Kota Bogor

Ini Saran Usmar Hariman Tekan Stunting di Kota Bogor

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Mantan Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman turut angkat bicara soal masih adanya stunting di Kota  Bogor. Menurut Usmar yang berduet dengan Bima Arya pada periode 2008 – 2013, untuk kota sekelas Kota Bogor seharusnya sudah tidak ada lagi stunting.

“Kota Bogor telah memiliki indeks kesehatan cukup baik dan juga telah memiliki indeks pembangunan manusia (ipm) 5 besar se-Jawa Barat. Bahwa yang masih ada stunting di Kota Bogor tentu sangat memprihatinkan,” kata Usmar kepada BOGOR-KITA.com, Selasa (25/2/2020).

Berita stunting di Kota Bogor muncul dari hasil survei Kementerian Kesehatan RI yang menyebutkan 2 dari 10 anak di Kota Bogor menderita stunting.

Kepala Balitbang Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Siswanto mengatakan, Balitbang Kesehatan sudah melakukan kegiatan studi kohort tumbuh kembang anak di Kecamatan Bogor Tengah. Pihaknya melihat tumbuh kembang sejak dari kehamilan sampai balita.

“Dari hasil studi kami punya data status gizi balita Kota Bogor 18,3 persen yang artinya 2 dari 10 balita mengalami stunting. Angka ini jauh lebih baik dari angka nasional yang masih 3 dari 10 bayi mengalami stunting,” katanya saat audiensi dengan Wali Kota Bogor, Bima Arya dan Dinas Kesehatan Kota Bogor di Paseban Punta, Balai Kota Bogor, Jalan Ir. H. Juanda, Jumat (21/2/2020).

Baca juga  Kota Bogor Terima Penghargaan Penata Transportasi Publik Terbaik 2015

Usmar mengemukakan, angka stunting di Kota Bogor berpotensi meningkat. Hal ini terkait dengan sejumlah faktor, salah satunya faktor ekonomi.

“Dalam kondisi daya beli masyarakat yang cenderung menurun 3 – 6 bulan  ke depan, maka ada kekhawatiran angka stunting meningkat. Faktor ekonomi keluarga merupakan faktor utama kemampuan ibu mempertahankan kesehatan keluarga dan lingkungannya,” kata Usmar.

Faktor iklim juga berpengruh. Saat ini iklim belum bersahabat, maka faktor lingkungan juga akan berpengaruh kepada daya tahan si ibu, terutama yang hamil dan atau menyusui.  Dampak dari ini semua, maka kecenderungannya angka anak stunting dalam 1.000 hari masa ibu hamil dan menyusui akan menurun.

“Oleh karenanya program-program insentif perlu direncanakan dalam 3-6 bulan ke depan. Hentikan program-program yang kurang berimplementasi pada penguatan daya tahan ibu dan anak. Juga program-program swadaya perlu diperbanyak dengan mengalokasikan anggaran untuk kebersihan lingkungan. Tidak bisa lagi asal program berjalan dan terserap, tapi harus benar-benar terpantau dan manfaatnya sesuai tujuan untuk mendukung program mempertahankan angka stunting dan kalau bisa menurunkannya,” pinta Usmar.

Baca juga  Selesai Direnovasi, Bima Tinjau Posyandu Mawar

Usmar mengatakan, 3 – 6 bulan ke depan daya beli masyarakat diperkirakan akan semakin berkurang sebagai dampak dari naiknya berbagai komponen dasar kebutuhan hidup masyaràkat seperti BPJS naik, TDL naik, tol naik dan lain-lain. Ini akan dirasakan 3 – 6 bulan ke depan, bahkan akan terasa lebih berat menjelang Ramadhan dan Lebaran  yang seharusnya bisa menghemat.

“Akibat daya beli menurun maka kebutuhan keseharian yang pokok untuk kesehatan dan gizi makanan akan berkurang atau menurun,” kata Usmar.

Usmar juga menyinggung sekolah ibu dalam kaitannya menekan angka stunting. Menurut usma kedua berbeda. Sekolah ibu cenderung soal pengetahuan, sementara soal stunting cenderung terkait daya beli.

“Yang bisa mah program 1.000 hari pertama kelahiran. Dan itu menyangkut daya beli dan ketahanan keluarga di bidang pemenuhan pangan dan kebersihan lingkungan. Sekolah ibu,  dalam jangka panjang mungkin bisa yah, karena pengetahuan yang diberikan memang besar untuk si ibu, ditambah ilmu pengetahuan. Tapi tidak boleh berhenti di situ, harus dilanjutkan dengan penguatan sektor ekonomi. [] Hari

Baca juga  DLLAJ Kota Bogor Siapkan 813 Bus Angkut Pemudik
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top