Kab. Bogor

Tahan Godaan

Ilustrasi

Oleh: Syarifudin Yunus (Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Bogor)

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Bila ada hal yang dianggap sepele tapi berdampak besar, itulah tahan godaan.

Hari ini mungkin hingga esok, banyak orang tidak lagi tahan godaan. Terlalu mudah diganggu. Atau bersahabat dengan gangguan.

Maka wajar, ada yang dipenjara, ada yang korupsi. Berjiwa konsumtif lalu hedonis, bisa jadi akibat tidak tahan godaan. Ngomongin orang pun termasuk tidak tahan godaan. Tidak tahan godaan dunia, tidak tahan godaan setan dan godaan-godaan lainnya.

Banyak orang lupa. Semua godaan itu pasti lebih menarik, lebih enak. Maka jadi mudah tergoda. Itulah sifat alami godaan. Ingat pepatah “rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri,” itu pun sebuah godaan.

Baca juga  Gengsi Bukan Harga Diri

Mengatakan tidak pada sesuatu yang menarik itu memang sulit. Maka kata orang banyak, godaan itu selalu sulit untuk ditolak. Apa iya begitu?

Godaan itu pasti jadi ujian sebuah komitmen, ujian terhadap konsistensi. Bahkan bisa jadi ujian kesederhanaan. Karena memang semua godaan pasti menyenangkan.

Lebih enak daripada hal yang tanpa godaan. Nongkrong di kafe pastinya lebih enak daripada membaca buku.

Memang tugas godaan itu menganggu. Agar mampu mengisi ‘ruang keinginan’ setiap anak manusia. Untuk sebuah kepuasan diri. Untuk sebuah nafsu.

Pegiat literasi atau taman bacaan pun bukan tanpa godaan. Selalu saja ada gangguan. Atau pasti ada yang menganggu. Karena taman bacana adalah kebaikan. Maka konsekuensinya pasti ada godaan.

Baca juga  Nongkrong Itu Basisnya Toleransi

Masalahnya, mampukah pegiat literasi atau taman bacaan tahan godaan? Tetap bertahan untuk menegakkan tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Sekalipun ada gangguan, ada godaan.

Sebut saja namanya literasi tahan godaan. Harusnya ukuran keberhasilan pendidikan dan orang yang belajar itu adalah kemampuan “tahan godaan”. Mahir menahan godaan, mampu mengatasi gangguan.

Apapun bentuknya. Seperti anak-anak yang tetap mampu membaca buku di tengah gempuran era digital. Anak yang rutin membaca buku, sekalipun anak-anak lainnya nongkrong atau bermain ponsel.

Seperti besok, saat bulan suci Ramadhan. Seberapa banyak orang yang mampu menahan lapar di siang hari? Seberapa banyak yang mampu menahan berbagai godaan dari ngomongin orang atau membenci? Agar bisa kembali ke fitrahnya sebagai manusia yang suci. Tentu sulit bagi mereka yang tidak mampu “tahan godaan”.

Baca juga  Ketua Umum Forum TBM Indonesia ke Bogor, Diskusi Literasi Berbasis Inklusi Sosial

Literasi tahan godaan itu sungguh penting. Untuk siapa pun dalam konteks apa pun. Karena sejatinya, orang yang tekun dan konsisten pasti akan menghadapi sejumlah godaan. Apalagi bagi mereka yang galau dan berdiam diri, justru seluruh godaan akan menyerang mereka. Maka esok bila mau lebih baik, siapa pun harus tahan godaan. Maka di situ diperlukan kurikulum tentang “tahan godaan”. Apa pun dan siapa pun tidak boleh menyerah pada godaan. Salam literasi. []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top