Kab. Bogor

Dosen IPB: Tiga Prinsip Akuakultur Berkelanjutan

Dr Eng Wahyu Ramadhan, Dosen IPB University dari Departemen Teknologi Hasil Perairan.

BOGOR-KITA.com, DRAMAGA –  Ada tiga prinsip sistem akuakultur yang berkelanjutan  yakni ekologi, ekonomi, dan sosial. Setiap prinsip berdampak positif pada lingkungan, efisiensi produksi, hingga peningkatan taraf kehidupan masyarakat atau nelayan.

Hal ini dikemukakan dosen IPB University dari Departemen Akuakultur, Dr Ichsan A Fauzi, dalam seminar daring bertajuk “Investing Knowledge for a Prosperous Regional Aquatic Ecosystem” yang diselenggarakan FPIK IPB University bekerja sama dengan Universiti Malaysia selama dua hari, 23 dan 24 November 2020.

Akuakultur adalah kegiatan pemeliharaan, penangkaran, dan pengembangbiakan biota perairan laut maupun air tawar, seperti ikan, udang, tiram, rumput laut, dan sebagainya.

Dr Ichsan A Fauzi, tampil dengan topik pemberian pakan berkelanjutan bagi akuakultur yang berkelanjutan mengatakan, produksi subsektor akuakultur perlu ditingkatkan, karena sepuluh tahun ke depan diperkirakan terjadi peningkatan permintaan pasar terhadap produk hasil laut dan produksi perikanan.

“Peningkatan permintaan itu akan mencapai nilai maksimumnya,” kata Dr Ichsan A Fauzi dalam rilis dari IPB University kepada BOGOR-KITA.com, Kamis (26/11/2020),

Dr Ichsan menyebutkan, dalam sistem akuakultur yang berkelanjutan, terdapat tiga prinsip yang diterapkan yakni terkait ekologi, ekonomi, dan sosial. Setiap prinsip tersebut dapat berdampak positif pada lingkungan, efisiensi produksi, hingga peningkatan taraf kehidupan masyarakat atau nelayan.

Dalam penerapan sistem pemberian pakan yang berkelanjutan perlu memperhatikan rasio FIFO (Fish In Fish Out). Rasio FIFO digunakan untuk mengevaluasi jumlah pemberian pakan ikan bagi ikan hasil budidaya. Semakin kecil rasio FIFO maka dinilai semakin baik.

Daur ulang nutrisi dalam akuakultur juga merupakan konsep yang baik dalam mencapai lingkungan yang lebih berkelanjutan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) yang juga dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi.

Baca juga  HJB ke-538 di Masa Pendemi: Refleksi Menghadapi Masa Sulit

Tindakan yang dilakukan yakni dengan mengurangi limbah pakan dengan peningkatan pemanfaatan pakan,  penggunaan kembali limbah bagi organisme lain, maupun daur ulang limbah nutrisi melalui siklus mikrobial.

“Penggunaan kembali limbah hasil ikan budidaya dapat diberikan pada komoditi perikanan lainnya,” ungkapnya.
Dr Eng Wahyu Ramadhan, Dosen IPB University dari Departemen Teknologi Hasil Perairan menyampaikan mengenai polisakarida dan protein dari turunan hasil laut sebagai gel rekayasa bagi makanan, biomaterial, dan organ jaringan.

Penggunaan hidrogel sendiri telah dikenal dalam berbagai keperluan, seperti pengganti pupuk hingga lensa kontak. Namun, dengan teknologi terkini, penggunaan hidrogel telah merambah ke rekayasa organ dan jaringan tubuh.

Material pembuatan hidrogel tersebut dapat bersumber dari makromolekul produk laut sebagai sumber polimer alami. Produk hasil laut yang dikenal dapat digunakan sebagai material hidrogel tersebut adalah karagenan yang berasal dari rumput laut.

Salah satu kegunaan teknologi hidrogel tersebut dapat diterapkan dalam penyemaian sel. Pengembangan tersebut dicapai dengan meniru sifat matriks ekstraseluler dari suatu sel.

Dr Fery Kurniawan, dosen IPB University dari Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan membahas mengenai pendekatan sistem sosial-ekologi dalam manajemen sumber daya akuatik. Ia juga membahas mengenai pentingnya belajar manajemen sumber daya dari pulau-pulau kecil.

