Ketua Badan Pengawas Kodjari Dewi Jani Tjandera

Bos Kodjari Blak Blakan Minta Kadishub Diganti

BOGOR-KITA.com – Kekecewaan diperlihatkan oleh Ketua Badan Pengawas Kodjari, Dewi Jani Tjandera terkait dihentikannya pengoperasian angkot modern di TPK 4.

Kekecewaan itu di antaranya, Dishub tidak komitmen dalam menjalankan program konversi. Dishub tidak menjalankan SK Walikota 2018 tentang 30 trayek dan 7 TPK, karena kenyataannya SK Walikota 2012 tentang 23 trayek lintasan masih dijalankan. Sesuai dengan SK Walikota 2012 ada 23 trayek, sedangkan SK Walikota 2018 memiliki 30 trayek dan 7 TPK dan saat ini semuanya dijalankan berbarengan, sehingga tidak jelas dan amburadul.

Dishub tidak tegas terhadap perusahaan angkot yang sudah melaksanakan sesuai keinginan Dishub. Namun ketika ada permasalahan, Dishub tidak bertanggung jawab menghadapi dengan memberikan jaminan terhadap angkot yang sudah menjalankan konversi.

“Sebagai perintis angkutan konversi sangat kecewa karena tidak ada kesiapan dari Dishub karena dianggap semua mudah dan seolah akan lancar, padahal dalam perjalannya bermasalah. Ketika ada peristiwa, tidak ada jaminan apa apa dari Dishub sehingga angkot modern kami tidak bisa mengaspal,” ucapnya.

Dewi juga meminta agar Kadishub Rakhmawati turun dari jabatannya sebagai Kadis. Ia tidak cocok menjadi Kadishub karena kerjanya selalu di belakang layar, tidak tampil langsung, malah selama program rerouting ini dijalankan dia tidak menghadapi sendiri, selalu diwakilan anak buahnya. Jadi belum pernah kadis hadir dalam rapat dengan kami.

Baca juga  Usmar Enggan Salahkan Dishub Terkait Mandeknya Program Konversi Angkot

“Saya setuju kalau Kadishub yang sekarang ini turun dari jabatannya, karena Kadishub bukan orang yang tepat di bidangnya,” pintanya.

Lanjut Dewi, kalau di angkutan itu harus berani, karena yang dihadapi mayoritas di luar meja artinya di lapangan. Kadis tidak bisa membaca pihak mana yang sungguh sungguh menjalankan rerouting dan orang yang memanfaatkan program rerouting, sehingga terjadi permasalahan seperti ini. Apalagi soal angkutan, Kadis tidak menguasai bidangnya, karena dia tidak pernah turun dan merangkul, baik sopir angkot maupun para pengusaha angkot.

“Untuk Kadishub ini memang cocoknya seorang laki laki, yang bisa bekerja di lapangan dan langsung menangani permasalahan. Saya sangat kecewa dengan model Kadis saat ini, karena sebagai pihak yang menjalankan program yang sudah dicanangkan oleh mereka, malah tidak diperhatikan dan di utamakan,” tegasnya.

Soal dihentikannya angkot modern, Dewi meminta surat tertulis dari Dishub dan harus menentukan secara tertulis hitam diatas putih, dan dalam perjanjian itu harus ada sanksi nya. Dengan adanya kejadian itu, Dewi mengaku sudah mengalami banyak kerugian, baik moril dan materil. Saat ini para sopir menganggur akibat tidak beroperasinya angkot modern. Bukan itu saja, perusahaan tetap membayar biaya credit bulanan dari angkot modern yang sudah jadi yaitu 11 unit angkot modern yang tidak bisa mengaspal. Masalah angkot sudah sangat kronis sehingga memang harus segera di merger dengan sistem konversi.

Baca juga  PKL Dewi Sartika Sampaikan Aspirasinya

“Masalah angkot di Kota Bogor ini kalau ibaratkan penyakit sudah mengalami kanker stadium 4. Saat ini angkot angkot sangat terpuruk, banyak angkot bukan dikuasai oleh pemilik angkot tetapi oleh sopir sopir angkot dan hal itu merugikan. Ketika perusahaan saya sanggup menjalankan konversi, kenapa malah Kodjari yang disorot, bukan malah dibantu untuk tetap beroperasi sebagai leader konversi di TPK 4,” tandasnya.

“Saya setuju angkot ini menjadi angkutan masal yaitu bus, karena badan hukum saya belum mampu menyediakan bus, maka saya ambil konversi 3 banding 2. Tapi kalau sudah berjalan minimal 7 tahun, semua angkot angkot saya juga akan di konversi menjadi bus dengan skema 2 banding 1,” lanjutnya.

Ketika ditanyakan soal merk kendaraan yang digunakan Kodjari, Dewi menjelaskan bahwa pihaknya memiliki produk Suzuki karena perusahaan itu sudah teruji dan sudah lama. Mobil nya sangat teruji dengan bahan bakar irit, sparepart mudah dicari dan gampang serta murah. Produk Suzuki juga sudah digunakan oleh angkot sejak puluhan tahun yaitu Suzuki Carry. Selain itu supir supir juga sudah nyaman dengan merk Suzuki.

Baca juga  Usmar Hariman Apresiasi Jalan Sehat Keluarga Besar PDAM Tirta Pakuan

“Saya tidak ada kepentingan dengan salah satu merk perusahaan kendaran. Saat ini memang kami mempercayai merk Suzuki, tetapi kalau memang ada merk lain juga ga apa apa. Kami nilai bahwa Suzuki yang paling enak dan nyaman bagi para supir angkot,” pungkasnya. [] Fadil



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *