan keamanan. Melalui strategi ini, rumah makan Sunda dapat memperkuat posisinya di pasar dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah dan nasional.

Dengan menerapkan analisis SWOT, IFE, dan EFE secara holistik, UMKM Rumah Makan Sunda dapat merancang strategi yang komprehensif untuk mengatasi tantangan internal dan eksternal. Melalui perencanaan yang matang dan implementasi yang tepat, usaha kuliner Sunda tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga berkembang dan menjadi pemimpin pasar di sektor kuliner Indonesia. Kombinasi kekuatan budaya dan kelezatan cita rasa dapat menjadi kunci kesuksesan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat di industri kuliner.

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top