Kab. Bogor

OPINI: Di Balik Kasus Crazy Rich, Ada Persoalan Literasi di Indonesia

Oleh: Syarifudin Yunus,

(Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka)

BOGOR-KITA.com, TAMANSARI – Saat membaca berita tentang kasus hukum crazy rich bodong di media, jadi pengen ketawa. Lucu saja, kok bisa-bisanya banyak orang “didodolin” sama anak-anak muda yang sangat spekulan. Lalu atas nama online trading secara “dadakan” jadi miliarder. Bahkan sempat diakui media dan publik sebagai crazy rich. Lucu sekali.

Terakhir, si guru trading IK, namanya si F akhirnya dijadikan tersangka. Lucunya lagi, kok bisa-bisanya si F yang katanya “guru” tapi latar belakangnya pernah jadi tukang parkir, pengamen, buruh cuci piring, dan office boy. Di mana gurunya? Si IK pun begitu, sang crazy rich Binomo ternyata pernah jadi sales toko bangunan, driver taxi online, dan pengamen di pinggiran. Setelah hijrah ke dunia online trading, sukses membohongi 14 korban dengan nilai kerugian mencapai Rp25,6 miliar. Dahsyat sekali.

Tidak cukup sampai di situ, masih ada si DS dengan bendera investasi bodong Quotex pun mampu meraup dana senilai Rp352 miliar. Usut punya usut, si DS pun sebelumnya pernah jadi kuli dan tukang parkir. Makin lucu hidup ini, segitu gampangnya orang-orang percaya pada anak-anak muda yang latar belakangnya kayak gitu. Maaf, apa sudah segitu rakusnya manusia di negeri ini untuk mengejar kekayaan? Terlalu mudah percaya pada orang-orang yang tidak jelas, bahkan merugikan. Niatnya meraup untung malah bunting. Lagi-lagi, lucu dan aneh sekali.

Baca juga  Camat Rumpin Sosialisasi Regulasi Belajar Tatap Muka

Hidup itu memang lucu. Ada anak muda tadinya pengamen atau tukang parkir tahu-tahu jadi miliarder. Awalnya dipuji, dikagumi lalu kini jadi tahanan dan di penjara. Anehnya, kok ada orang-orang yang percaya. Tanpa cari tahu reputasi sebelumnya. Ini jadi bukti dunia onlie memang menipu dan penuh rekayasa. Hingga logika dan kesadaran manusia pun diperdaya tanpa dalih lagi. Lucu banget, anak-anak muda tidak punya latar belakang pendidikan keuangan. Tapi bisa diikuti oleh orang banyak yang spekulasi juga mencari “keberuntungan online”. Si crazy rich bermasalah, tapi para korbannya pun harus introspeksi diri dong.

Maka di balik kasus hukum para crazy rich itu, ada persoalan literasi yang serisus di masyarakat, di bangsa Indonesia. Kok bisa gampang percaya pada sesuatu yang dilakukan orang tanpa rekam jejak yang baik. Tertipu lalu jadi korban. Mungkin karena selama ini paham literasi-nya “jangan lihat orangnya tapi lihat ucapannya”. Nah begitulah jadinya, tanpa mau tahu orangnya benar atau tidak. Banyak orang lupa, literasi itu selain mengecek isi omongannya, justru menyuruh siapa pun untuk mengecek orangnya, perbuatannya, sikapnya bahkan rekam jejaknya. Literasi itu alat untuk membuktikan kebenaran. Maka orang literat itu bukan hanya berpengetahuan. Tapi harus ber-integritas, baik, dan yang paling penting benar. Itulah ciri manusia literat.

Baca juga  Kadisdukcapil Kabupaten Bogor Tutup Usia Karena Covid-19

Kata orang bahasa, lucu itu artinya menggelikan hati. Menyebabkan ketawa. Jenaka. Kisah itulah yang diperagakan para crazy rich yang kini mendekam di penjara. Kemarin diagul-agul, kini dihujat. Sementara orang yang sempat kontak dengan mereka hanya bisa terdiam kebingungan lalu mengelus dada, sambil berkata dalam hati “untung, belum sempat taruh duit di situ”. Lagi-lagi lucu dan sangat jenaka.

Kelucuan dalam hidup memang keniscayaan. Ada yang kemarin mengaku kawan, kini jadi lawan. Ada lagi ada orang-orang yang nggak ngasih makan, nggak nyekolahin tapi kepo banget dan sok pengen mengatur hidup orang lain. Akibat pilpres, ada pula orang-orang yang sampai hari ini gagal move on. Masih nyinyir dan bawaannya “bermusuhan akut” sama negara dan pemimpinnya. Tapi giliran di bulan puasa begini, lakonnya seperti orang-orang yang paling paham agama. Mulutnya isinya nasihat tapi otak dan hatinya menghujat. Lucu banget kalian.

Maka dari semua kelucuan yang ada, intinya ada persolan literasi di dalamnya. Inilah saatnya pegiat literasi di mana pun untuk terus bergerak. Ber-literasi untuk menanamkan kepada masyarakat tentang pentingnya memahami realitas dan bijak dalam menyikapi kenyataan. Karena manusia yang literat itu artinya orang yang mau menerima realitas dengan apa adanya. Sambil tetap ikhtiar dan berdoa yang baik, Agar tidak merugikan orang lain. Bukan malah sok kepo tentang apa pun padahal tidak mampu melakukan apa pun.

Baca juga  Ade Yasin: Kerjasama dengan Pemkot Bengkulu Wujud Komitmen Untuk Bersinergi dan Berkolaborasi

Dan menurut saya, ujung dari manusia literat adalah hidup seimbang. Mampu seimbang antara dunia dan akhirat, seimbang lahir dan batin. Seimbang itu tetap ikhtiar baik dalam hidup tapi selalu ingat akan mati. Bukan malah berat dunia tapi ringan akhirat. Bukan hanya pandai berucap tanpa bisa berbuat. Agar jangan semakin banyak hal-hal yang lucu. Kok makin pintar malah makin lucu.

Literasi itu harusnya jadi ujung tombak. Literasi pun tidak cukup hanya logika. Tapi harus pakai hati sebagai pagarnya. Uang itu bukan segalanya. Dunia katanya sementara, tapi kok bisa-bisanya melumpuhkan siapa pun yang mencintainya. Di balik kasus crazy rich palsu itu, kita harus mengaku. Bahwa selama ini kita abai terhadap literasi. Salam literasi.

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top