Kota Bogor

Tahun Depan Besaran Uang Intensif Guru Ngaji Meningkat

BOGOR-KITA.com – Pemberian intensif guru ngaji tahap dua diberikan kepada 550 guru ngaji se-kecamatan Bogor Barat, Selasa (22/8/2017) di Masjid Nurul Amal Yonif 315, jalan Mayjen Ishak Djuarsa, Kota Bogor. Pemberian insentif ini diberikan sekaligus untuk tujuh bulan dengan nomimal Rp. 350 ribu perorang.

Wali Kota Bogor Bima Arya menilai, para guru ngaji ini memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan akhlak generasi muda di Kota Bogor. Menurutnya, dengan mengaji, anak-anak akan memiliki akhlak yang baik, takut kepada Allah SWT serta lebih cinta kepada akhirat dibanding cinta kepada dunia.

“Jika sejak kecil sudah ditanamkan dua hal tersebut, maka ketika besar langkahnya akan ringan dan tidak akan offside dari jalurnya,” ujarnya.

Baca juga  Produksi Lele Kabupaten Bogor Terus Meningkat, 2018 Mencapai 88 Ribu Ton

Terkait pemberian intensif ini, lanjut Bima, uang yang diberikan memang masih jauh dari ideal, tetapi ini bentuk dari perhatian dan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk mensejahterakan para guru ngaji. Meski begitu, dirinya akan terus memperjuangkan uang insentif bagi guru ngaji sehingga di tahun anggaran berikutnya jumlah penerima dan nominalnya bisa bertambah.

“Semoga di tahun depan bisa lebih besar lagi sesuai dengan kemampuan anggaran Pemkot Bogor,” terangnya.

Kepala Bagian (Kabag) Kemasyarakatan Imam mengatakan, rencananya peningkatan intensif guru ngaji di tahun depan akan ditambah menjadi 2.500 guru ngaji dari sebelumnya 2.398 orang. Tak hanya itu, jika saat ini hanya diberikan untuk 10 bulan dengan besaran Rp. 500 ribu per orang, maka akan ditingkatkan menjadi 12 bulan dengan besaran Rp 1,2 juta perorang.

Baca juga  Corona Kabupaten Bogor: Positif 98, Sembuh 61, Positif Aktif Meningkat Jadi 786 Orang

“Kami harap usulan tersebut diterima DPRD Kota Bogor apalagi tujuannya untuk mensejahterakan para guru ngaji yang memang tidak memiliki penghasilan alias mengajar dengan sukarela dan penuh keikhlasan,” katanya.

Sementara itu, Salah satu penerima intensif Een Sukaenah (63) mengatakan, ia yang sehari-harinya berjualan sayur di rumah ini merasa terpanggil untuk menjadi guru ngaji karena melihat anak-anak disekitar rumahnya banyak yang tidak bisa mengaji.

“Ada sekitar sepuluh anak yang mengaji selepas magrib di rumah saya,” ujarnya. []Admin

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top