Kota Bogor

Bersama Cahaya di Jalan yang Terjal

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Nama saya Nadia Kusuma, seorang mahasiswa jurnalistik semester empat di sebuah Politeknik Negeri yang cukup ternama di Indonesia, Politeknik Negeri Jakarta.

Sejak kecil, saya selalu tertarik dengan dunia entertainment dan public speaking. Mungkin karena kebiasaan saya menonton serial film di televisi. Tak pernah terbayang bahwa minat saya yang sederhana itu akan membawa saya sejauh ini.

Kedua orang tua saya bukanlah orang yang berlatar belakang jurnalisme atau media.

Baba (ayah -red) saya bekerja sebagai wiraswasta, sementara mamah (ibu -red) saya merupakan seorang guru ngaji di mushola depan rumah.

Kami bukan keluarga berada, tetapi satu hal yang pasti, mereka selalu mendukung apa pun yang saya inginkan. Dari mereka, saya belajar bahwa dukungan dan kasih sayang adalah modal utama untuk menggapai mimpi, meskipun dengan keterbatasan finansial.

Sejak masuk kuliah, saya juga aktif sebagai Duta Generasi Berencana (GenRe). Ini adalah program yang bertujuan untuk menyosialisasikan pentingnya perencanaan hidup bagi remaja.

Sebagai duta, saya sering kali harus berbicara di depan umum, menyampaikan materi, dan berinteraksi dengan banyak orang. Ini sangat membantu saya mengasah kemampuan berbicara dan percaya diri.

Saya selalu merasa beruntung karena orang tua saya mendukung penuh aktivitas saya di GenRe. Padahal, banyak teman saya yang justru mendapat tantangan dari keluarga mereka ketika ingin aktif di luar kuliah.

Karena bagi orang tua saya, pendidikan dan pengalaman lebih berharga daripada harta benda.

Mereka rela mengorbankan kenyamanan mereka sendiri demi saya.

“Baba sama Mamah nggak ngasih warisan lewat harta, tapi mau ngasih warisan lewat ilmu pengetahuan karena lebih kekal abadi dan bakal dipake selamanya sama neng,” ucapan Baba yang selalu saya ingat di tiap harinya.

Baca juga  Kasus Angkahong Tidak Bisa Dihentikan, Kejati Harus Segera Umumkan Tersangka Baru

Setiap hari, saya berangkat ke kampus dari rumah di Bogor menggunakan kereta komuter menuju Jakarta. Perjalanan ini memakan waktu sekitar dua jam, namun bagi saya, ini adalah kesempatan untuk merenung, membaca, atau bahkan menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Kereta yang penuh sesak di pagi hari adalah bagian dari rutinitas saya. Meskipun lelah, saya selalu berusaha menikmati setiap momennya.

Perjuangan orang tua saya membuat saya semakin termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Setiap kali saya mendapat tugas liputan atau harus menghadiri acara GenRe, mereka selalu memastikan saya punya segala yang saya butuhkan.

Dibelikannya sebuah sepedah motor berwarna biru terbaru yang saya iming – imingkan agar saya bisa mengakses mudah mengelilingi kota di tiap kegiatan.

Pacar saya Ghifa, juga merupakan sumber dukungan yang tak ternilai. Kami bertemu di sparing basket dan sejak saat itu, dia selalu ada di sisi saya.

Ghifa adalah seorang laki – laki yang pintar dan penuh semangat sama seperti baba. Dia memahami betul passion saya di dunia jurnalistik dan sering membantu saya ketika saya butuh bantuan teknis, transportasi atau sekadar teman diskusi.

Dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa jurnalistik, tentu ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Terkadang, saya merasa lelah dan putus asa. Namun, melihat usaha keras orang tua saya, dukungan Ghifa, dan pencapaian yang sudah saya raih sejauh ini, saya kembali bangkit dan melanjutkan perjuangan.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya berhasil mendapatkan beasiswa Kampus Merdeka. Ini adalah kesempatan yang sangat langka dan saya hampir tidak percaya ketika nama saya diumumkan sebagai salah satu penerimanya. Orang tua saya sangat bangga dan beryukur, begitu pula Ghifa.

Baca juga  Pengerjaan Pembangunan Jalan R3 Katulampa Dikebut 

Seiring berjalannya waktu , saya semakin giat belajar dan aktif mengikuti berbagai kegiatan jurnalistik. Setiap artikel yang saya tulis, setiap liputan yang saya lakukan, selalu mendapat perhatian dari dosen dan teman-teman. Ini memberikan saya semangat tambahan untuk terus berkarya.
Tak jarang, saya harus begadang untuk menyelesaikan tugas atau menyiapkan materi untuk presentasi GenRe.

Meski lelah, tetapi ada perasaan puas yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika saya berhasil menyelesaikannya. Dan saat itu, orang tua saya selalu ada dengan secangkir teh hangat dan senyum kebanggaan.

Saya juga pernah mengalami momen-momen sulit, seperti ketika liputan saya dikritik habis-habisan oleh dosen karena tulisan saya yang kurang baik. Rasanya seperti dunia runtuh seketika. Namun, Ghifa selalu mengingatkan saya untuk tidak menyerah. Dia membantu saya melihat kesalahan sebagai pembelajaran dan kesempatan untuk berkembang.

Selain kegiatan jurnalistik dan GenRe, saya juga berusaha untuk selalu berprestasi di akademik. Nilai-nilai saya cukup memuaskan dan itu membuat orang tua saya semakin bangga. Bagi saya, ini adalah cara kecil untuk membalas semua pengorbanan mereka.

Meskipun hidup kami sederhana, orang tua saya selalu berusaha memberikan yang terbaik. Mereka bahkan rela mengirit pengeluaran pribadi, dan mengurangi menu makanan hariannya demi membelikan saya laptop serta Ipad baru ketika laptop lama saya sudah tidak memadai. Dengan laptop baru itu, saya bisa mengerjakan tugas lebih efisien dan kualitas tulisan saya semakin baik.

Baca juga  Atang Trisnanto Minta Pemkot Turunkan Nakes ke Wilayah Untuk Cegah DBD

Dalam perjalanan ini, saya menyadari bahwa dukungan orang-orang terdekat adalah sumber kekuatan yang luar biasa. Tanpa mereka, mungkin saya sudah menyerah sejak lama. Mereka adalah cahaya di tengah jalan yang terjal dan penuh rintangan ini.

Saat ini, saya sedang mempersiapkan diri untuk magang di sebuah media besar. Ini adalah salah satu impian saya yang hampir terwujud. Saya berharap, melalui magang ini, saya bisa belajar lebih banyak lagi dan memperluas jaringan.

Saya juga ingin membuktikan kepada kedua orang tua saya bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia. Suatu hari nanti, saya ingin membawa mereka keluar dari kehidupan yang serba sulit ini dan memberikan mereka kenyamanan yang selama ini mereka idamkan.

Tak lupa, saya juga berterima kasih kepada Ghifa yang selalu setia di sisi saya. Dukungan dan cintanya memberikan saya kekuatan yang tak terkira. Bersama-sama, kami merencanakan masa depan yang penuh harapan.

Saya percaya, dengan kerja keras dan dukungan dari orang-orang tercinta, tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk digapai. Saya akan terus berjuang, tidak hanya untuk diri saya sendiri, tetapi juga untuk orang tua saya, untuk Ghifa, dan untuk semua orang yang selalu percaya pada saya.
Hidup memang tidak selalu mudah, tetapi dengan cinta dan dukungan, saya yakin bisa melalui segalanya. Saya akan terus menulis, terus berbicara, dan terus bermimpi. Karena di setiap kata yang saya tulis, di setiap suara yang saya sampaikan, ada harapan dan cinta yang tidak akan pernah padam.

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top