C-CARE LIDO Dorong Penguatan Kebijakan Berbasis Sains untuk Pemulihan Danau Lido
BOGOR-KITA.com, BOGOR – Upaya penyelamatan Danau Lido kini diarahkan pada penguatan kebijakan berbasis kolaborasi dan kajian ilmiah. Melalui Program LIDO BAGEUR, Bhumi Pasa Hijau–Danone Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPIK) IPB University menggelar forum C-CARE LIDO (Collaborative Action for Revitalization Ecosystem Lido) di Auditorium FPIK IPB, Kamis (29/1/2026).
Forum ini menjadi wadah strategis untuk memaparkan capaian awal program sekaligus mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor dalam merumuskan tata kelola Danau Lido yang lebih terpadu, berkelanjutan, dan berbasis data ilmiah.
Dekan FPIK IPB University, Prof. Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc., menekankan bahwa pengelolaan danau memerlukan kebijakan publik yang terkoordinasi dan berbasis sains. Menurutnya, meskipun Danau Lido merupakan danau buatan peninggalan masa kolonial, fungsinya kini sangat vital sebagai penyangga ekosistem, sumber penghidupan masyarakat, hingga sarana pendidikan.
“Danau Lido adalah sumber kehidupan. Air menjadi fondasi bagi pangan, kesejahteraan, dan keberlanjutan ekosistem. Karena itu, pengelolaannya harus dilakukan secara ilmiah dan didukung tata kelola yang bijak,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).
Direktur Utama Bhumi Pasa Hijau, Hariadi Propantoko, menyampaikan bahwa revitalisasi Danau Lido merupakan proses jangka panjang yang menuntut sinergi antara ilmu pengetahuan, masyarakat, dan kebijakan pemerintah. Ia menilai pendekatan sektoral tidak lagi relevan untuk menjawab kompleksitas permasalahan danau.
“Danau adalah ruang hidup bersama. Tanpa kolaborasi dan kebijakan yang terintegrasi, upaya pemulihan akan berjalan parsial dan sulit berkelanjutan,” katanya.
Dalam sesi diseminasi, tim Program LIDO BAGEUR memaparkan hasil kajian satu tahun pertama. Program Manager LIDO BAGEUR, Nevky Emiraj Saputra, menjelaskan bahwa studi baseline menunjukkan terjadinya perubahan signifikan tutupan lahan di daerah tangkapan air Danau Lido, yang berdampak pada meningkatnya erosi, pendangkalan, serta penurunan kualitas air.
“Permasalahan Danau Lido tidak hanya terjadi di badan air, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh tata guna lahan di wilayah sekitarnya. Karena itu, intervensi harus berbasis data dan selaras dengan kebijakan tata ruang serta pengelolaan lingkungan,” jelasnya.
Ia menambahkan, selama satu tahun implementasi awal, program telah mulai mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui praktik budidaya perikanan rendah residu serta pengelolaan sampah di kawasan danau.
Sementara itu, Ketua Kelompok Plasma Lido Jaya, Nurjaman, menyatakan kesiapan masyarakat untuk beralih ke praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan. Namun, ia menegaskan perlunya pendampingan teknis berkelanjutan serta kepastian kebijakan agar mata pencaharian warga tetap terjaga.
Pada kesempatan tersebut juga diluncurkan Modul KEJARR (Keramba Jaring Apung Rendah Residu) sebagai panduan teknis budidaya perikanan berbasis daya dukung perairan. Selain itu, dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Bhumi Pasa Hijau dan FPIK IPB dalam rangka pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan forum multipihak yang melibatkan pengelola danau, pemerintah daerah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, serta perwakilan masyarakat.
Forum ini menyepakati tiga arah kebijakan utama, yaitu penguatan dan sinkronisasi kebijakan pengelolaan Danau Lido secara terpadu, pembentukan kelembagaan lintas sektor melalui forum komunikasi multipihak, serta pengembangan skema pendanaan yang transparan dan berkelanjutan.
Melalui C-CARE LIDO, seluruh pihak menegaskan komitmen bersama untuk menjadikan Danau Lido sebagai contoh pengelolaan danau berbasis kolaborasi, sains, dan kebijakan publik yang terintegrasi. [] Ricky
