Kota Bogor

Kurang Kena Matahari, Risiko Kematian Bisa Berlipat

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Paparan sinar matahari bukan hanya soal suasana hati. Sejumlah penelitian menunjukkan, kurang terpapar sinar matahari dapat berdampak serius pada kesehatan hingga meningkatkan risiko kematian.

Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Christy Efiyanti, SpPD, FINASIM, mengungkapkan, orang yang rutin mendapat sinar matahari memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit kardiovaskular (CVD) maupun kematian akibat penyakit nonkanker dan non-CVD.

“Dalam dekade terakhir, penelitian menunjukkan bahwa kurangnya paparan sinar matahari mungkin bertanggung jawab terhadap 340.000 kematian di Amerika Serikat dan 480.000 kematian di Eropa setiap tahun,” ujarnya dalam keterangan pers diterima Bogor Kita, Sabtu (29/11/2025).

Menurut dia, minimnya paparan sinar matahari juga berkaitan dengan meningkatnya kejadian kanker payudara, kanker kolorektal, hipertensi, penyakit jantung, sindrom metabolik, multiple sclerosis, Alzheimer, hingga autisme.

Baca juga  DPRD Kota Bogor Tanggapi Adanya Wartawan Berstatus ODP

Christy menjelaskan, sinar matahari memegang peran kunci dalam produksi vitamin D—nutrisi penting untuk imunitas, kesehatan tulang, dan metabolisme tubuh.

“Paparan sinar matahari yang cukup mampu memperbaiki status vitamin D seseorang. Sebaliknya, defisiensi vitamin D sering terjadi pada individu yang jarang beraktivitas di luar ruangan,” katanya.

Kapan Waktu Terbaik Berjemur?

Waktu ideal untuk berjemur, kata Christy, dipengaruhi banyak faktor, seperti musim, garis lintang, cuaca, dan warna kulit. Kandungan melanin pada kulit berperan sebagai penghalang alami sehingga memengaruhi seberapa banyak sinar ultraviolet B (UVB) yang diserap tubuh.

“Orang berkulit cerah umumnya hanya membutuhkan 5–15 menit paparan sinar matahari sebanyak 2–3 kali seminggu,” ujarnya.

Di Inggris, studi menyarankan paparan matahari selama 9–13 menit saat waktu makan siang pada bulan Maret hingga September.

Baca juga  Kurangi Beban Pusat Kota, Rerouting Angkot Resmi Dilaunching

Sementara itu, penelitian di Indonesia oleh Prof Siti Setiati menunjukkan bahwa paparan UVB selama 25 menit, tiga kali seminggu selama enam pekan, dapat meningkatkan kadar vitamin D secara signifikan.

Christy mendorong masyarakat lebih sering beraktivitas di luar ruangan. “Perbanyak aktivitas di bawah sinar matahari dan biasakan berjemur setiap hari. Jangan lupa periksakan diri untuk mengetahui status vitamin D pada tubuh,” tuturnya. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top