Kab. Bogor

Curhat Warga Terdampak Ekonomi Akibat Pandemi Corona

BOGOR-KITA.com, TAJURHALANG  – Penyebaran wabah Corona Virus Disease (Covid-19) serta pemberlakuan kebijakan stay at home (diam di rumah saja) dan work from home (kerja dari rumah) yang disusul penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat terutama dari sisi ekonomi.

Penelusuran wartawan media ini, hampir sebagian besar masyarakat mengaku sangat terdampak penghasilan/pendapatannya akibat pandemi global ini. Egi (32) seorang pedagang baso keliling di wilayah Kecamatan Kemang dan Tajurhalang mengatakan, meski sudah berusaha menuturi perkampungan dan jalanan, penghasilan usahanya tetap saja sangat jauh menurun. “Banyak gang dan jalan ditutup. Pembeli juga sangat jarang. Sekarang mah, saya masih bisa dapat uang buat makan sehari – hari saja sudah bersyukur,” ujar pemuda asal Kecamatan Sukajaya ini, Jum’at (17/4/2020).

Baca juga  Alumni Akabri 89 Bantu Terdampak Covid-19 di Tamansari Kabupaten Bogor

Hal serupa dialami para pengemudi ojek pangkalan di jalan simpang Pabuaran Setu. Ditemui di tempat mangkalnya, seorang pengemudi Opal, Udin (44) menuturkan, sudah hampir seharian penuh menunggu penumpang, namun belum juga ada. “Ini di kantong cuma punya duit ceban (Rp. 10.000). Usaha kayak begini, kami sangat kesulitan,” ungkapnya.

Obay (41) pengemudi Opal lainnya menuturkan, saat ini sudah banyak tukang ojek yang tidak keluar karena sepi penumpang, apalagi setelah ada pemberlakuan PSBB. Dia menuturkan, saat ini mereka sangat berharap segera adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Kami ini masyarakat kecil, hasil usaha hari ini untuk makan hari ini. Tapi kalau ekonomi begini terus, kami benar – benar kesusahan,” ungkapnya.

Baca juga  Jokowi: Bantuan Tunai Langsung ke Penerima, Tanpa Potongan  

Kondisi kesulitan ekonomi juga disampaikan Ustad Ugan (49) petani garapan yang juga menjadi pengurus salah satu masjid serta guru mengaji di majelis taklim. Menurutnya, saat ini majelis taklim nya sudah diliburkan dan masjid juga sudah sepi sesuai arahan pemberlakuan PSBB. “Hasil pertanian saya itu daun singkong. Tapi saat ini tidak ada yang beli, karena warung – warung makan juga sepi,” ungkapnya.

Ustad Ugan menceritakan, pernah satu kali dirinya mengirimkan ratusan ikat daun singkong hasil panen dengan nilai sekitar 1,2 juta rupiah, ke wilayah Jakarta. Namun setibanya di sana, lanjutnya, dagangan daun singkong tersebut tidak laku. “Akhirnya saya bawa pulang dan cuma dijadikan pupuk pohon pisang,” tuturnya. Dia juga menuturkan, demi menutupi kebutuhan makan keluarganya, saat ini istrinya telah menjual perhiasan yang dipakai. “Ya mau bagaimana lagi, bahkan buat biaya makan sehari – hari, akhirnya istri saya menjual perhiasannya,” pungkasnya sambil tersenyum kecil.[] Fahry 

Baca juga  Penerima Bantuan di Kota Bogor Tak Boleh Ganda
2 Comments

2 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top