Kota Bogor

42% Pensiunan Hidup di Rumah Tangga Miskin

Oleh: Syarifudin Yunus,

Asesor LSP Dana Pensiun & Humas ADPI

Hampir separuh pensiunan atau lansia di Indonesia hidup di rumah tangga miskin–rentan miskin. Laporan BPS (2024) menyebut 42% pensiunan atau lansia berada pada rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 40% terbawah. Sisanya 38% pensiunan hidup di rumah tangga dengan pengeluaran 40% menengah dan 20% pensiunan pada rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 20% teratas. Artinya, sebagian besar pensiunan atau lansia Indonesia hidup di rumah tangga berpengeluaran rendah, dan hanya sedikit yang berada di kelompok ekonomi atas.

Sebanyak 42% pensiunan ada di pengeluaran 40% terbawah. Itu berarti, hampir separuh pensiunan hidup di rumah tangga miskin–rentan miskin. Kelompok rumah tangga dengan pengeluaran paling kecil secara nasional. Indikasi kuatnya adalah banyak pensiunan tidak punya cadangan ekonomi sendiri, bergantung pada keluarga, dan rentan kemiskinan di usia tua. Sementara 38% pensiun berada di pengeluaran 40% menengah. Artinya, sepertiga pensiun hidup “cukup” tapi masih rentan mengalami masalah keuangan. Tidak miskin tapi sangat sensitif terhadap guncangan ekonomi (sakit, tidak dikirim uang oleh anak, inflasi). Sebuah kondisi hari tua yang mudah jatuh ke kemiskinan.

Baca juga  Nikmati Dahsyatnya Sedekah

Hanya 20% pensiunan berada di pengeluaran 20% teratas. Artinya cuma 1 dari 5 pensiunan yang hidup relatif mapan secara finansial. Kelompok ini biasanya punya program pensiun sukarela seperti DPLK, punya aset dan tabungan atau atau punya usaha di hari tua. Kesimpulannya sederhana, sekitar 80% pensiunan atau lansia di Indonesia hidup dalam keadaan miskin atau menengah ke bawah. Mayoritas berada di kelompok bawah dan menengah bawah.

Kondisi ini menegaskan bahwa pensiunan atau lansia di Indonesia sama sekali tidak mandiri secara finansial di hari tua. Biaya hidupnya bergantung pada keluarga atau anak-anaknya. Sebanyak 84% pensiunan atau lansia menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota rumah tangga yang bekerja, 11% bergantung pada kiriman dari anak, 5% dari uang pensiunnya sendiri, dan hanya 0,28% yang bergantung pada investasi yang dimiliki. Ini artinya, 8 dari 10 pensiunan bergantung secara finansial kepada anggota keluarganya yang bekerja (BPS, 2024).

Baca juga  Melalui Wakaf, PT AIA Financial Bersama Dompet Dhuafa Hadirkan Poliklinik

Terbukti, sistem pensiun belum menjangkau mayoritas penduduk, khususnya sektor individual dan pekerja informal. Pensiunan atau lansia masih sangat bergantung secara finansial pada anak atau keluarganya sehingga risiko kemiskinan di usia tua sangat besar. Dana pensiun baru dimiliki oleh minoritas masyarakat. Sebuah kondisi yang menegaskann rendahnya perlindungan hari tua dan masih tingginya ketergantungan pensiunan pada dukungan keluarga.

Karena itu, dana pensiun sukarela seperti DPLK (Dana Pensiunn Lembaga Keuangan) menjadi penting untuk terus disosialisasikan ke masyarakat. Butuh edukasi yang masif dan kemudahan akses agar masyarakat bisa memiliki dana pensiun. Yuk Siapkan Pensiun!

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top