Nasional

Populasi Harimau Sumatera Terancam, TSI Hadapi Tantangan Pengembangbiakan

Ilustrasi

BOGOR-KITA.com, CISARUA – Populasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di alam liar terus menghadapi ancaman. Jumlahnya diperkirakan hanya tersisa sekitar 400 ekor di habitat alaminya.

Kondisi tersebut membuat upaya konservasi Harimau Sumatera perlu dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui program pengembangbiakan di lembaga konservasi.

Taman Safari Indonesia (TSI) menjadi salah satu lembaga konservasi yang menjalankan upaya tersebut. Sejak 1995, TSI tercatat telah berhasil mengembangbiakkan 25 ekor Harimau Sumatera.

Namun, pengembangbiakan Harimau Sumatera di lingkungan konservasi bukan perkara mudah. Tingkat fertilitas yang relatif rendah serta faktor kecocokan antara individu jantan dan betina menjadi sejumlah tantangan dalam proses reproduksi.

VP Life Science Taman Safari Indonesia, Drh. Bongot Huaso Mulia, mengatakan TSI terus berkomitmen menjaga kelestarian satwa yang terancam punah, termasuk Harimau Sumatera.

Baca juga  Daftar Link Pendaftaran Vaksinasi Covid-19 untuk Lansia

Saat ini, TSI merawat sekitar 22 ekor Harimau Sumatera yang berada di dua lokasi, yakni 18 ekor di TSI Bogor dan empat ekor di TSI Prigen. Usianya beragam, mulai dari anakan sekitar enam bulan hingga harimau dewasa berusia lima sampai enam tahun.

“Harimau Sumatera menjadi salah satu satwa yang terus kami jaga populasinya. Namun, dalam pengembangbiakannya memang ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi,” ujar Bongot.

Menurut Bongot, proses reproduksi Harimau Sumatera di lingkungan konservasi membutuhkan penanganan khusus. Selain tingkat fertilitas, keberhasilan perkawinan juga dipengaruhi kecocokan antara harimau jantan dan betina.

Karena itu, proses pengembangbiakan membutuhkan pemantauan secara intensif serta pemahaman terhadap karakter dan kondisi masing-masing satwa.

Baca juga  Update Corona 21 Juli: 1.655 Positif, 1.489 Sembuh

“Kalau di alam, mereka mungkin lebih leluasa. Sementara di sini, tingkat reproduksinya lebih sulit. Mereka juga memiliki kecocokan tersendiri antara jantan dan betina. Jadi, ada banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan pengembangbiakan,” katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya konservasi tidak hanya berkaitan dengan perawatan satwa, tetapi juga membutuhkan riset dan pengelolaan reproduksi yang tepat.

Bongot mengatakan dukungan berbagai pihak juga diperlukan untuk memperkuat kegiatan konservasi di TSI. Dukungan tersebut, antara lain, berupa penyediaan pakan dan bantuan untuk kegiatan penelitian.

Menurut dia, keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar upaya pelestarian satwa terancam punah dapat berjalan secara berkelanjutan. Menjaga kelestarian Harimau Sumatera, kata dia, bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga konservasi, tetapi membutuhkan dukungan bersama.

Baca juga  Ratusan Orang Meriahkan Pembukaan Milad 32 Tahun Dompet Dhuafa

“Dukungan semua pihak sangat diperlukan, mulai dari penyediaan pakan hingga riset. Dengan begitu, kita bisa bersama-sama menjaga agar satwa yang terancam punah tetap bertahan di Indonesia,” tandasnya.[] Danu

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top