Kota Bogor

Guru Besar IPB University Jelaskan Faktor Penyebab dan Cara Menanggulangi Obesitas

obesitas

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Obesitas merupakan penyakit multifaktorial kronis dan kambuhan. Obesitas saat ini menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar abad ke-21, yang peningkatannya paling cepat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Obesitas juga berdampak negatif terhadap penyakit infeksi, dan penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung koroner, kanker, diabetes, hipertensi, dan lain-lain.

Menurut Guru Besar Tetap Fakultas Ekologi Manusi IPB University, Prof Hadi Riyadi Faktor penyebab obesitas terdiri dari dua faktor utama, yaitu faktor biologi dan faktor lingkungan. Faktor biologi terdiri dari genetik, mikrobiota saluran cerna, hormon, umur dan jenis kelamin.

“Pada tubuh manusia terdapat lebih dari 100 triliun mikroorganisme, jumlah selnya jauh melampaui jumlah sel manusia, sehingga manusia disebut juga sebagai superorganisme. Penelitian menunjukkan mikroba saluran cerna memainkan peran penting dalam pengaturan keseimbangan energi dan berat badan, dan mikrobiota dapat memengaruhi perkembangan obesitas dan diabetes tipe 2,” ucap Prof Hadi saat konferensi pers pra orasi ilmiah, Kamis, (11/8/2022).

Baca juga  Melalui Lomba Kuliner, Bupati Ingin Kuliner Khas Bogor Lebih Dikenal

Ia mengatakan, bahwa faktor hormon berpengaruh terhadap obesitas. Ada dua hormon yang mengatur berat badan atau obesitas, yaitu hormon leptin dan ghrelin.

“Hormon leptin berperan dalam merangsang nafsu makan, sehingga akan merangsang penurunan berat badan dan obesitas, sedangkan hormon ghrelin akan meningkatkan nafsu makan seseorang, sehingga akan meningkatkan asupan energi dan mempromosikan kenaikan berat badan dan obesitas,” katanya.

Selan itu, faktor umur dan jenis kelamin juga memengaruhi obesitas. Semakin tinggi usia maka prevalensi obesitas juga semakin tinggi. Menurutnya wanita lebih banyak yang mengalami obesitas.

“Penelitian kami di Bogor menunjukkan selama dua tahun pengamatan sekitar 69 persen wanita menjadi obesitas dari yang sebelumnya tidak obesitas,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa faktor lingkungan memjadi penyebab obesitas, namun foktor lingkungan memiliki banyak faktor, seperti sosial ekonomi, lokasi tinggal, perilaku makan, perilaku sedentary dan aktivitas fisik.

Baca juga  Operasi Yustisi di Cibinong, 128 Pelanggar Prokes Kena Tegur

Faktor yang dapat dimodifikasi untuk memperbaiki obesitas adalah aktivitas fisik dan perilaku makan. Peningkatan aktivitas fisik dapat meningkatkan pengeluaran energi tubuh dan berdampak pada tubuh yang lebih bugar. Faktor lain yang juga berkontribusi terhadap obesitas adalah perilaku makan yang buruk (mengonsumsi makanan padat energi).

“Hal ini dipicu pula oleh adanya “revolusi supermarket dan restoran” serta perdagangan online yang menciptakan kemudahan untuk memperoleh makanan dan minuman, termasuk makanan dan minuman padat energi (lemak). Penelitian kami memperlihatkan faktor yang terkait dengan perilaku makan pada pekerja wanita dengan sindrom metabolik, yaitu rendahnya konsumsi buah dan sayur, waktu makan yang tidak teratur, pilihan makanan yang tidak sehat, makan di luar rumah,” terangnya.

Faktor aktivitas fisik juga merupakan penyebab obesitas seperti faktor gaya hidup dengan aktivitas fisik yang kurang menjadi faktor penyebab obesitas pada beberapa penelitian kami. Perilaku sedentary merupakan pemicu obesitas.

Baca juga  Bagian Hukum HAM Pemkot Bogor Jawab Kritik PSI Soal Sanksi PSBB

“Kurang tidur dan kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan penambahan berat badan. Tidur kurang dari 7 hingga 8 jam per malam dapat menurunkan leptin serum dan meningkatkan ghrelin serum, sehingga meningkatkan nafsu makan dan penambahan berat badan. Penelitian kami pada wanita dewasa di Bogor menunjukkan wanita overweight dan obesitas memiliki lama dan kualitas tidur yang di bawah anjuran,” katanya.

Untuk menanggulangi masalah obesitas, kata Prof Hadi adalah dengan melakukan berbagai upaya mulai dari membuat regulasi, pencegahan, manajemen obesitas, dan surveilan. Prioritas perlu diberikan pada upaya mengubah gaya hidup, terutama aktivitas fisik dan perbaikan kualitas diet.

“Perubahan gaya hidup yang penting dilakukan adalah meningkatkan aktivitas fisik penduduk dan mengurangi asupan makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta meningkatkan konsumsi sayur dan buah,” pungkasnya. [] Ricky

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top