Kab. Bogor

Harga Daging Sapi Melonjak, Pedagang di Rumpin dan Parungpanjang Keluhkan Sepi Pembeli

BOGOR-KITA.com, RUMPIN–PARUNG PANJANG — Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional wilayah Kabupaten Bogor terus mengalami kenaikan signifikan dan dinilai sudah tidak terkendali. Kondisi ini dikeluhkan para pedagang daging eceran hingga penjual warung nasi karena berdampak langsung pada menurunnya jumlah pembeli dan omset penjualan.

Di Pasar Cicangkal, Kecamatan Rumpin, pedagang daging mengaku kenaikan harga sudah terjadi sejak dari tingkat rumah pemotongan hewan (jagal). Nurjen, salah seorang pedagang daging, mengatakan harga beli dari jagal naik cukup tinggi sejak beberapa hari terakhir sehingga memaksa pedagang menaikkan harga jual eceran.

“Kami beli di jagal harganya sudah naik cukup tinggi, jadi harga eceran otomatis ikut naik. Dampaknya pembeli sepi dan omset turun drastis,” ujar Nurjen, Kamis (22/1/2026).

Baca juga  Apa Kabar Pemekaran Bogor Barat?

Kepala Unit Pasar Cicangkal Rumpin, Yusron, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut harga daging sapi eceran di pasar sudah naik dan berpotensi kembali mengalami kenaikan.

“Pedagang sudah mulai mengeluh karena ada kabar harga daging bisa naik lagi dari 120 ribu sampai 140 ribu rupiah per kilogram,” katanya.

Kenaikan harga daging juga dirasakan penjual makanan. Euis, pedagang nasi di wilayah Cicangkal Rumpin, mengaku terpaksa menghentikan menu olahan daging sapi di warungnya karena khawatir tidak laku.

“Harga daging makin mahal, sekarang sudah 140 ribu per kilo. Saya jadi nggak beli dan nggak masak daging dulu,” ungkapnya.

Sementara itu, kondisi serupa terjadi di Pasar Parungpanjang. Sejumlah pedagang daging sapi eceran bahkan memilih berhenti sementara atau mogok berjualan karena harga yang terus merangkak naik dan minimnya pembeli. Kios-kios daging terlihat lengang.

Baca juga  Warga Parungpanjang Beri Dukungan KDM Tutup Sementara Galian Tambang

“Kami berhenti dulu berjualan karena harga daging terus naik dan pembeli sepi. Harapannya harga bisa kembali normal,” ujar Endin, pedagang daging di Pasar Parungpanjang.

Pedagang lainnya, Aseh Saefudin, yang juga memiliki tempat pemotongan hewan, menjelaskan kenaikan harga dipicu oleh naiknya harga sapi dari tingkat pemasok. Hal ini berdampak langsung pada harga dari jagal ke pedagang eceran.

“Biasanya harga dari RPH sekitar 90 ribu per kilo, sekarang sudah naik jadi 110 sampai 120 ribu. Pedagang jadi kelimpungan menjualnya,” jelas Aseh.

Menurutnya, saat harga eceran berada di angka 120 ribu rupiah per kilogram saja pembeli sudah sepi, apalagi jika nantinya naik hingga 140 atau 150 ribu rupiah. Kondisi ini semakin berat mengingat mayoritas pembeli di Pasar Parungpanjang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Baca juga  NU Milad ke 102, Ketua DPRD Sastra Winara Ucapkan Terimakasih Sudah Menjaga Bangsa dan Agama

Para pedagang daging dan penjual makanan berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga, terutama menjelang bulan suci Ramadan.

“Jangan sampai menjelang puasa harga daging dan bahan pokok lainnya terus naik. Kasihan pedagang dan masyarakat,” pungkas Euis. [] Fahry

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top