Kab. Bogor

Idul Fitri dan Pertanyaan Kepo yang Tak Perlu

Oleh: Faisal Wibowo

Takbir menggema di setiap masjid dan mushola. Umat Islam yang beriman merasakan dua hal sekaligus, sedih dan bahagia.

Sedih karena meninggalkan bulan ramadhan yang penuh dengan kemuliaan. Bahagia karena menyambut hari raya idul fitri, hari yang penuh kemenangan atas perjuangan melawan hawa nafsu.

Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang dirindukan. Suasana hangat, aroma opor, rendang, dan kupat sayur, serta kue-kue yang berserakan di meja hidangan. Terutama kesempatan untuk berkumpul kembali dengan keluarga besar adalah inti dari perayaan ini.

Namun, di tengah kehangatan itu, sering kali terselip fenomena yang bisa membuat suasana menjadi canggung.

Rentetan pertanyaan kepo yang terasa seperti interogasi.
“Kapan nikah?”
“Kok masih sendiri aja?”
“Sudah isi belum? Jangan ditunda-tunda.”
“Kerja di mana sekarang? Gajinya berapa?”, dan seterusnya.

Meskipun sering kali dilontarkan dengan niat baik, pertanyaan-pertanyaan ini tak jarang meninggalkan luka kecil di hati. Mengapa kita begitu sensitif terhadapnya? Ternyata, ini bukan sekadar soal sopan santun atau perasaan baper. Kebutuhan mendasar manusia untuk dihormati adalah jawabannya.

Fenomena ini menurut Francis Fukuyama, seorang ilmuwan politik dan filsuf, mengingatkan kita pada konsep Yunani kuno yang disebut _thymos_.

Baca juga  Walikota dan Wakil Walikota Bogor Shalat Idul Fitri di Kebun Raya

Dalam bukunya yang monumental, _The End of History and the Last Man,_ (1992) Fukuyama menjelaskan thymos sebagai bagian dari jiwa manusia yang membutuhkan pengakuan atas martabat dan harga dirinya.

Ini bukanlah keinginan sepele. Manusia, menurutnya, tidak hanya butuh makan atau tempat tinggal. Manusia memiliki dorongan universal untuk ingin dihormati.

Kita tidak hanya ingin dianggap ada, tetapi juga ingin nilai, pilihan, dan jalan hidup kita diakui oleh orang lain.

Ketika seseorang dalam suasana Idul Fitri bertanya, “Kok belum menikah juga di umur segini?”, “Kok belum isi (baca: hamil) juga?”, ” Kok belum punya rumah sendiri,” mereka secara tidak sadar sedang menyerang _thymos_ orang yang ditanya.

Pertanyaan sejenis itu, betapapun polosnya, membawa asumsi tersembunyi bahwa ada “standar keberhasilan” tertentu yang belum tercapai.

Martabatnya seolah direduksi menjadi status lajangnya, dan belum punya anaknya, mengabaikan pencapaian, kebahagiaan, atau perjuangan lain yang pernah diraih dalam hidupnya.

Momen lebaran yang seharusnya menjadi ajang pengakuan yang setara, di mana setiap individu dihargai, justru berisiko melukai harga diri jika diisi dengan penghakiman terselubung semacam itu.

Baca juga  Masyarakat Puncak Kecewa Revitalisasi Pasar Cisarua Tak Benuansa Wisata

Sementara menurut Axel Honneth, seorang filsuf Jerman dari Mazhab Frankfurt, mengatakan bahwa jati diri kita dibangun melalui “perjuangan untuk pengakuan” _(Struggle for recognition)._

Kita butuh pengakuan atas cinta. Rasa cinta yang tulus dari keluarga dan orang-orang terdekat, akan meningkatkan kepercayaan diri, diakui sebagai individu yang berharga, apa adanya, tanpa embel-embel apapun.

Momen silaturahmi lebaran idealnya adalah ranah pengakuan cinta. Namun, ketika pertanyaan yang menghakimi muncul, proses pengakuan atas cinta itu akan hilang, membuat seseorang merasa terasing.

Silaturahmi Idul Fitri idealnya adalah ranah “Cinta”. Keluarga berkumpul untuk meneguhkan kembali ikatan cinta, mengakui keberadaan setiap anggota keluarga tanpa syarat.

Seseorang yang ditanya “Kapan punya anak?”, “Kapan nikah?”, dan seterusnya, mungkin tidak lagi merasa diterima sepenuhnya, melainkan merasa kontribusinya pada keluarga atau nilai dirinya sedang dipertanyakan. Alih-alih merasa menjadi bagian dari keluarga, ia bisa merasa terasing dan merasa tidak dihargai.

Sabda Fukuyama dan Honneth menyadarkan kita bahwa kebutuhan untuk dihormati bukanlah ego atau kesombongan, melainkan fondasi dari kesehatan psikologis.

Apa yang diidentifikasi oleh dua filsuf di atas sebagai kebutuhan universal manusia, sejalan dengan konsep menjaga lisan dalam Islam. Diperkuat oleh hadis Rasulullah SAW: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976.

Baca juga  Presiden Minta Menko PMK Rapat Bahas Pengurangan Libur Akhir Tahun

Hadis ini menegaskan kita untuk fokus pada urusan kita sendiri, tidak mencampuri urusan pribadi orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan diri kita.

Mengorek-ngorek kehidupan pribadi seseorang—baik itu soal jodoh, keturunan, maupun rezeki, dan lain-lain—adalah contoh nyata dari perbuatan “yang tidak bermanfaat” dan harus ditinggalkan.

Maka, seruan untuk tidak “kepo” di hari lebaran memiliki makna filosofis yang dalam. Ini bukan sekadar menjaga perasaan, tetapi sebuah bentuk saling menghormati.

Idul Fitri, yang berarti kembali ke fitrah, seharusnya menjadi momen di mana kita mengakui martabat fitrah setiap insan. Caranya adalah dengan memberikan pengakuan tulus atas eksistensi dan jalan hidupnya, bukan dengan mengukurnya berdasarkan standar kita.

Dengan menahan diri dari pertanyaan yang invasif, kita tidak hanya menciptakan suasana yang lebih nyaman, tetapi juga mempraktikkan bentuk tertinggi dari silaturahmi, yaitu saling menghormati dengan ketulusan. (*)

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top