Kab. Bogor

Tragedi di Proyek Jembatan Leuwiranji, Antara Persoalan Teknis serta Mistis

Pencarian pekerja jatuh dari jembatan leuwiranji

BOGOR-KITA.com, RUMPIN – Pekerjaan perawatan berkala pada Jembatan Leuwiranji yang ada di perbatasan antara Kecamatan Rumpin dan Gunungsindur hampir rampung. Namun, memasuki tahap akhir pekerjaan, sebuah tragedi maut terjadi.

Seorang pekerja proyek, mengalami musibah kecelakaan kerja jatuh ke Sungai Cisadane. Korban diketahui tengah bekerja lembur di waktu malam hari, tiba – tiba terpeleset lalu jatuh ke sungai dan hanyut terbawa arus.

Insiden tragis ini menimbulkan banyak tanya di benak publik, terutama soal penggunaan alat kelengkapan keselamatan kerja (K3) bagi para pekerja di lokasi proyek serta sistem pengawasan dari pihak – pihak terkait.

“Banyak pertanyaan yang muncul, bagaimana penggunaan alat K3? Belum lagi pertanyaan soal SOP, pengawasan dan terkait hal – hal tekns lainnya,” ucap Ridwan, seorang warga Kecamatan Rumpin, Selasa (3/2/2026).

Aktifis kesehatan yang juga bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta ini menjelaskan, sejak awal pekerjaan proyek dimulai, warga masyarakat sudah peduli dan mewanti – wanti agar pekerjaan itu dilakukan secara hati – hati dan penuh kewaspadaan.

Baca juga  OPINI: Apakah Menyesal Berada di Taman Bacaan?

“Karena kondisi cuaca sering hujan, tentu sebagian material seperti baja dan besi akan licin. Air sungai juga deras, jadi sangat perlu kewaspadaan dan kehati-hatian,” ujarnya.

Selain persoalan teknis yang kasat mata, ada pula warga yang mengaitkan tragedi tersebut dengan aura mistis yang berada di sekitar Jembatan Leuwiranji. Meski hal ini abstrak, namun banyak warga yang mempercayainya.

“Namanya pekerjaan di atas aliran sungai besar, tentu ada hal – hal lain yang tak terlihat oleh mata telanjang manusia. Terlebih lagi, Jembatan Leuwiranji itu diapit dua makam umum besar,” ujar Mukti, warga Gunungsindur

Ia menjelaskan,, Tempat Pemakaman Umum tersebut berada di Desa Jampang dan Desa Sukamulya. Posisi dua makam umum besar persis memgapit Jembatan Leuwiranji. Di sisi lain aktivitas kerja dilakukan siang malam.

Baca juga  Longsor di Desa Cibunian, Lima Kampung Terdampak

“Di sebelah timur ada makam umum Kramat Jampang Gunungsidur. Lalu di sebelah barat ada makam umum Leuwiranji Rumpin. Lalu pekerjaan dilakukan siang malam, bisa jadi ada yang merasa terganggu,” ungkapnya.

Adanya fenomena aura mistis di Jembatan Leuwiranji juga diungkapkan Ika, seorang pemilik warung kopi di Kampung Leuwiranji yang tak jauh dari lokasi jembatan tersebut.

Ika menuturkan, saat peristiwa itu terjadi, ada beberapa pekerja yang datang ke warung dan minta tolong ke warga sekitar karena ada rekannya yang jatuh ke Sungai Cisadane.

“Kejadiannya itu setelah maghrib. Beberapa orang pekerja yang biasa ngopi di warung saya datang mengabarkan temannya jatuh dan meminta bantuan warga,” ungkap Ika.

Ika menjelaslan, dirinya sering menasehati para pekerja di proyek tersebut agar jangan bekerja saat waktu maghrib apalagi malam Jumat dan Selasa. Sebab tiap daerah punya adat iatiadat dan kebiasaan berbeda – beda.

Baca juga  OPINI: Tolong Ajari Saya Baca-Tulis, Suara Ibu Buta Huruf di Kaki Gunung Salak

Wanita paruh baya ini menutturkan, pekerja suka bercerita kalau saat hujan deras turun, di sekitar aliran sungai atau di lokasi tempat mereka kerja sering terlihat muncul bayangan makhluk – makhluk aneh menyeramkan.

“Saya cuma bilang dan nasehatin mereka agar sering berdo’a, tidak berkata kasar, kotor dan sombong saat bekerja, apalagi saat kerja di waktu malam hari,” ujarnya.

Ika menambahkan, para pekerja tersebut memang mengaku sudah sering bekerja memperbaiki jembatan di berbagai wilayah. Namun dirinya tetap mengingatkan kepada para pekerja untuk tetap hati-hati dan sopan.

“Soalnya mereka itu bekerja nya lembur (waktu tambahan) sampai malam. Kadang sampai jam 10 atau 11 malam,” ujarnya. [] Fahry

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top