Ia menjelaskan, pendekatan social-ecological system (SES) dalam manajemen di pulau-pulau kecil digunakan untuk mengidentifikasi beberapa hal. Termasuk di dalamnya adalah indikator penting serta mengukur interaksi intersistem bagi peningkatan efektivitas dan efisiensi manajemen.

Baca juga  Pimpin Apel Kesiapsiagaan, Ade Yasin Instruksikan 6 Hal Jelang Pilkades Serentak

Berdasarkan studi kasus di Kepulauan Gili Matra dan Pulau Tidung ditemukan bahwa terdapat  beberapa indikator yang mempengaruhi sistem sosial dan ekologinya. Indikator tersebut meliputi jumlah agensi travel, jumlah turis, dan jumlah karyawan dalam industri pariwisata.

Dari sisi ekologi, indikator tersebut mempengaruhi nilai CWQI (Canadian Water Quality Index) dari aktivitas pariwisata perairan, proporsi área akomodasi pariwisata, dan proporsi kawasan pemukiman. Hubungan antara sistem ekologi dan sosial tersebut cenderung dinamis.

Dalam beberapa periode ke depan, SES dapat menjadi kondisi yang paling tidak diinginkan. Sehingga, evaluasi upaya pengelolaannya mesti didasarkan pada indikator dan faktor yang paling berkontribusi dalam SES. Termasuk di dalamnya yakni perencanaan tata ruang laut bagi sistem ekologi. Upaya tersebut dilakukan untuk menghindari ketidakseimbangan antara pariwisata yang intensif dan perlindungan lingkungan.

Dr Mochammad Riyanto, Dosen IPB University dari Departemen Pemanfaatan Sumber Daya Perairan menyampaikan topik mengenai praktik light fishing. Light fishing adalah Penggunaan cahaya sebagai alat bantu penangkapan atau umpan pada ikan biasa, umumnya cumi-cumi.

Saat ini, penggunaan sumber daya dalam praktik light fishing dengan metode squid jigging, boat lift net, maupun lift net “bagan” dinilai tidak efektif dan cenderung boros energi. Selain dapat meningkatkan emisi karbon dan konsumsi bahan bakar, praktik tersebut juga dapat mempengaruhi biodiversitas di dalam laut.

Peralihan penggunaan lampu konvesional menjadi LED dinilai dapat memberikan efek yang baik dari segi desain, efisiensi energi, hingga lingkungan. Salah satunya adalah dapat menekan biaya operasional dengan penghematan energi. Di samping itu, pengembangan manipulasi cahaya hingga pengendalian perilaku ikan tangkap juga menjadi lebih mudah. Inovasi tersebut diharapkan dapat mengembangkan teknologi perikanan yang bersifat eko-harmonis tanpa pemborosan energi.

Baca juga  Ketua Umum PB NU Saksikan Pengukuhan MWCNU Cijeruk

Adapun Dr Hawis H Madduppa, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan menyampaikan mengenai teknologi e-DNA bagi keperluan biomonitoring di masa depan. Teknologi tersebut dapat berguna bagi penelitian biodiversitas laut seperti untuk penentuan spesies lokal, terintroduksi dan invasif. Selain itu, teknologi e-DNA  juga berguna dalam deteksi awal organisme laut, pemetaan hotspot biodiversitas laut, dan analisis food web.

Teknologi eDNA tersebut telah diaplikasikan pada penelitian biodiversitas di Pulau Harapan, Pulau Untung Jawa, dan Tanjung Priuk. Teknologi tersebut digunakan dalam penentuan komposisi filum hingga identifikasi spesies introduksi dan invasif.

Kelebihan dari teknologi tersebut yakni dari segi penghematan waktu sampling dan biaya, dapat mendeteksi spesies langka yang dilindungi, memonitor biodiversitas total, hingga mengestimasi kelimpahan dan distribusi suatu spesies. Di masa depan, teknologi tersebut dapat diterapkan dalam peningkatan basis data bagi taksonomi yang lebih akurat.

Wilayah timur Indonesia seperti Raja Ampat dan pulau-pulau terpencil lain memiliki diversitas unik yang perlu dilindungi. Dengan teknologi DNA barcoding dan eDNA metabarcoding dapat memberikan informasi pelengkap dasar yang berharga.

“Tentunya dengan didukung oleh beberapa tindakan seperti membandingkan data kelimpahan pada titik waktu berbeda dan menginvestigasi hubungan antar populasi. Selain itu, penting untuk membandingkan hasil eDNA dengan ikan tangkap dan data sensus visual bawah laut,” pungkasnya. [] Admin

 

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top