Bima Arya usai menjadi keynote speaker dalam seminar bertajuk ‘Menjadi Warga Negara Cerdas’ yang digelar Pemuda Katolik Kota Bogor di Gedung Paroki St. Fransiskus Asisi, Jalan Siliwangi, Sukasari, Kota Bogor, Sabtu (23/2/2019).

Bima Arya: Pilih Pemimpin yang Bersenjatakan Hati Nurani

BOGOR-KITA.com – Walikota Bogor Bima Arya mengajak umat Katolik di Kota Bogor, khususnya para pemudanya, untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi pada 17 April 2019 mendatang.

“Suara Anda sangat menentukan. Jangan sampai kebersamaan yang telah kita nikmati ini dikoyak hanya untuk kepentingan politik sesaat. Pilihlah pemimpin yang cerdas, yang menguasai persoalan dan paling utama adalah memilih pemimpin yang bersenjatakan hati nurani,” ungkap Bima saat menjadi keynote speaker dalam seminar bertajuk ‘Menjadi Warga Negara Cerdas’ yang digelar Pemuda Katolik Kota Bogor di Gedung Paroki St. Fransiskus Asisi, Jalan Siliwangi, Sukasari, Kota Bogor, Sabtu (23/2/2019).

Di era demokrasi ini, kata Bima, kesempatan dan tantangan utamanya adalah masyarakat semua diberikan banyak pilihan untuk berpartisipasi di pertarungan politik.

“Pilihan pertama, bagi teman-teman mahasiswa atau aktivis, bisa menjadi tim sukses, baik bagi partai maupun capres. Pilihan kedua, apakah sekedar ingin menjadi pengamat saja, menonton dari jauh. Atau ketiga, seperti yang dipilih teman-teman di Bawaslu masuk memastikan mengawal semua tahapan agar berjalan dengan baik. Memilih untuk aktif, dipastikan tidak ada hoax, dipastikan ketika tahapan berlangsung dengan adil dan lancar,” jelasnya.

“Saya rasa kalau levelnya setingkat Pemuda Katolik, masa iya cuma mau jadi pengamat dari jauh. Harus berani ambil peran aktif, pastikan bahwa logika tidak kalah dengan rasa. Semua tercerahkan dan menjadi lebih cerdas,” tambah Bima.

Dalam kesempatan Bima kembali menyinggung soal kebersamaan dalam keberagaman yang menjadi identitas warga Kota Bogor sejak lama dan diwariskan secara turun temurun dari para pendahulu.

“Kota Bogor baru saja menggelar Street Festival CGM sebagai simbol keberagaman yang ada di kota kita tercinta. Saya bersama Muspida, berada di garis terdepan pasang badan agar kegiatan ini tetap berjalan dengan baik. Bukan soal ibadah agama, bukan soal budaya saja. Apalagi hanya sekedar upacara. Ini adalah warisan budaya. Budaya apa? Budaya bersama dalam keberagaman. Itu paling penting,” kata dia.

Ia menegaskan akan terus menjaga nilai-nilai tersebut, di samping fokus program-program lainnya. “Bagian terberat menjadi seorang pemimpin adalah menjaga kebersamaan dalam keberagaman di kota kita. Tapi kami memastikan bahwa Kota Bogor ini tetap on the track bersama dalam keberagaman, di mana minoritas dilindungi dan diayomi,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolresta Bogor Kota Kombes Hendri Fiuser menyatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, setelah Tiongkok, India, Amerika.

“Dengan potensi itu, diprediksi Indonesia akan menjadi negara yang superpower, negara yang dikatakan sebagai adikuasa. Diprediksi tahun 2030 menjadi 10 besar kekuatan ekonomi di dunia,” ujar Hendri.

Untuk menuju ke arah itu, kata dia, ada syarat yang harus dicapai. Di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia harus sudah stabil di atas 5 persen. “Anak muda kita harus punya kemampuan yang sangat kompetitif. Bicara kompetitif bukan soal bertarung di Indonesia, tapi di Asia Tenggara, Asia dan dunia. Dengan bonus demografi tersebut, kita akan menjadi negara besar,” terangnya.

Tidak hanya soal ekonomi yang harus terus bertumbuh seperti beberapa tahun belakangan ini, situasi keamanan dan politik juga harus stabil. “Kita melihat belakangan ini tidak ada konflik-konflik besar, tidak ada konflik antar suku, konflik antar agama, antar daerah. Secara umum konflik sosial masyarakat tidak ada. Ini yang harus dipertahankan,” jelas Hendri.

Sementara itu, Humas Gereja Fransiskus Asisi Sukasari, Antonius Sinaga, menyatakan bahwa seminar ini sebagai bagian dari edukasi politik bagi umat Katolik di Kota Bogor.

“Diharapkan umat Katolik terlibat dalam pesta demokrasi ini. Paling tidak, cerdas dan tahu memilih. Artinya dia tau siapa yang dipilih. Bukan soal karena memberi sesuatu tapi dia punya visi misi yang jelas untuk kepentingan bersama. Kita mau memberikan pemahaman kepada umat bahwa calon pemimpin yang kita harapkan bukan pintar janji, tapi bagaimana dia mengaktualisasikan apa yang mereka pikirkan ke depan untuk masyarakat,” pungkasnya.

Seminar dihadiri 150 umat Katolik dari berbagai usia. Hadir pula Romo Markus Lukas (Paroki Fransiskus Asisi), Ketua Pemuda Katolik Jawa Barat Fredikus. Panitia juga mengundang tokoh politik Katolik sebagai narasumber, seperti J Kristiadi (Pengamat Politik CSIS), Yustinus Prastowo (Direktur CITA) dan Benny Wijayanto (Pengamat Pemilu). [] Admin/Humpro Pemkot Bogor



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *