Kab. Bogor

Atasi Stunting Puskesmas Cibungbulang Punya TOMATS

BOGOR-KITA.com, CIBUNGBULANG – Untuk mendorong percepatan dalam pencegahan dan penanganan stunting perlu diupayakan pemberian makanan tambahan dengan sumber protein tinggi seperti susu, telur, dan daging atau dalam bentuk minuman Enteral Protein Tinggi. Berdasarkan hasil bulan penimbangan balita tahun 2019 di Puskesmas Cibungbulang tercatat angka balita stunting (TB/U kategori sangat pendek dan pendek) sebanyak 516 balita adalah 10,2 %, angka ini memang masih di bawah angka Riskesdas tetapi cukup menggambarkan bahwa ada gangguan pertumbuhan atau masalah gizi kronis pada balita.

Dengan demikian diperlukan upaya perbaikan untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung (intervensi gizi sepesipik) dan upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung (intervensi gizi sensitif). Kontribusi Intervensi gizi sensitif umumnya dilakukan disektor kesehatan, meskipun hanya 30%, sedangkan 70% nya merupakan kontribusi intervensi gizi sensitive yang melibatkan berbagai sektor terkait. Upaya intervensi gizi sensitif untuk balita pendek difokuskan pada kelompok 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Tidak hanya masa 1.000 HPK saja tetapi harus diperhatikan pada masa rematri sehingga dapat mempersiapkan secara lebih baik pada masa pasangan usia subur (PUS).

Mengingat pentingnya penanganan kasus stunting di wilayah Puskesmas Cibungbulang, maka diluncurkan inovasi TOMATS (Tangani Kelola Masyarakat Terpadu Stunting) yang dilaksanakan melalui upaya pemberian zat besi (Fe) pada remaja putri (rematri) untuk mencegah anemia pada rematri dan memantau status gizi ibu hamil. Kepala Puskesmas Cibungbulang dr.James Tambunan, MKM menyampaikan bahwa, TOMATS secara umum bertujuan memiliki tujuan mencegah terjadinya stunting pada baduta dengan meningkatkan keberhasilan 1.000 HPK pada ibu hamil. Sedangkan secara khusus untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu hamil tentang gizi, kesehatan dan 1.000 HPK serta mempersiapkan ibu hamil untuk melaksanakan 1.000 HPK.

Proses inovasi “TOMATS” di Puskesmas Cibungbulang Kecamatan Cibungbulang dengan melihat fase permasalahan stunting baduta yang gagal tumbuh di wilayah Puskemas Cibungbulang berdasarkan hasil kegiatan Bulan Penimbangan Balita lebih dari 10% baduta stunting dan system pencatatan pelaporan berbasis masyarakat dalam program gizi E-PPGBM dengan desa cibatok II sebagai salah satu desa lokus di dapatkan hasil baduta stunting lebih dari 20% maka masalah tersebut menjadi prioritas permasalahan di Puskesmas Cibungbulang . Penemuan ide inovasi “TOMATS” dilatarbelakangi oleh kekhawatiran pemegang program gizi Puskesmas Cibungbulang karena tingginya angka stunting pada balita. Inovasi TOMATS dirasakan sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Kecamatan Cibungbulang karena untuk menekan angka stunting pada balita.

Inovasi “TOMATS” ini berjalan melalui mekanisme pemberdayaan masyarakat sehingga pencegahan dan penanggulangan stunting menjadi buming dan ramai dibicarakan oleh masyarakat. Kemudian disamping dilakukan pemberdayaan tahap selajutnya adalah bagaimana menurunkan angka stunting dimulai dari persiapan remaja putri sampai pada 1000 HPK. Tentunya inovasi “TOMATS” tidak hanya melibatkan program gizi saja tetapi harus bekerja sama dengan lintas program dan juga lintas sectoral.

Implementasi inovasi Tomats terselenggara dengan baik. Keberhasilan inovasi “TOMATS” sudah bisa dikatakan baik, perubaahan nyata yang dirasakan setelah inovasi “TOMATS” diimplentasikan yaitu terbukti jumlah stunting berkurang dari 46 balita stunting pada tahun 2018 menjadi 36 balita stunting di tahun 2019. []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top