Matangkan Moda Transportasi Trem, Dedie Rachim Ikuti Rakor Lintas Kementerian

BOGOR-KITA.com – Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengikuti rapat koordinasi kerjasama Indonesia-Belanda terkait hibah trem untuk Kota Bogor di Ruang Rapat Gedung Roeslan Abdulgani, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) pada Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (28/8/2019).

Dedie Rachim tampak membawa sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Bogor. Sementara pemerintah pusat dihadiri pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ).

Rakor yang dipimpin Direktur Eropa 1 Kemenlu Dino R Kusnadi itu telah menghasilkan beberapa kesepakatan diantaranya proses hibah yang sesuai prosedur.

“Dalam rangka era keterbukaan informasi dan clean goverment ini kami ingin memastikan bahwa proses rencana kerjasama Indonesia – Belanda, khususnya persoalan aset hibah trem ini harus sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Oleh karenanya kami mengundang pihak Kemendagri, Kemenhub, Kemenkeu, Bappenas dan BPTJ agar semua tahapan sesuai dengan prosedur,” ujar Dino.

Sementara itu, Dedie A Rachim menambahkan tahapan demi tahapan untuk mendatangkan trem dari Negeri Kincir Angin itu akan diikuti oleh Pemkot Bogor agar dalam prosesnya bisa berjalan lancar dan sesuai prosedur.

“Pada intinya, kebutuhan Kota Bogor dalam menyiapkan dan membangun feeder LRT akan didukung Pemerintah Pusat. Mengenai apakah trem atau moda yang lain dan apakah trem baru atau hibah, akan diputuskan setelah peninjauan langsung terhadap fasilitas trem di Utrecht dan kajian tuntas yang segera diselesaikan pada awal tahun 2020,” jelas Dedie.

Selain membahas tentang trem, lanjut Dedie, Pemkot Bogor juga memperkuat rencana kerjasama dengan konsep sister city dengan harapan dapat meningkatkan kapasitas sumber daya serta teknologi dari kedua kota.

“Kemenlu juga mengusulkan peningkatan kerjasama dengan konsep sister city antara Kota Bogor dan Utrecht agar ada transfer teknologi sekaligus juga peningkatan kapasitas,” tegasnya.

Sekedar informasi, sister city merupakan sebuah konsep penggandengan dua kota yang berbeda lokasi dan administrasi politik dengan tujuan menjalin hubungan budaya dan kontak sosial antar penduduk. Sister city pada umumnya memiliki persamaan keadaan demografi dan masalah-masalah yang dihadapi. [] Admin / Humpro Setdakot Bogor



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *