Malam Kelima Kebakaran TPAS Galuga
BOGOR-KITA.com, BOGOR – Upaya pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, terus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor hingga malam kelima.
Pemkot Bogor bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor mengerahkan berbagai unsur untuk mempercepat penanganan kebakaran, mulai dari petugas pemadam kebakaran, alat berat, TNI-Polri, relawan hingga masyarakat.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim mengatakan, perkembangan penanganan mulai menunjukkan hasil. Namun, kondisi tumpukan sampah yang terbakar menjadi tantangan tersendiri karena bara api masih tersimpan di bagian dalam.
“Titik kemajuannya sudah terlihat. Namun, seperti yang kita duga, memang api di lokasi tempat pembuangan akhir sampah ini ibarat sekam yang ada di dalam. Jadi kelihatan dari luar seperti tidak ada muncul titik api. Tetapi manakala kita gali, kemudian terlihat titik api,” kata Dedie, Jumat (11/9/2026).
Menurut Dedie, berdasarkan evaluasi di lapangan, karakter tumpukan sampah di TPAS Galuga menyerupai lahan gambut. Karena itu, penanganan tidak cukup hanya dengan menyiram permukaan, tetapi harus dilakukan dengan membuka tumpukan sampah menggunakan alat berat untuk menemukan sumber bara.
Setelah titik api ditemukan, petugas kemudian melakukan penyiraman secara berulang. Pola tersebut dilakukan secara bertahap karena sejumlah bara berada jauh di dalam timbunan sampah.
“Jadi kita menduga itu belum padam. Memang ada yang belum terjangkau karena kesulitan akses. Dan memang harus secara bertahap dibuka, kemudian disiram, dibuka, disiram. Cuma memang memakan waktu,” ujarnya.
Kondisi tersebut juga membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama. Bahkan, ketika permukaan terlihat telah terbebas dari api, asap masih dapat muncul saat tumpukan sampah dibongkar.
Dedie menyebut tumpukan sampah yang telah berada di lokasi selama bertahun-tahun memiliki tekstur keras menyerupai briket. Kandungan kalori di dalamnya membuat material tersebut tetap berpotensi menyimpan bara dan kembali terbakar.
“Sejauh ini hampir semua unsur sudah dilibatkan dan alhamdulillah bantuannya membuahkan hasil. Hanya belum bisa mencapai 100 persen pemadaman api,” katanya.
Selain persoalan karakter tumpukan sampah, ketersediaan air juga menjadi kendala dalam proses pemadaman. Kondisi tersebut semakin terasa karena saat ini terjadi musim kemarau panjang.
Pemkot Bogor pun harus mengatur penggunaan pasokan air untuk pemadaman dengan kebutuhan masyarakat. Penyemprotan dilakukan hingga dini hari dengan menyesuaikan ketersediaan suplai air.
“Proses ini kita lakukan paling tidak sampai pukul 2 hingga pukul 3 dini hari, karena kita menyesuaikan dengan ketersediaan suplai air. Karena pada pukul 3 itu kebutuhan air masyarakat mulai meningkat,” ungkapnya.
Dalam penanganan tersebut, Dedie bersama Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin, Sekda Kota Bogor Denny Mulyadi, Kepala DLH Kota Bogor Rudy Mashudi, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bogor Agung, Sekretaris Dinas Damkar dan Penyelamatan Teo, serta Kalak BPBD Kota Bogor Dimas Tiko juga melakukan koordinasi dengan jajaran Pemkab Bogor.
Pertemuan bersama Bupati Bogor Rudy Susmanto, Sekda Kabupaten Bogor dan Ketua DPRD Kabupaten Bogor membahas percepatan penanganan kebakaran di area TPAS, baik yang berada di lahan Pemkot Bogor maupun Pemkab Bogor.
Pemadaman dilakukan secara terpadu melalui jalur darat dengan mengombinasikan penyemprotan air dan pengerahan alat berat untuk membongkar timbunan sampah.
Pemkot Bogor juga berkoordinasi dengan Lanud Atang Sendjaja (ATS) untuk mempertahankan pelaksanaan water bombing. Upaya pemadaman dari udara tersebut menjadi salah satu metode yang terus diupayakan untuk membantu penanganan dari jalur darat.
Dedie menegaskan seluruh metode akan ditempuh untuk memastikan api di TPAS Galuga dapat dikendalikan dan dipadamkan sepenuhnya.
“Memang segala cara harus kita upayakan,” tegasnya. [] Ricky
