Kab. Bogor

3 Tantangan Ketahanan Pangan Indonesia Menurut Akademisi IPB

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Abdul Qadir, Kepala Program Studi (Kaprodi) Teknologi Industri Benih Sekolah Vokasi IPB University menjelaskan bahwa dalam mewujudkan ketahanan pangan, Indonesia dihadapkan oleh tiga tantangan.  Tantangan pertama, dibutuhkan teknologi untuk mengatasi penurunan fungsi lahan dan perubahan iklim, serta gangguan produksi.

Yang kedua adalah dibutuhkan jenis dan varietas tanaman yang tahan terhadap deraan perubahan iklim dan penurunan fungsi lahan. Dan yang ketiga, dibutuhkan perubahan budaya makan dari karbohidrat biji ke karbohidrat non biji. Hal ini ia sampaikan dalam Webinar Seri I yang digelar Sekolah Vokasi IPB University dengan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, (22/9/2022).

“Paling tidak, ada tujuh peran utama pendidikan vokasi dalam mewujudkan ketahanan pangan Indonesia,” jelasnya.

Baca juga  Rektor IPB Paparkan Syarat Pertanian Bertahan di Masa Pandemi COVID-19

Ia melanjutkan, peran ini di antaranya menyediakan sumberdaya manusia kompeten sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang dibutuhkan oleh industri penyedia pangan. Melalui skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), mahasiswa Sekolah Vokasi dapat menghasilkan produk untuk bahan pangan. Melalui teaching factory mahasiswa dapat menghasilkan produk bahan pangan.

“Melalui pembelajaran student centered learning, Sekolah Vokasi menghasilkan lulusan kompeten sebagai problem solving pada level SKKNI. Menyediakan inovasi teknologi terapan yang dibutuhkan industri dengan kendala lahan dan perubahan iklim. Menyebarkan inovasi tersebut kepada masyarakat secara luas melalui kegiatan pengabdian. Terakhir, menjadi pusat pelatihan untuk peningkatan kompetensi pelaku industri penyedia pangan,” imbuhnya.

Di sub sektor peternakan, katanya, Sekolah Vokasi juga memiliki peranan untuk menghasilkan peternak millenial dengan teknologi smart farming.

Baca juga  Ini Gambaran Babak Baru Hubungan Pemerintah Jabodetabekjur

Sementara itu, Danang Priyambodo, Kaprodi Teknologi dan Manajemen Ternak Sekolah Vokasi IPB University mengatakan dengan tingkat keberagaman asal mahasiswa yang tinggi, kita dapat mudah menyebarluaskan teknologi peternakan kekinian di seluruh Indonesia.

“Selain itu, dalam menunjang sistem pendidikan melalui teaching factory, Sekolah Vokasi IPB di Sukabumi memiliki closed house ayam broiler modern dengan kapasitas 40.000 ekor. Mahasiswa dapat langsung melakukan kegiatan praktik dengan suasana industri. Luarannya, mahasiswa dapat mengetahui cara kerja dan mendapatkan tuntutan hasil performa yang baik, sehingga dapat terbiasa di industri sesungguhnya,” imbuhnya.

Di samping itu, lanjutnya, mahasiswa didorong untuk melakukan riset dengan teknologi peternakan terapan sehingga mampu mendorong industri peternakan Indonesia.

Baca juga  Jabar Pinjam Rp4 Triliun untuk Pemulihan Ekonomi

“Di dalam menunjang ketahanan pangan bagi peternak Indonesia, hasil-hasil penelitian tadi langsung diaplikasikan dan disampaikan kepada masyarakat, khususnya para peternak. Harapannya semangat peternak dalam melakukan budidaya selalu ada,” terangnya.

Guru Besar Ekonomi Pembangunan IPB University, Prof Arief Daryanto menambahkan bahwa pendidikan vokasi harus mampu mempromosikan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan industri. Hal ini akan sangat baik bila didukung oleh pemerintah melalui kerjasama triple helix.

“Resepnya adalah bila perguruan tinggi berpartner dengan industri. Kurikulumnya juga disesuaikan dengan kebutuhan industri, kebutuhan praktik yang disebut dengan kurikulum berbasis permintaan hingga harapannya kompetensinya sesuai dengan kebutuhan industri,” ujar Dekan Sekolah Vokasi IPB University ini. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top