Regional

Ini Penyebab Kota Depok Satu-satunya Zona Merah di Jabar

BOGOR-KITA.com, BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengemukakan hanya terdapat satu Zona Merah atau wilayah dengan risiko tinggi di Jabar dari data periode 19-25 Oktober 2020, yaitu Kota Depok.

“Zona Merah Jabar dari dua (daerah) di minggu lalu yaitu Kabupaten Bekasi dan Kota Cirebon, sekarang tinggal satu yaitu Kota Depok karena pergerakan klaster rumah dan perkantoran masih meningkat,” ujar Ridwan Kamil dalam konferensi pers usai memimpin rapat mingguan Komite Kebijakan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (26/10/2020).

Sementara dipantau dari laman covid19.go.id, Selasa (27/10/2020) pukul 17.35 WIB, Kota Depok masih berstatus Zona Oranye. Kabupaten dan Kota Bogor juga berstatus Zona Oranye atau wilayah dengan risiko sedang.

Selain itu, perkembangan baik lainnya adalah angka Reproduksi Efektif (Rt) di Jabar berada di bawah satu persen dari rata-rata periode 11-24 Oktober.

“Kabar yang membaik yaitu datang dari sisi epidemiologi, di mana angka reproduksi Covid-19 di Jabar di angka 0.98 setelah sebelumnya lebih dari angka satu,” kata Kang Emil sapaan akrab Ridwan Kamil.

Baca juga  Bahas Raperda PPA, Pansus IV DPRD Jabar Kunjungan ke Komnas Anak

Tingkat keterisian tempat tidur ruang isolasi rumah sakit rujukan Covid-19 di Jabar pun menurun. Dari 57,71 persen per 18 Oktober 2020 menjadi 56,78 persen per 25 Oktober 2020.

“Jumlah tes PCR kita juga sudah lewat dari satu persen jumlah penduduk sesuai standar WHO,” tambah Kang Emil.

Berdasarkan data Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jabar (Pikobar), tes metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di Jabar per Senin (26/10/2020) pukul 16:00 WIB adalah 533.440 atau lebih dari satu persen populasi Jabar yang hampir 50 juta jiwa.

Dalam konferensi pers tersebut, Kang Emil juga mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan penilaian kepada 27 kabupaten/kota se-Jabar dengan enam KPI (Key Performance Indicators).

Enam indikator tersebut yakni test, trace, treatment, prevention, governance, dan results.

“Ada enam indikator, rapor akan dikirimkan kepada daerah-daerah karena berbeda-beda hasilnya,” ucap Kang Emil.

Terkait rencana vaksinasi bagi warga Jabar, Kang Emil menjelaskan, dari simulasi pemberian vaksin di Kota Depok pada Kamis, 22 Oktober lalu, pihaknya menemukan bahwa persiapan sudah maksimal dengan potensi kekurangan dari segi storage (kulkas/alat pendingin) dan tenaga kesehatan.

Baca juga  Pemdaprov Jabar Akselerasi Pembangunan di Wilayah Perbatasan

“Kapan penyuntikan (vaksin), belum bisa dikonfirmasi tergantung pemerintah pusat sebagai pihak yang berwenang membeli vaksin di tahap pertama ini,” kata Kang Emil. [] Hari/Humas Pemprov Jabar

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 3 = 2

Terpopuler

To Top