Melukat Jadi Tren Anak Muda Urban, Sosiolog IPB Soroti Pergeseran Makna Spiritual
BOGOR-KITA.com, BOGOR — Ritual melukat di Bali semakin diminati generasi muda urban. Di tengah berkembangnya tren wellness tourism, melukat tidak hanya dipandang sebagai bagian dari tradisi keagamaan Hindu Bali, tetapi juga menjadi pengalaman untuk mencari ketenangan dan melakukan refleksi diri.
Sosiolog IPB University, Dr Ivanovich Agusta, mengatakan melukat merupakan ritual penyucian diri secara sekala dan niskala atau lahir dan batin menggunakan air yang telah disucikan.
Menurut dia, ritual yang awalnya berlangsung dalam konteks religius dan budaya lokal kini mengalami perubahan seiring perkembangan gaya hidup masyarakat modern.
“Ritual yang pada mulanya bersifat religius kini menjadi ruang perjumpaan antara kebutuhan psikologis masyarakat modern, dinamika media sosial, dan industri pariwisata,” ujar Ivanovich dalam keterangan tertulis diterima redaksi Bogor Kita.
Ia menjelaskan, masyarakat urban menghadapi ritme kehidupan yang cepat, kompetitif, dan penuh tekanan. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan terhadap aktivitas yang dapat memberikan ketenangan sekaligus menjadi sarana refleksi diri.
Perubahan itu, kata Ivanovich, turut terlihat dari berkembangnya konsep wellness tourism. Wisatawan kini tidak hanya mencari destinasi dengan pemandangan menarik, tetapi juga pengalaman yang dianggap personal dan bermakna.
“Wisatawan tidak hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga pengalaman yang personal dan bermakna. Melukat menawarkan suasana alam yang tenang, simbol penyucian, serta narasi tentang melepaskan beban dan memulai kembali, sehingga sesuai dengan kebutuhan wisatawan kontemporer akan pengalaman yang holistik dan transformatif,” jelasnya.
Ivanovich menilai generasi muda juga memiliki kecenderungan mencari pengalaman spiritual yang lebih personal dan dekat dengan alam. Dalam konteks tersebut, melukat dapat menjadi ruang refleksi bagi wisatawan tanpa harus mengubah keyakinan mereka.
Namun, meningkatnya popularitas melukat juga tidak terlepas dari pengaruh media sosial. Informasi mengenai ritual tersebut semakin mudah ditemukan melalui unggahan selebritas, influencer, maupun pengalaman pengguna media sosial.
“Ada orang yang datang untuk refleksi diri, tetapi ada pula yang pertama kali mengenal melukat melalui unggahan selebriti, influencer, atau teman di media sosial,” katanya.
Menurut Ivanovich, media sosial membentuk social proof yang membuat melukat semakin menarik untuk dicoba. Konten visual, testimoni pengalaman, serta mekanisme algoritma media sosial turut memperluas popularitas ritual tersebut.
Fenomena itu, kata dia, dapat disebut sebagai hyperreality, yakni ketika citra visual mengenai sebuah ritual lebih dikenal dibandingkan makna sakral yang melatarbelakanginya.
Meski demikian, Ivanovich mengingatkan agar wisatawan tidak langsung menilai setiap orang yang mengikuti atau membagikan pengalaman melukat di media sosial sebagai bagian dari tren semata.
“Seseorang bisa mengenal melukat melalui media sosial, datang karena tren, tetapi kemudian memperoleh pengalaman reflektif yang sungguh-sungguh,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai peningkatan minat terhadap melukat perlu diikuti pemahaman mengenai nilai spiritual dan budaya yang terkandung di dalamnya.
“Yang terpenting bukan membatasi wisatawan, melainkan memastikan mereka memahami makna ritual, menghormati tata cara yang berlaku, serta mengikuti arahan masyarakat adat dan pemangku agar nilai spiritual dan budaya melukat tetap terjaga,” pungkasnya. [] Hari
