Laporan Utama

Mengkritisi Soal TWK Pegawai KPK

Oleh: Syarifudin Yunus,

Kandidat Doktor Manajemen Peendidikan Unpak Bogor

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Tes Wawasan Kebangsaaan (TWK) sebagai syarat alih status pegawai KPK menjadi ASN mengundang kontroversi. Ketika ada soal kira-kira berbunyi “pilih mana Al Quran atau Pancasila?”

Menengok pertanyaan itu, mungkin tiap orang punya jawaban berbeda. Dan punya alasan sendiri-sendiri. Sebagai makhluk beragama tentu menjawab Al Quran. Sebagai warga negara tentu menjawab Pancasila. Atau jawabnya, Al Quran itu kitab suci Agama Islam sedangkan Pancasila itu dasar negara Indonesia. Bisa, pertanyaan soal itu dapat dikatakan “ambigu” alias tergantung konteksnya.

Lalu, bagaimana bila ada soal tes berbunyi seperti ini. “Kenapa pohon mangga yang ada di depan rumah harus ditebang?”. Apa jawabnya menurit Anda?
Bisa jadi ada yang menjawab, karena 1) mengganggu jalanan, 2) banyak ulat bulu yang membahayakan, 3) sejak ditanam 10 tahun lalu tidak ada buahnya, atau 4) kalau dicabut sulit dan berat. Jadi, adakah jawaban yang paling tepat?

Baca juga  Bima-Dedie Dilantik, Ini Harapan Sekda dan DPRD Kota Bogor

Terlepas dari polemik yang terjadi. Saya hanya ingin menyoroti tentang kriteria dasar bahan ujian atau soal yang bermutu baik. Apakah pertanyaaan “pilih mana Al Quran atau Pancasila” sebagai soal tergolong baik?

Esensinya, soal tes apa pun seharusnya dipersiapkan secara baik dan berkualitas. Soal harus mampu mengukur apa yang mau diukur secara mutlak. Bukan menimbulkan tafsir atau jawaban yang relatif. Soal tes untuk siapapun, setidaknya harus memenuhi 2 kriteria dasar, yaitu:
1) Adanya kesesuaian antara materi yang ditanyakan dan materi yang telah diajarkan sebelumnya. Agar hasilnya dapat memberikan informasi tentang siapa yang telah mencapai tingkatan pengetahuan tertentu yang disyaratkan sesuai dengan tuntutan kurikulum.
2) Ada hasil atau data yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan standar pengetahuan atau pembelajaran.

Baca juga  PDIP Harus Dukung KPK

Karena itu, soal tes yang bermutu baik harusnya dapat membantu guru atau pimpinan dalam meningkatkan aspek kognisi, sikap, dan perilaku orang yang diuji. Dalam konteks pendidikan, soal harus dapat meningkatkan pelaksanaan proses belajar-mengajar. Jadi, soal yang bermutu baik itu sederhana. Harus dapat memberikan informasi dengan tepat tentang orang yang belum atau sudah memahami materi yang telah diajarkan. Bukan sekadar benar-salah jawabannya.

Soal atau bahan ujian, sejatinya harus mampu membedakan setiap kemampuan orang yang belajar. Semakin tinggi pemahaman materinya, maka semakin dapat diterima alasannya, di samping semakin tinggi pula peluang menjawab benar soal yang ditanyakan.

Dan lebih dari itu, syarat soal yang bermutu baik adalah harus sahih atau valid dan andal atau reliabel. Valid artinya soal itu sah sebagai alat ukur untuk mengukur satu dimensi saja. Reliabel maksudnya soal itu andal bila dapat memberikan hasil pengukuran yang tepat, cermat, dan ajek. Maka siapapun yang menjadi penyusun soal harus merumuskan kisi-kisinya, memenuhi kaidah penulisannya dan yang tidak kalah penting adalah pedoman penilaiannya.

Baca juga  Ketenangan Idrus Marham Indikasi KPK Tak Lagi Ditakuti?

Jadi, ketika ada soal berbunyi “pilih mana Al Quran atau Pancasila?”
Menurut saya, soal itu tidak valid dan tidak reliabel. Seharusnya soal itu berbunyi, “bilakah Al Quran dan bilakah Pancasila?” Saya ingin tahu jawabannya. Bukan “dipaksa” untuk memilihnya.

Semoga besok-besok, tidak ada soal yang berbunyi, “pilih mana punya pacar tapi sudah tidak sayang atau sudah bubar pacaran tapi masih sayang?”. Salam literasi. []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top