Demo Tolak kenaikan BBM di Jagorawi Berujung Bentrok

Ilustrasi

BOGOR-KITA.com – Arus lalu lalang ribuan kendaraan di Jalan Tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi) tersendat, Senin (17/11). Antrean kendaraan mengular panjang. Penyebabnya, tak lain adalah aksi demo yang dilakukan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Djuanda (FMD) di Simpang Ciawi.

Para mahasiswa ini menggelar aksi demo menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Tak hanya memblokir jalan, para demonstran juga sempat melakukan aksi bakar ban hingga berujung adu jotos dengan petugas kepolisian.

Pantauan PAKAR di lokasi, aksi itu sendiri awalnya berjalan damai. Mahasiswa saling bergantian melakukan orasi penolakan terhadap kebijakan kenaikan BBM. Entah siapa yang mengomando, sejumlah mahasiswa kemudian mencoba melakukan blokade serta pemblokiran jalan dengan menghadang truk pengangkut bahan bakar.

Upaya tersebut langsung mendapat perlawanan dari anggota Kepolisian Resor Bogor Kota yang mengawal jalannya aksi. Suasana berkembang ricuh ketika para pengunjuk rasa mulai membakar ban. Polisi yang hendak memadamkan api dihalangi pendemo.

Alhasil adu otot dan dorong-dorongan antara petugas dan mahasiswa terjadi. Beberapa mahasiswa terkena pukulan aparat, satu mahasiswa sempat diamankan, namun dilepaskan kembali.
koordinator aksi mahasiswa FMD, Rahmatullah mengatakan, kebijakan pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi dinilai aneh. Pasalnya, saat ini, harga minyak dunia tengah mengalami penurunan.

Baca juga  Potensi Bencana Alam AkibatĀ Cuaca Ekstrim Masa Pancaroba di Kabupaten Bogor

“Alasan pemerintah untuk menghemat dan menyelamatkan APBN. Ini aneh karena  kenaikan BBM seolah satu-satunya jalan keluar menyelamatkan APBN itu,” katanya.

Ketua BEM Universitas Djuanda Asep Tobibudin Ayubi mengancam, akan terus melakukan aksi demo hingga pemerintah membatalkan kenaikan BBM. Asep kemudian membacakan pernyataan sikapnya yang terdiri dari tiga poin, yakni mengecam pemerintah agar tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, berantas mafia migas, nasionalisasikan aset asing dan laksanakan reformasi agraria.

Setelah membacakan tuntutan, aksi diakhiri dengan menggelar salat ghaib sebagai bentuk telah matinya demokrasi dan keberpihakan terhadap rakyat kecil.

Sejumlah pengguna jalan merasa terganggu dengan aksi demo ini. Aksi demo yang dilakukan mahasiswa itu dinilai sudah melenceng. “Lagi pula, untuk menyuarakan aspirasi, tidak perlu turun ke jalan, karena pasti mengganggu lalu lintas,” tutur Rohendi, pengguna jalan. [] Harian  PAKAR/Admin

 



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *