Nasional

Liga Inggris: Dari Gengster London Sampai Sir Alex Ferguson

BOGOR-KITA.com, JAKARTA – Empat puluh tahun lalu, di era 70an dan 80an, kekerasan dalam sepak bola Inggris, dianggap sama dengan pandemik. Meresahkan dan mengganggu. Perkelahian, pelemparan, pembakaran serta jatuhnya korban jiwa, membuat pemerintah bersama Uni Eropa, harus turun tangan mencari solusi menghentikan kekerasan, yang menurut mereka adalah sebuah terorisme.

Jauh sebelum Liga Inggris bergulir 700 tahun lalu, dari literatur sejarah yang ada, kekerasan penonton, sudah mengalir ke sepak bola.

Tanpa catatan rinci tepatnya kapan pertama kali, namun dalam sejarahnya, di masa kepemimpinan Raja Edward II, tahun 1314, Raja membekukan dan melarang pertunjukan sepak bola.

Prilaku kekerasan, kata-kata kotor, melempar perut ternak ke perkebunan klub rival, menjadi pemicu keputusan raja.

“Usaha ini dianggap akan terus memicu kegelisahan masyarakat dan melanggar ideologi olah raga itu sendiri,” demikian amarah Raja Edward II.

Di awal abad 19, babak paling bersejarah, yaitu babak perubahan dunia. Revolusi industri berdampak dan mendorong pula munculnya revolusi di dalam permainan sepak bola.

Masyarakat Inggris, sebagian besar bermukim di pedalaman agraris, dengan peluncuran transportasi kereta api (uap), maka praktik mobilisasi produk dan penduduk menjadi enteng.

Akhir abad 19, tepatnya 1888, mendorong munculnya pengaturan sistem tanding sepak bola secara adil dan objektif.

Satu klub bermain dua kali, “home and away,” sehingga tahun 1888 itu, merupakan tahun bersejarah. Konsep Liga Sepakbola Inggris pertama kali di dunia, dipertandingkan.

Itu dari cerita sejarah.

Alkisah, revolusi industri yang berdampak luas, secara otomatis juga berdampak pada perpindahan penduduk, dari daerah ke wilayah padat.

Urbanisasi ke London, Liverpool, Birmingham, Manchester, terjadi secara kontinyu, mengundang munculnya para gengster.

Para bandit-bandit kota itu, tujuannya memonopoli perdagangan dengan melakukan kekejaman secara langsung, menciptakan budaya kekerasan.

Sebelum Liga Inggris dibentuk, tahun 1880 dicatat sebagai era munculnya para gangster, masuk ke dalam suporter sepak bola.

Intimidasi, meludah, memukul, melempar batu, bahkan memukul wasit, kerap mewarnai pertandingan, seperti klub Birmingham City, Everton, Sunderland, Sheffield United, Manchester City, di akhir abad 19.

Baca juga  Baleg DPR Setujui 50 RUU Masuk Prolegnas 2020

Sejalan dengan dibentuknya Liga Inggris, kata “Hooligan”, muncul ke permukaan. Dalam kamus Oxford, kata “Hooligan” adalah nama marga berketurunan Irlandia, namun etimologi, asal muasal tidak ada yang tahu secara pasti.

Kata “Hooligan” secara resmi muncul pertama kali dalam pemberitaan koran London, terkait kasus Southpark, Mei 1894.

Sidang kasus perkelahian di London Selatan, seorang anak berumur 19 tahun dipidana bersalah. Koran itu, menyisipkan kalimat “Si anak yang berasal dari geng Hooligan.”

Hal di atas memunculkan dua persepsi; kata “Hooligan” dari Irlandia, atau gengster London.

Memapaki awal abad 20, mulai runtuhnya kekuasaan gengster dan kemenangan Perang Dunia II oleh Inggris, memberikan “trophy” kepada rakyat untuk kembali menggayung roda ekonomi dalam babak baru.

Liga Inggris yang sempat dibekukan, akibat Perang Dunia II, kembali menjadi harapan rakyat yang ekstatik merayakan kemenangan perang, serta runtuhnya kekejaman penjajah Jepang di Asia Pasific dan Jerman di Eropa.

Ada ciri khas pola penjajahan Inggris. Yaitu, berhaluan masalah pendidikan, peraturan, tatanan, aturan. Sangat kontradiktif, dengan budaya perkelahian suporter di sepak bola Inggris yang masih terus meresahkan.

Apa penyebab munculnya perkumpulan anarkis ini? Jawabnya, masih banyak yang membuat kelimpungan, dan mengangkat persoalan ini dalam buku mau pun diskusi berkepanjangan.

Menurut saya  hal itu tidak jauh dari faktor perkelahian anak-anak yang dianggap biasa, alkohol, legitimasi, ekspresi mempererat pertalian, menjunjung kehormatan klub, partisipan pemegang nomor kursi stadion yang beracak, eksploitasi foto kekerasan sepakbola di media, cara penanganan polisi serta faktor kepentingan politik.

Banyaknya kekerasan, dalam era itu, diduga dan dipicu oleh berbagai faktor. Indikasi yang kuat adalah pesimisme rakyat Inggris terhadap krisis ekonomi global 1980 -1983, oleh Revolusi Iran.

Munculnya kaum pesimisme di awal 80-an, memicu skandal oleh pemilik klub menyuap kelas pengangguran berbuat anarkis untuk popularitas klub di media. Indikasi ini, dari analisis saya terindikasi dari CCTV stadion di mana, satu orang selalu terekam dalam keributan. Mereka memakai seragam klub yang berbeda-beda.

Era tahun 1980, dicatat sebagai era “Hooliganisme” terburuk, dalam sejarah sepak bola Inggris. Contohnya lahirnya tragedi, 11 Mei 1985 partai Birmingham City vs Leeds United di Stadion St Andrew. Masih bulan Mei, tepatnya 29 Mei 1985, Champion League di Brussel, Liverpool vs Juventus di Stadion Heysel, Belgia.

Baca juga  Hasil Lengkap Pekan 7 Liga Inggris: Leicester Menyodok, The Reds Kembali Ke Puncak Persaingan

Perkelahian di atas kapal ferry, antara pendukung Man-U dan West Ham United, 8 Agustus 1986. Penjarahan toko oleh suporter Wolverhampton Wanderers, 15 Agustus 1987, di Scarborough. Perkelahian penonton pertandingan FA Cup, anatara Millwall vs Arsenal di Highburry, 9 Januari 1988.

Yang paling mengerikan, ketika semifinali FA Cup, antara Nottingham Forest vs Liverpool, 15 April 1989, di Kota Sheffield yang menwaskan 96 pendukung Liverpool. Karwna itu pula peristiwa tragis itu dinamai sebagai “Hillsborough Distarter”.

Namun ada hal yang menarik terkait “Hooliganisme”. Untuk dampak jangka pendek, agresi “Hooligan” secara langsung memberikan ancaman “jika kalah” justru menjadi pendorong bagi klub untuk tampil lebih baik.

Sedangkan dampak jangka panjang, kalau dibiarkan terus-menerus, membuat kerugian klub, karena keengganan suporter membeli tiket, serta kerugian klub karena membengkaknya biaya keamanan.

Memasuki 90-an, tercatat sebagai puncak babak baru Football League yang diubah namanya menjadi Premier League. Perlengkapan teknologi canggih CCTV di penjuru tribun, menjadi barometer yang wajib dijalankan setiap anggotanya.

Bukan hanya karena berakhirnya krisis ekonomi, atau tingginya minat properti dan gratifikasi, mendorong roda ekonomi kaum penganggur, membeli tiket terusan (season tickets). Dengan tujuan, mempermudah peng-imput-an data suporter, sebagai pemegang nomor-nomor kursi.

Era di mana parabola dan televisi merambah ke Asia, memberikan kontribusi besar bagi pemasukan “TV money” untuk klub. Konsep ini, otomatis menjadi pemasukan pajak ke pemerintah, sekaligus membantu jumlah unit polisi, untuk bekerja mengawal para tamu suporter.

Masuknya sang “Maestro” Sir Alex Ferguson, juga otomatis membuat Premier Leage, menjadi lebih kompetitif, dan lagi-lagi, secara psikolgis mendorong klub lain, untuk tampil lebih baik.

Era 90-an, dan milaneal, serta era teknologi digital, di mana raja media Keith Rupert Murdoch, berjudi dan memenangkan hak siaran langsung atas nama Skysport.

Baca juga  Big Match Hotspur vs City: Mourinho Lempar Isu, Pep Fokus Strategi

Budaya melinial tumbuh subur, setiap saat penonton dapat merekam dan memutar kembali pertandingan siaran langsung “Barclays Premier League’ secara digital .

BBC sebagai televisi broadcast pertama di dunia, tidak kalah terampil. Dengan kreatifitas dan konsistensi menyiarkan ulang “Highlights” dan ulasan berkualitas, dalam suasana tepat waktu, yaitu, menjelang tengah malam, pukul 22.30 sampai 23.30 waktu Inggris.

Sedangkan lagu yang punya arti sangat inspiratif, bertajuk “Careless Whishper” ditulis George Michael, dalam keheningan malam Senin, di Kota London sembari menonton “Match of the Day”.

Selain karena revenue, teknologi, dan bisnis, budaya tanpa memandang suku, ras, gender, serta orientasi seks dan permainan bola itu sendiri yang sangat simple. Membuat sepak bola diminati kalangan pemusik, seperti Noel dan Liam Gallanger (OASIS), sebagai suporter fanatik Manchester City. Atau Simon Le Bon (Man-U), Elton John (Watford), serta Rod Steward kebetulan sebagai pendukung fanatik, Glasgow Celtic, Skotlandia.

Sejalan dengan perputaran roda ekonomi, English Premier League, secara masif dan global, maka setiap klub berlomba-lomba dengan asyik, mengimpor pemain-pemain bertalenta tanpa melihat latar belakang suku, ras, warna kulit serta agama.

Contohnya, Park Ji Sung (Man-UU), Hidetoshi Nakata (Bolton Wanderes), Didier Drogba (Chelsea), Cristiano Ronaldo (Man-U), Mesut Ozil (Arsenal), Mohamad Salah (Liverpool) hingga Son Heung-min (Tottenham Hotspurs), mau tidak mau, dengan sendirinya menepis rasialisme, intimidasi, kekerasan yang ada dalam suporter, dekade awal abad ke-21 ini.

Kata-kata “Hooligan” sedikit demi sedikit, mulai menghilang. Data tahun 2011-2012, para suporter yang ditahan karena keributan hanya 2,459, dari 39 juta suporter.

Di tahun 2012-2013, terdapat lebih 100.000 suporter Inggris dan Wales, bepergian ke Eropa untuk Champion League dan Liga Eropa. Misalkan dari 44 pertandingan, yang ditahan polisi setempat, karena keributan hanya 20 orang.

Dikutip oleh The GUARDIAN, klub Eropa seperti Spartak Moscow, Borussia Dortmund, Sparta Prague, dikabarkan sudah berkiblat ke Premier League, dalam penanganan “Hooligan” yang sukses.

[]  Penulis: Erwiyantoro, adalah wartawan senior. Artikel ini , disadur atas seizin penulis dari akun FB Cocomeo Cacamarica milik penulis,

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

49 − 48 =

Terpopuler

To Top