Kota Bogor

Bima Arya Ingatkan Ancaman ‘Lost Generation’

Bima Arya

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Wali Kota Bogor, Bima Arya mengingatkan ancaman ‘Lost Generation’ (Generasi yang hilang). Untuk itu ia mengajak para guru untuk terus berikhtiar melewati masa pandemi Covid-19.

“Saat ini adalah masa yang sangat berat, tapi mari kita ikhtiar bersama-sama bahwa tidak ada generasi yang hilang,” katanya saat menjadi keynote speaker Webinar memperingati Hari Guru Nasional dan HUT PGRI Ke-75 Tahun 2020 Tingkat Kota Bogor secara virtual dari ruang kerjanya, Balai Kota Bogor, Selasa (24/11/2020).

Generasi hilang yang dimaksud Bima Arya adalah anak-anak yang tidak memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sebab, pandemi ini yang belum diketahui kapan akan berakhir dan vaksin pun belum diketahui kapan bisa diberikan.

Sementara itu, kegiatan pembelajaran bagi para siswa yang dilaksanakan jarak jauh atau daring membuat tenaga pendidik maupun para orang tua dihadapkan pada masalah yang tidak mudah.

“Dampaknya bagi para siswa khususnya sungguh luar biasa,” kata wali kota.

Merespon apa yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengenai rencana pembelajaran tatap muka tahun 2021. Bima Arya meminta tenaga pendidik dan pihak sekolah menyiapkan rencana tersebut sebaik mungkin.

Baca juga  PNS Pemkot Bogor Peringati Hari Lahir Pancasila

Selanjutnya Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Pendidikan (Disdik) dan Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Provinsi Jawa Barat akan melakukan pemeriksaan semua sekolah mengenai perangkat protokol kesehatan.

Selain itu, lingkungan sekolah juga menjadi hal yang harus diperhatikan dan harus aman dari kerumunan para siswa setelah berakhirnya proses pembelajaran. Kepada satgas sekolah bersama aparatur wilayah Bima Arya meminta untuk memastikan hal tersebut.

“Sistem belajar juga harus dipastikan aman. Ada pembatasan kuota, masuknya digilir dan tetap ada PJJ,” jelasnya.

Orang tua yang tidak memberikan izin anaknya untuk mengikuti pembelajaran secara tatap muka, maka siswa tersebut tidak diwajibkan mengikuti kegiatan tatap muka.

Saat ini, Disdik Kota Bogor masih merumuskan panduan teknis untuk disosialisasikan kepada semua sekolah di Kota Bogor.

Pada intinya, di sisi lain PJJ memiliki banyak dampak negatif, baik bagi siswa yang tidak mendapatkan pendidikan yang berkualitas maupun orang tua yang tidak semua mampu membimbing anaknya dan memenuhi kebutuhan PJJ di masa pandemi Covid-19.

Baca juga  Aher : Muskomwil III Apeksi 2017 Dorong Peningkatan Pelayanan Inovasi Daerah

“Tenaga pendidik sendiri, masih banyak yang belum bisa menyesuaikan dengan PJJ. Data yang ada, hampir 60 persen instruksi sekolah diberikan melalui whatsapp (WA) group,” sebutnya.

Di sisi lain, Bima Arya tidak ingin ada korban anak-anak yang berjatuhan ketika rencana pembelajaran tatap muka berjalan. Anak-anak adalah masa depan, pemimpin pada saatnya.

“Untuk itu harus dijaga dan diselamatkan,” ujarnya.

Ia juga kembali menekankan pentingnya penerapan protokol kesehatan. Sebelum dilaksanakan kegiatan tatap muka, rencananya para tenaga pendidik dan diharuskan mengikuti tes PCR atau Swab Test. Saat ini Pemkot Bogor tengah berupaya mempersiapkan segala sesuatunya.

“Insya Allah kita akan kombinasikan kualitas pendidikan dan protokol kesehatan. Semoga semua bisa berjalan dengan baik,” pungkasnya. [] Hari/ Prokompim

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top