Sekda Kota Bogor, Ade Sarip Hidayat saat membuka rapat koordinasi TPID di Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Senin (23/12/2019).

Ade Sarip Minta TPID Antisipasi Inflasi Akibat Isu Global

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Ade Sarip Hidayat menginginkan agar Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Bogor dapat mempelajari, memahami dan mengevaluasi penyebab meningkatnya angka inflasi di Kota Bogor.

“Saya ingin TPID Kota Bogor paham dan mengerti secara benar terhadap apa yang dilakukan melalui penguatan dan pemanfaatan potensi-potensi yang dimiliki untuk mengantisipasi kenaikan nilai inflasi yang disebabkan isu global dan hal lainnya. Untuk itu, saya ingin adanya inventarisir potensi yang dimiliki Kota Bogor,” kata Sekda Kota Bogor, Ade Sarip Hidayat saat membuka rapat koordinasi TPID di Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Senin (23/12/2019).

Berdasarkan data tahun 2018, angka pertumbuhan ekonomi Kota Bogor sebesar 6,14 persen diatas provinsi dan nasional. Namun disisi lain untuk laju inflasi, provinsi dan nasional lebih baik dari Kota Bogor yang masuk lima di Jawa Barat, yakni sebesar 3,69 persen.

Kepada TPID Kota Bogor Sekda meminta agar mempelajari, memperhatikan dan mengevaluasi apa yang menjadi penyebabnya. Setelah memahami, diharapkan TPID ikut berperan dalam upayanya menekan atau menstabilkan inflasi di Kota Bogor. Ia juga menginginkan dibuatkan rencana aksi secara nyata untuk menggali potensi dan hal lain yang belum digali secara maksimal.

Baca juga  Dua Tahun Kerja Sama dengan Jepang, Volume Sampah di Kota Bogor Turun

Ade menilai pemerintah daerah memiliki peran yang penting dalam menjaga kestabilan nilai inflasi daerah, mulai dari tingkat yang rendah sehingga tetap stabil dan membantu capaian sasaran inflasi nasional, sehingga dapat meningkatkan daya saing dan menjamin kesinambungan pertumbuhan ekonomi.

Sekda menyebutkan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan unsur pemerintah sesuai dengan langkah yang diterapkan pada tingkat nasional, diantaranya mengoptimalkan kaitan infrastruktur, kerja sama untuk mendukung perekonomian dan kelancaran dengan wilayah lain serta menjadikan teknologi informasi sebagai bagian untuk mendukung kestabilan inflasi.

Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan Kerja Sama Setdakot Bogor, Dewi Kurniasari diawal menyampaikan, salah satu yang menyebabkan Kota Bogor selalu berada di posisi 5 besar nilai inflasinya, karena Kota Bogor merupakan kota konsumen atau kota konsumsi yang sangat tergantung pada wilayah-wilayah di sekitarnya yang merupakan produsen bahan pangan.

“Tujuan yang ingin dicapai adalah meningkatkan kemampuan atau pemahaman TPID Kota Bogor dan peserta acara mengenai inflasi daerah serta untuk mengetahui potensi wilayah di luar Kota Bogor menjalin kerja sama guna menjaga kelancaran distribusi bahan pangan strategis. Jika diibaratkan, inflasi itu seperti tekanan darah yang harus dijaga kestabilannya,” jelas Dewi.

Baca juga  Menuju Lansia Sehat dan Produktif, Dinkes Kota Bogor Gelar Workshop

Dewi menjelaskan laju inflasi Kota Bogor pada beberapa periode, November 2019 sebesar 0,24 persen, November 2019 terhadap Desember 2018 sebesar 2,71 persen dan November 2019 terhadap November 2018 sebesar 3,52 persen.

Selain itu, dalam rakor tersebut dipaparkan roadmap TPID Kota Bogor tahun 2019, mulai dari keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi.

Turut hadir dalam rakor, Imaduddin Sahabat dari Bank Indonesia perwakilan Provinsi Jawa Barat dan Djaja Adi Saputra, Sekretariat TPID Jawa Barat Biro Perekonomian Setda Provinsi Jawa Barat sebagai para narasumber. [] Admin/Humas Pemkot Bogor



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *